Belgium Bangkit Lagi: Comeback Dramatis ke-2 di Piala Dunia Usai
Baca dalam 60 detik
- Belgia menang 3-2 atas Senegal setelah tertinggal 2-0 di menit 85, mengulangi keajaiban comeback melawan Jepang di Piala Dunia 2018.
- Youri Tielemans menjadi pahlawan dengan gol penalti di menit 125, gol terakhir yang pernah dicetak di babak gugur Piala Dunia.
- Kemenangan ini membawa Belgia ke babak 16 besar melawan tuan rumah AS, dengan modal kepercayaan diri tinggi setelah comeback epik.

Delapan tahun setelah comeback legendaris melawan Jepang, Belgia kembali menulis ulang sejarah Piala Dunia dengan dramatis. Tertinggal 2-0 dari Senegal hingga menit 85 di Seattle, tim berjuluk Setan Merah itu bangkit dan menang 3-2 melalui gol penalti Youri Tielemans pada menit 125 โ gol terakhir yang pernah tercatat di babak gugur turnamen. Kemenangan ini tidak hanya menyelamatkan mereka dari eliminasi, tetapi juga mengirim sinyal bahwa mental juara 2018 masih hidup.
Pertandingan melawan Senegal nyaris menjadi mimpi buruk bagi Belgia. Sepanjang babak pertama dan awal babak kedua, Senegal tampil dominan dan unggul dua gol. Namun, seperti yang terjadi di Rusia 2018, Belgia tidak pernah menyerah. Romelu Lukaku memulai kebangkitan pada menit 86 dengan menyambar umpan silang Thomas Meunier. Hanya tiga menit berselang, Tielemans menyamakan kedudukan setelah kiper Senegal, Mory Diaw, gagal mengamankan bola. Skor 2-2 bertahan hingga waktu normal usai, memaksa perpanjangan waktu.
Di babak tambahan, kedua tim saling jual beli serangan. Belgia akhirnya mendapat hadiah penalti setelah Tielemans dilanggar di kotak terlarang. Ia sendiri yang maju sebagai eksekutor dan menuntaskannya dengan tenang. Gol itu menjadi penentu kemenangan sekaligus memecahkan rekor sebagai gol terakhir yang pernah dicetak di Piala Dunia โ melampaui catatan sebelumnya yang juga dipegang Belgia saat melawan Jepang.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Belgia ini mengingatkan pada semangat pantang menyerah yang kerap menjadi ciri khas tim-tim besar. Di tengah dominasi negara-negara Amerika Latin dan Eropa, Belgia membuktikan bahwa determinasi bisa mengubah segalanya. Pelatih timnas Indonesia pun bisa mengambil pelajaran: mentalitas tidak pernah menyerah adalah aset berharga, terutama saat menghadapi lawan yang lebih diunggulkan.
Kiper Belgia Thibaut Courtois, yang juga menjadi bagian dari comeback 2018, mengakui kemiripan kedua pertandingan. "Satu gol bisa mengubah segalanya dalam sepak bola. Itu yang terjadi hari ini, dan saya bangga tim terus percaya," ujarnya kepada FIFA usai laga. Sementara itu, Romelu Lukaku bercanda, "Sejujurnya, saya muak dengan pertandingan seperti ini," merujuk pada drama yang terus menghampiri timnya.
Kemenangan ini membawa Belgia ke babak 16 besar, di mana mereka akan menghadapi tuan rumah Amerika Serikat. Bermain di kandang lawan jelas bukan tugas mudah. Namun, jika ada satu hal yang dipelajari dari dua comeback ini, Belgia tidak boleh dianggap remeh. Eden Hazard, yang pensiun dari tim nasional, pernah berkomentar tentang momen 2018: "Kami menerima video-video suporter yang bergembira, dan itu membuat kami berpikir, 'kami harus terus berjuang untuk mereka.'"
Pertanyaan besarnya kini: mampukah Belgia mengulangi pencapaian 2018, finis di posisi ketiga, atau bahkan lebih? Dengan kepercayaan diri yang melambung setelah comeback ini, bukan tidak mungkin Setan Merah kembali menjadi momok bagi lawan-lawannya. Satu hal yang pasti, mereka telah menunjukkan bahwa keajaiban memang bisa terjadi dua kali.



