Ketergantungan pada Harry Kane: Bom Waktu di Skuad Inggris Menuju Piala Dunia
Baca dalam 60 detik
- Harry Kane kembali menjadi penyelamat Inggris saat mengalahkan DR Kongo 2-1, namun performa tim secara keseluruhan masih jauh dari meyakinkan.
- Alan Shearer menyoroti kerentanan lini belakang Inggris dan minimnya kontribusi pemain lain selain Kane dan Jude Bellingham.
- Menghadapi Meksiko di babak 16 besar, Inggris harus segera menemukan solusi kolektif agar tidak bergantung sepenuhnya pada sang kapten.

Harry Kane sekali lagi menjadi juru selamat Inggris di Piala Dunia 2026. Dua golnya dalam rentang 11 menit membalikkan keadaan saat timnya nyaris dipermalukan DR Kongo di babak 32 besar, Rabu (2/7) waktu setempat. Namun, di balik kemenangan 2-1 itu, pertanyaan besar mengemuka: sejauh mana Inggris bisa melaju jika hanya Kane yang konsisten mampu mengubah tekanan menjadi gol?
Pertandingan di Kansas City, Missouri, itu memperlihatkan pola yang sudah berulang sejak fase grup. Inggris memang belum terkalahkan, tapi penampilan mereka jauh dari kata meyakinkan. Serangan seringkali kehilangan ritme, lini belakang yang diganggu cedera tampak rentan, dan terlalu sering Kane harus menjadi solusi ketika permainan kolektif mandek. Mantan kapten Inggris Alan Shearer, dalam analisisnya untuk BBC, menegaskan kekhawatiran yang sama. "Itu bukan performa bagus, dan saya punya kekhawatiran yang sama seperti di dua atau tiga pertandingan sebelumnya soal pertahanan kami," ujarnya.
Gol kedua Kane, yang dicetak dengan putaran tubuh dan tendangan keras ke pojok atas gawang, mendapat pujian khusus dari Shearer. "Tidak banyak penyerang tengah di dunia yang bisa menghasilkan sihir seperti itu. Cara dia berputar dan keseimbangannya luar biasa. Lalu mendapatkan arah dan kekuatan ke pojok atas gawang—itu tembakan yang hebat," puji Shearer. Namun, sepak bola knockout punya cara tersendiri untuk mengekspos ketergantungan berlebihan pada satu pemain. Lawan semakin kuat, margin semakin tipis, dan pada akhirnya, pemain penentu kemenangan sekalipun bisa diredam.
Salah satu titik terang adalah performa Jude Bellingham. Gelandang muda itu menjadi motor serangan Inggris melawan DR Kongo, terus mendorong tim maju dan menciptakan peluang yang sayangnya gagal dimanfaatkan rekan setimnya. Shearer menilai Bellingham dan Kane adalah dua pemain terpenting Inggris saat ini. "Bellingham sangat tidak beruntung, andai bukan karena penyelamatan gemilang kiper lawan. Dialah yang terus berusaha mendorong tim ke depan," kata Shearer. Namun, dukungan dari pemain lain seperti Bukayo Saka, Phil Foden, atau Declan Rice masih belum konsisten.
Perbandingan dengan tim lain seperti Prancis menjadi relevan. Kylian Mbappe bersinar, namun ia dikelilingi pemain-pemain penentu kemenangan seperti Ousmane Dembele, Michael Olise, dan Desire Doue. Ancaman serangan datang dari berbagai sisi lapangan. Inggris belum memiliki kedalaman seperti itu. Jika ingin melaju jauh, Thomas Tuchel harus segera menemukan formula agar pemain di sekitar Kane ikut berkontribusi secara signifikan.
Bagi Indonesia, ketergantungan Inggris pada Kane bisa menjadi pelajaran. Timnas Indonesia, yang juga berambisi tampil di Piala Dunia, harus membangun skuad dengan distribusi beban gol yang merata, tidak hanya bergantung pada satu bintang. Kegagalan Inggris di masa lalu akibat terlalu bergantung pada Wayne Rooney atau David Beckham adalah contoh nyata. Kini, Inggris kembali menghadapi dilema serupa. Menghadapi Meksiko di babak 16 besar—dengan tantangan altitude Kota Meksiko dan intensitas knockout—akan menjadi ujian sesungguhnya. Mampukah pemain selain Kane bangkit, atau Inggris akan kembali pulang lebih awal karena ketergantungan yang tak terselesaikan?



