Ujian Berharga Inggris: Pelajaran dari Laga Sengit Lawan DR Congo
Baca dalam 60 detik
- DR Congo mengubah formasi menjadi 4-4-2, mengekspos kelemahan pressing tinggi Inggris dan menyulitkan lini tengah.
- Tuchel menemukan solusi taktis di babak kedua dengan memindahkan Rice ke bek kanan dan Bellingham ke kiri, menciptakan harmoni baru.
- Menghadapi Meksiko yang belum kebobolan, Inggris harus memilih antara bertahan kompak atau menekan dengan penyesuaian spesifik.

Dua gol Harry Kane di penghujung laga menyelamatkan Inggris dari kekalahan memalukan melawan DR Congo, tim peringkat 46 dunia. Namun, skor akhir 2-1 tidak sepenuhnya mencerminkan betapa dominannya permainan lawan yang mengubah formasi menjadi 4-4-2, sebuah kejutan taktis yang membuat pasukan Thomas Tuchel limbung sepanjang pertandingan.
DR Congo, di bawah asuhan Sebastien Desabre, tidak sekadar bertahan. Mereka memanfaatkan kiper sebagai pemain lapangan tambahan saat membangun serangan dari belakang, menciptakan keunggulan jumlah di lini tengah yang membuat duet pressing Harry Kane dan Jude Bellingham tidak efektif. Bek sayap DR Congo melebar, menarik Marcus Rashford dan Noni Madueke keluar dari posisi, sehingga celah di antara lini pertahanan Inggris terbuka lebar. Gelandang seperti Declan Rice dan Elliott Anderson kerap ditarik ke sisi lapangan, meninggalkan ruang kosong yang dieksploitasi pemain sayap lawan.
Masalah ini mengingatkan pada pola yang diterapkan Meksiko, calon lawan Inggris di babak 16 besar. Meksiko, dengan formasi 4-3-3, juga gemar memanfaatkan lebar lapangan dan rotasi untuk membuka jalur operan. Striker Raul Jimenez, seperti halnya pemain DR Congo, kerap turun ke lini tengah untuk menerima bola tanpa kawalan. Inggris harus segera menemukan solusi, karena Meksiko belum sekalipun kebobolan di turnamen ini.
Tuchel mengakui bahwa timnya tampil kurang glamor, namun ia melihat sisi positif dari kesulitan yang dihadapi. Di babak kedua, ia melakukan penyesuaian dengan memindahkan Rice ke posisi bek kanan dan Bellingham ke sisi kiri lini tengah. Perubahan ini memicu hubungan baru yang lebih alami. Bellingham, yang tampil impresif melawan Panama di posisi serupa, mampu menusuk dari sayap kiri, sementara Rice memberikan stabilitas di sisi kanan. Gol penyama Inggris lahir dari rotasi lebar yang cepat: Bukayo Saka menarik bek sayap, Eberechi Eze berlari diagonal, dan Rice mengisi ruang kosong untuk menyelesaikan peluang.
Kunci bagi Inggris adalah konsistensi dalam menekan. Terlalu sering mereka terjebak di antara dua pendekatan: menekan tinggi atau bertahan dalam blok rapat. Tuchel harus memilih satu strategi dan menjalankannya dengan disiplin. Opsi pertama adalah bertahan lebih pasif dalam blok kompak, mengurangi ruang bagi Meksiko untuk membangun serangan. Opsi kedua adalah tetap menekan tinggi, namun dengan satu gelandang tambahan yang ikut menekan bek tengah dan gelandang bertahan lawan secara man-to-man. Marc Guehi, yang terbiasa dengan pressing agresif di Manchester City, bisa menjadi kunci untuk mengisi ruang di belakang Rice.
Bagi pembaca di Indonesia, pertandingan ini menjadi pengingat bahwa sepak bola modern tidak hanya soal bakat individu, tetapi juga kecerdasan taktis. Timnas Indonesia, yang kerap menghadapi lawan dengan formasi fleksibel, bisa belajar dari cara Inggris mengatasi perubahan formasi lawan. Kemampuan beradaptasi dan membaca permainan lawan menjadi faktor penentu di turnamen besar. Apakah Tuchel akan memilih pendekatan hati-hati atau agresif? Jawabannya akan terlihat saat Inggris menghadapi Meksiko di Azteca, stadion yang dikenal angker bagi tim tamu.



