Komentar Kontroversial soal Putri Aiko Memantik Perdebatan Suksesi Kekaisaran Jepang
Baca dalam 60 detik
- Anggota parlemen LDP Hirofumi Nakasone menarik pernyataan bahwa Putri Aiko tidak mungkin naik takhta dan pernyataan kontroversial soal pernikahannya.
- Pernyataan Nakasone memicu kecaman dari partai oposisi dan pejabat pemerintah, berpotensi mengganggu diskusi revisi Undang-Undang Rumah Tangga Kekaisaran.
- Kasus ini menyoroti ketegangan antara tradisi suksesi laki-laki dan desakan reformasi di Jepang, relevan dengan diskusi kesetaraan gender di Indonesia.

Seorang anggota parlemen senior Jepang terpaksa menarik kembali pernyataan kontroversialnya yang menyebut Putri Aiko, putri sulung Kaisar Naruhito, tidak mungkin mewarisi takhta. Pernyataan yang disampaikan dalam pidato di Toyama pada 28 Juni itu juga menyinggung soal prospek pernikahan sang putri yang dinilai tidak pantas, memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan politik.
Hirofumi Nakasone, politikus Partai Demokrat Liberal (LDP) yang duduk sebagai perwakilan partai dalam sidang paripurna kedua majelis, mengakui pada 29 Juni bahwa pilihan katanya tidak tepat. Dalam pidato awalnya, ia menyatakan bahwa "mustahil" bagi Putri Aiko untuk menjadi kaisar, dan menambahkan bahwa jika ia naik takhta, "tidak akan ada yang mau menikahinya" serta akan menghadapi tekanan besar untuk melahirkan anak laki-laki.
Pernyataan itu langsung menuai reaksi keras. Seorang anggota Aliansi Reformasi Sentris menilai ucapan Nakasone "tidak layak dikomentari" dan seharusnya segera ditarik. Sementara itu, politikus Partai Demokrat untuk Rakyat menekankan bahwa topik yang menyangkut Keluarga Kekaisaran dan Putri Aiko membutuhkan kehati-hatian ekstrem, dan Nakasone tidak bisa lepas dari kritik atas kecerobohannya.
Nakasone kemudian mundur dari pernyataannya. Di hadapan wartawan, ia menjelaskan bahwa perkataannya merujuk pada ketentuan hukum yang berlaku, bukan opini pribadi. Ia mengakui kata "mustahil" tidak tepat, dan mengoreksi pernyataan soal tekanan melahirkan anak laki-laki menjadi "anak" tanpa spesifikasi gender. Namun, ia tetap menyebut kekhawatiran pribadinya bahwa perhatian publik yang besar terhadap Putri Aiko dapat mempersulit kehidupan pernikahannya.
Komentar Nakasone muncul di saat sensitif, menjelang keputusan kabinet terkait revisi UU. Seorang pejabat senior kantor perdana menteri menyatakan ketidaksenangan, menyebut pernyataan itu "tidak sopan" dan berharap Nakasone diam. Fumitake Fujita, pimpinan bersama Partai Inovasi Jepang, menilai bahwa meskipun Nakasone menyampaikan pemahaman yang benar, tambahan komentar yang tidak perlu sangat tidak pantas.
Bagi Indonesia, perdebatan suksesi kekaisaran Jepang ini relevan dengan isu kesetaraan gender dalam kepemimpinan tradisional. Meskipun Indonesia tidak memiliki sistem monarki, diskusi tentang hak perempuan dalam suksesi kepemimpinan adat atau keagamaan masih kerap muncul. Kasus Nakasone mengingatkan bahwa norma patriarki masih kuat di beberapa negara maju sekalipun, dan perubahan hukum seringkali berjalan lambat karena tekanan tradisi.
Ke depan, insiden ini berpotensi mengganggu iklim diskusi di Parlemen Jepang yang diharapkan berlangsung "tenang dan terkendali". Jika oposisi semakin mengeras, proses revisi UU bisa terhambat. Pertanyaan besarnya: apakah Jepang siap mengakhiri tradisi suksesi laki-laki yang telah berusia lebih dari satu abad, atau justru akan semakin terbelah oleh isu gender?



