Amy Lee: Sisterhood di Rock dan Metal Bukan Mitos, Ini Nyata
Baca dalam 60 detik
- Vokalis Evanescence, Amy Lee, menegaskan bahwa perempuan di genre rock dan metal saling mendukung, bukan bersaing secara negatif.
- Tur terbaru Evanescence menghadirkan deretan musisi perempuan seperti Nova Twins, Spiritbox, dan Poppy, menjadi bukti solidaritas di atas panggung.
- Menurut Amy, bakat dan kerja keras tetap menjadi kunci utama, namun dukungan sesama perempuan semakin membuka ruang inklusivitas di industri musik.

Vokalis Evanescence, Amy Lee, kembali menegaskan bahwa solidaritas antarsesama perempuan di dunia rock dan metal bukanlah sekadar retorika. Dalam wawancara terbaru, ia menyebut komunitas perempuan di genre tersebut sebagai "sisterhood" yang terus tumbuh dan saling mendorong untuk maju. Pernyataan ini muncul di tengah tur Evanescence yang justru menghadirkan sederet musisi perempuan sebagai bintang tamu.
Berbicara dalam The Mistress Carrie Podcast, Amy Lee mengungkapkan kegembiraannya melihat perempuan mendominasi tangga lagu rock aktif. "Kami sempat menempati posisi nomor satu, dan The Pretty Reckless di nomor dua. Saya pikir, 'Keren banget, kan?' Perempuan di puncak. Sangat keren," ujarnya. Momen ini, menurut Amy, menunjukkan bahwa persepsi lama tentang persaingan tidak sehat di antara perempuan di industri musik perlahan terkikis.
Selama bertahun-tahun, stereotip "catfight" atau pertikaian di belakang panggung kerap digunakan untuk melemahkan posisi perempuan di musik keras. Namun, Amy Lee menepis anggapan itu. "Itu alat yang dulu dipakai untuk menjatuhkan kamiโgagasan bahwa hanya ada satu yang bisa menonjol dan sisanya saling menjatuhkan. Kenyataannya tidak seperti itu," tegasnya. Menurutnya, semakin banyak perempuan yang melihat solidaritas nyata, semakin besar pula keberanian mereka untuk bergabung.
Tur terbaru Evanescence untuk album Sanctuary menjadi panggung nyata solidaritas tersebut. Setiap malam, Amy Lee mengajak seluruh musisi tamuโNova Twins, Spiritbox, Poppy, dan K.Flayโnaik ke panggung untuk membawakan lagu "Fight Like A Girl". "Itu momen yang paling manis. Benar-benar," katanya. Bagi Amy, momen ini bukan sekadar pertunjukan, melainkan pernyataan bahwa perempuan di musik berat bisa saling mengangkat.
Meski menekankan pentingnya dukungan, Amy Lee tidak menafikan peran bakat dan etos kerja. "Jika kamu ingin berhasil, tidak bisa hanya karena kamu perempuan. Harus benar-benar pekerja keras dan berbakat. Seperti kata pepatah di New York, 'Buktinya ada pada puding,'" ujarnya. Ia menilai standar tinggi justru membuat komunitas ini semakin kuat dan kredibel.
Fenomena ini relevan pula bagi industri musik Indonesia. Di tengah maraknya festival musik yang mulai memberikan panggung lebih besar bagi musisi perempuan, semangat "sisterhood" ala Amy Lee bisa menjadi inspirasi. Kolaborasi antarmusisi perempuan di Indonesia, seperti dalam proyek "Musik Wanita" atau festival khusus perempuan, menunjukkan tren serupa. Namun, masih ada pekerjaan rumah untuk mengikis stereotip bahwa perempuan di musik keras harus bersaing secara tidak sehat.
Ke depan, Amy Lee berharap semakin banyak perempuan yang merasa diterima di industri ini. "Semakin mereka melihat bahwa kenyataannya tidak seperti yang digambarkan dulu, semakin mereka merasa akan diterima ketika datang," pungkasnya. Dengan tur yang masih berlanjut, Evanescence tidak hanya menghibur, tetapi juga membuktikan bahwa solidaritas perempuan di atas panggung bukanlah mitos.



