Amazon Siap Luncurkan Layanan Internet Satelit Leo Akhir Tahun Ini
Baca dalam 60 detik
- Amazon akan memulai layanan perdana internet satelit Leo pada 2025 setelah meluncurkan 398 satelit, dengan 394 di antaranya sudah beroperasi.
- Konstelasi Leo Amazon menjadi pesaing baru Starlink milik SpaceX, yang telah memiliki sekitar 10.000 satelit di orbit.
- Amazon menghadapi tantangan pasokan roket setelah ledakan New Glenn dan masalah teknis Vulcan, yang berpotensi menunda ekspansi jaringan.

Amazon mengumumkan akan memulai layanan perdana internet satelit melalui jaringan Leo (Low Earth Orbit) pada akhir tahun ini, setelah peluncuran terbaru membawa jumlah satelit di orbit mendekati 400 unit. Langkah ini menandai babak baru dalam persaingan bisnis internet satelit global yang selama ini didominasi oleh Starlink milik SpaceX.
Peluncuran ke-14 dilakukan pada Kamis (2/7) dini hari waktu Florida menggunakan roket Atlas V milik United Launch Alliance (ULA), membawa 29 satelit tambahan. Dengan total 398 satelit yang telah diluncurkan sejak April 2025, Amazon menargetkan memiliki lebih dari 3.200 satelit untuk mencakup seluruh permukaan bumi. Chris Weber, kepala divisi Leo Amazon, menyatakan dalam unggahan di X bahwa jumlah satelit yang ada saat ini sudah cukup untuk memulai layanan awal, meskipun masih diperlukan penyesuaian orbit.
Menurut pengamat antariksa dan astronom Harvard, Jonathan McDowell, dari 398 satelit yang diluncurkan, 394 di antaranya telah beroperasi di orbit. Amazon belum mengungkapkan secara spesifik wilayah mana yang akan menjadi pasar perdana, namun layanan diperkirakan akan dimulai dari daerah sekitar kutub utara dan selatan, lalu meluas secara bertahap menuju khatulistiwa seiring bertambahnya satelit.
Amazon Leo dirancang untuk melayani konsumen rumahan, pemerintah, dan perusahaan seperti maskapai penerbangan. Terminal Leo akan tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari sebesar laptop hingga versi yang lebih besar dan bertenaga. Langkah ini menempatkan Amazon sebagai pesaing langsung Starlink, yang telah menguasai pasar dengan lebih dari 10.000 satelit dan jutaan pelanggan di seluruh dunia.
Namun, ambisi Amazon menghadapi kendala serius di sisi peluncuran. Rencana awal menargetkan layanan komersial pada pertengahan 2026, tetapi kemajuan peluncuran mempercepat jadwal. Meski Atlas V menjadi andalan, dua roket lain yang diandalkan Amazon—New Glenn milik Blue Origin dan Vulcan milik ULA—sedang mengalami masalah. New Glenn meledak di landasan peluncuran bulan lalu, menghancurkan menara peluncuran dan perangkat keras lainnya. CEO Blue Origin, Dave Limp, memperkirakan roket tersebut bisa kembali terbang pada akhir tahun setelah investigasi pada bagian mesin selesai.
Sementara itu, roket Vulcan yang dipesan untuk setidaknya 40 misi Leo juga terhenti karena masalah pemisahan motor roket padat yang terdeteksi pada Februari. Vulcan menggunakan mesin BE-4 buatan Blue Origin yang sama dengan New Glenn. Jika investigasi menemukan bahwa mesin BE-4 menjadi penyebab ledakan New Glenn, maka jadwal kembalinya Vulcan bisa semakin tertunda. Juru bicara ULA, Jessica Rye, mengatakan bahwa tim Blue Origin bersikap transparan dalam investigasi dan akan berkolaborasi jika ada komponen yang saling terkait.
Amazon telah memesan sekitar 100 peluncuran roket dengan nilai total US$82 miliar dari berbagai penyedia, termasuk Arianespace (Ariane 6) dan SpaceX (Falcon 9). Ketergantungan pada Falcon 9 milik SpaceX, yang merupakan pesaing langsung di bisnis internet satelit, menjadi ironi tersendiri. Namun, Amazon tampaknya tidak punya pilihan lain mengingat keterbatasan roket alternatif.
Bagi Indonesia, kehadiran Amazon Leo membuka peluang baru dalam perluasan akses internet di daerah terpencil dan kepulauan. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada satelit asing seperti Starlink dan satelit pemerintah sendiri. Jika Amazon Leo beroperasi penuh, persaingan harga dan kualitas layanan bisa meningkat, menguntungkan konsumen dan bisnis lokal. Namun, tantangan regulasi dan infrastruktur bumi masih perlu diantisipasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Amazon mampu mengatasi kendala peluncuran dan mengejar ketertinggalan dari Starlink. Dengan investasi puluhan miliar dolar, Amazon memiliki modal kuat, tetapi waktu dan keandalan roket menjadi faktor penentu. Akankah Amazon Leo menjadi pemain utama kedua di pasar internet satelit, atau justru tersendat oleh masalah teknis yang tak kunjung usai?



