Tonali ke Tottenham, Newcastle Terjepit Regulasi Keuangan: Nasib Klub Lapis Kedua Premier League?
Baca dalam 60 detik
- Newcastle United melepas Sandro Tonali ke Tottenham dengan nilai hingga £100 juta, menyusul kepergian Alexander Isak dan Anthony Gordon dalam setahun terakhir.
- Klub terpaksa menjual bintangnya untuk mematuhi aturan profitabilitas dan keberlanjutan (PSR) Premier League serta regulasi finansial UEFA, yang membatasi belanja hingga 70% pendapatan bagi peserta Eropa.
- Ketidakselarasan aturan antara Premier League (rasio biaya skuad hingga 85%) dan UEFA (70%) menjebak klub seperti Newcastle dalam siklus sulit: berinvestasi untuk lolos Eropa, lalu dipaksa memangkas pengeluaran.

Newcastle United kembali kehilangan pilar utamanya. Sandro Tonali, gelandang asal Italia yang baru setahun membela The Magpies, dilaporkan akan pindah ke Tottenham Hotspur dengan nilai transfer mencapai £100 juta. Kepergian ini bukan sekadar keputusan taktik atau ambisi pemain, melainkan buah dari tekanan regulasi keuangan yang kian menjepit klub di luar enam besar Premier League.
Dalam 12 bulan terakhir, Newcastle telah kehilangan tiga nama penting: Alexander Isak yang memaksa hengkang ke Liverpool dengan rekor Inggris £125 juta, Anthony Gordon yang dilego £69 juta ke Barcelona, dan kini Tonali. Padahal, musim 2024/2025 mereka baru saja mengakhiri paceklik gelar domestik selama 70 tahun dengan menjuarai Carabao Cup. Kini, setelah finis di peringkat ke-12 Premier League musim lalu, klub justru harus membangun kembali dari awal.
Tekanan utama datang dari dua aturan sekaligus: Profit and Sustainability Rules (PSR) Premier League dan Financial Sustainability Regulations (FSR) UEFA. Newcastle telah melanggar FSR UEFA dan mencapai kesepakatan kepatuhan penuh. Konsekuensinya, mereka harus menjaga rasio biaya skuad terhadap pendapatan tidak lebih dari 70% jika ingin tampil di kompetisi Eropa. Ironisnya, Premier League mengizinkan klub non-Eropa membelanjakan hingga 85% pendapatan, bahkan bisa 115% dengan denda ringan. Ketidakcocokan ini membuat Newcastle terjebak: untuk bisa bersaing di Eropa, mereka harus berinvestasi besar, tetapi setelah lolos, mereka harus memangkas belanja drastis.
Analis keuangan sepak bola Kieran Maguire menilai Newcastle berada di "sisi sejarah yang salah". Chelsea era Roman Abramovich atau Manchester City era Sheikh Mansour tidak menghadapi kendala seperti ini karena aturan PSR dan SCR belum ada. "Klub-klub itu bisa merugi sebanyak yang mereka mau asal pemilik setuju. Jika pembelian gagal, mereka bisa menjual atau membiarkan pemain itu duduk di bangku cadangan dengan gaji tinggi, lalu membeli pemain baru," ujar Maguire. Kini, fleksibilitas semacam itu tidak lagi dimiliki Newcastle.
Dampak dari ketidakselarasan regulasi ini tidak hanya dirasakan Newcastle. Klub papan tengah seperti Everton, Fulham, dan Leeds United, dengan kekuatan finansial dari hak siar TV Inggris, bisa bersaing dengan raksasa Eropa seperti AC Milan, Borussia Dortmund, atau Juventus dalam perburuan pemain. UEFA khawatir hal ini memicu inflasi pasar transfer. Lebih jauh, klub yang lolos ke Eropa pada 2026/2027 dengan rasio biaya 85% harus tiba-tiba memenuhi aturan 70% UEFA pada tahun berikutnya. Siklus ini bisa berulang, menciptakan "lingkaran setan" denda dan kepatuhan yang hanya bisa dihindari oleh klub dengan pendapatan komersial besar seperti Manchester United dan Tottenham.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan mengingat banyak pemain dan klub Indonesia yang mulai terhubung dengan ekosistem sepak bola Eropa. Regulasi keuangan yang ketat bisa membatasi peluang klub-klub Eropa untuk merekrut pemain dari Asia, termasuk Indonesia, karena biaya transfer dan gaji harus lebih diperhitungkan. Sebaliknya, klub-klub Inggris yang kesulitan memenuhi aturan mungkin lebih agresif mencari pemain muda berbakat dari pasar berkembang dengan harga lebih murah—seperti langkah Newcastle yang mendekati winger Pantai Gading Bazoumana Toure dari Hoffenheim.
Newcastle kini harus membangun ulang skuad sambil menutup celah pendapatan. Mereka tidak bisa mengulangi kesalahan musim panas lalu, ketika belanja bersih lebih dari £100 juta hanya menghasilkan sedikit dampak langsung selain bek Malick Thiaw. Pertanyaan besarnya: mampukah Newcastle dan klub-klub sejenis bertahan di tengah pusaran regulasi yang saling bertabrakan, ataukah mereka akan terus menjadi "korban" dari sistem yang dirancang untuk melindungi klub-klub kaya?



