Jet Mewah Qatar Rp6,2 Triliun Jadi Air Force One: Gaya Trump di Udara
Baca dalam 60 detik
- Donald Trump menggunakan jet Boeing 747-800 hibah Qatar senilai US$400 juta sebagai Air Force One sementara, menggantikan pesawat era Perang Dingin.
- Pesawat ini hanya dimodifikasi untuk penerbangan domestik, tanpa sistem pertahanan rudal dan komunikasi canggih seperti pesawat kepresidenan standar.
- Keputusan menerima hadiah dari negara asing memicu perdebatan etika, namun Trump membelanya sebagai bentuk hubungan baik bilateral.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk pertama kalinya menerbangkan pesawat kepresidenan baru yang merupakan jet Boeing 747-800 hasil retrofit dari Qatar, menandai perubahan gaya kepemimpinan yang lebih personal dalam simbol negara. Pesawat senilai US$400 juta atau sekitar Rp6,2 triliun itu membawa Trump ke North Dakota, Rabu (1/7), dalam kunjungan ke perpustakaan kepresidenan Theodore Roosevelt.
Jet yang dihadiahkan oleh pemerintah Qatar ini memiliki cat khas Trump: perut biru tua dengan garis merah dan emas, menggantikan warna biru muda klasik Air Force One. Interiornya dilengkapi karpet mewah, kursi yang bisa direbahkan, panel kayu, dan segel kepresidenan di sabuk pengaman. "Anda bisa melakukannya dengan rendah hati, atau Anda bisa menunjukkannya," ujar Trump kepada wartawan, bangga dengan kemewahan pesawatnya.
Namun, pesawat ini hanya dimaksudkan sebagai solusi sementaraโjembatan antara armada Boeing yang sudah berusia 36 tahun dan dua pesawat baru yang dijadwalkan baru akan dikirim pada 2028. Trump memerintahkan pesawat ini disiapkan dalam waktu singkat setelah kembali ke Gedung Putih tahun lalu, sehingga modifikasi yang dilakukan terbatas.
Jeremiah Gertler, analis senior Teal Group, menilai bahwa ketiadaan sistem pertahanan dan antena yang lebih sedikit menunjukkan jet ini hanya cocok untuk operasi dalam negeri. "Jika Anda akan melakukan perjalanan jauh, Anda membawa mobil besar dan mewah, tetapi jika hanya berkeliling kota, Anda puas dengan yang lebih sederhana. Ini tampaknya model domestik saja," katanya. Gertler menambahkan, percepatan dan penghematan biaya menyebabkan pengurangan fitur.
Angkatan Udara AS membantah adanya risiko keamanan, menyatakan konversi cepat dilakukan "tanpa mengorbankan keamanan, keselamatan, atau komunikasi aman". Namun, mereka mengakui bahwa beberapa modifikasi rumit sengaja dikecualikan untuk pesawat sementara ini. Foto interior yang dibagikan staf Trump di media sosial memperlihatkan ruang rapat dengan meja bundar, kursi kapten kulit, dan bantal bermerek Air Force One.
Bagi Indonesia, kisah ini menjadi pengingat bagaimana kekuasaan dan diplomasi bisa berpadu dalam bentuk hadiah kenegaraan. Meskipun Indonesia tidak memiliki tradisi menghadiahkan pesawat kepresidenan, praktik penerimaan hadiah dari negara asing selalu memicu diskusi tentang etika dan transparansi. Di tengah upaya modernisasi armada kepresidenan, langkah Trump justru memilih jalan pintas yang mengutamakan simbolisme daripada kesiapan tempur penuh.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah jet sementara ini akan benar-benar digunakan untuk perjalanan internasional, seperti rencana Trump menghadiri KTT NATO di Turki pekan depan. Jika ya, maka keterbatasan sistem pertahanan bisa menjadi risiko nyata. Ataukah ini hanya pajangan politik yang akan berakhir di perpustakaan kepresidenan, seperti yang pernah dikatakan Trump sebelumnya?



