El Nino dan Perubahan Iklim Ancam Produksi Pangan India: Curah Hujan Juli Diprediksi di Bawah Normal
Baca dalam 60 detik
- India mencatat Juni terkering kelima dalam 124 tahun terakhir, dengan curah hujan 94% di bawah rata-rata historis.
- Fenomena El Nino yang menguat diproyeksikan menekan curah hujan Juli, mengancam sektor pertanian yang menopang 45% populasi.
- Dampak kekeringan di India berpotensi memicu kenaikan harga komoditas global dan mempengaruhi stabilitas pangan di kawasan Asia, termasuk Indonesia.

India, negara dengan populasi terbesar di dunia, menghadapi ancaman serius terhadap ketahanan pangannya setelah Badan Meteorologi India (IMD) mengumumkan bahwa curah hujan pada Juli diprediksi berada di bawah 94% dari rata-rata jangka panjang. Prediksi ini muncul setelah Juni tercatat sebagai bulan terkering kelima sejak 1901, memperparah kekhawatiran akan menurunnya produksi pertanian di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem.
Fenomena El Nino, yang secara alami menyebabkan kekeringan di India dan Asia Tenggara, diperkirakan akan semakin kuat dalam beberapa bulan mendatang. Direktur Jenderal IMD, Mrutyunjay Mohapatra, menegaskan bahwa kekuatan El Nino menjadi penyebab utama rendahnya curah hujan pada Juni dan diprediksi akan terus meningkat. Kondisi ini memicu peringatan dini dari IMD mengenai risiko tekanan panas dan kelangkaan air yang dapat mengganggu sektor pertanian.
Data menunjukkan bahwa sektor pertanian India menopang sekitar 45% dari total penduduk, atau lebih dari 600 juta jiwa. Musim hujan (monsun) menjadi penentu utama keberhasilan panen padi, jagung, dan tebu. Jika curah hujan Juli tetap rendah, produksi pangan nasional bisa turun drastis, memicu lonjakan harga dan memperburuk inflasi pangan yang sudah tinggi di berbagai negara.
IMD telah mengimbau para pemangku kepentingan untuk segera menyusun langkah mitigasi, termasuk konservasi air, pengelolaan sumber daya air yang efisien, dan rencana kontingensi pertanian. Namun, efektivitas langkah-langkah ini masih diragukan mengingat skala dampak yang mungkin terjadi. Sejarah mencatat bahwa kekeringan ekstrem di India seringkali berujung pada krisis pangan dan migrasi massal.
Bagi Indonesia, kondisi ini menjadi sinyal peringatan. Sebagai sesama negara agraris di kawasan Asia Tenggara yang juga dipengaruhi El Nino, Indonesia rentan mengalami pola cuaca serupa. Kekeringan di India dapat mengganggu rantai pasok pangan global, terutama beras dan gula, yang berpotensi mendorong kenaikan harga di pasar domestik. Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi dengan memperkuat cadangan pangan dan sistem irigasi.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: sejauh mana kesiapan India dan negara-negara tetangga dalam menghadapi dampak El Nino yang semakin intensif? Tanpa langkah adaptasi yang masif, ancaman krisis pangan bukan lagi sekadar skenario, melainkan realitas yang harus dihadapi.



