AI Mengancam Stabilitas Keuangan Global: Kekhawatiran Mendominasi Pertemuan Bank Sentral Dunia
Baca dalam 60 detik
- Forum bank sentral global di Sintra, Portugal, diwarnai kekhawatiran bahwa AI dapat memicu gelembung aset dan krisis keuangan yang sulit dikendalikan.
- Para regulator mengakui keterbatasan alat pengawasan terhadap risiko AI, termasuk manipulasi pasar dan kesenjangan digital antarnegara.
- Indonesia perlu mengantisipasi dampak AI pada sektor keuangan dan ketenagakerjaan, serta memperkuat literasi digital dan regulasi siber.

Kekhawatiran akan dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap stabilitas ekonomi global menjadi topik utama yang mendominasi pertemuan tahunan bank sentral dunia di Sintra, Portugal, pekan ini. Para gubernur bank sentral dan ekonom terkemuka sepakat bahwa AI, baik jika berhasil maupun gagal, berpotensi mengganggu keseimbangan sistem keuangan.
Forum yang digelar Bank Sentral Eropa (ECB) tersebut dihadiri oleh para pembuat kebijakan moneter dari berbagai negara. Dalam setiap sesi diskusiโmulai dari imigrasi, pengawasan perbankan, hingga perubahan iklimโisu AI selalu muncul. Bahkan, topik ini dinilai lebih menyita perhatian dibandingkan debut Ketua Federal Reserve yang baru, Kevin Warsh.
"Jika AI memberikan hasil berlebihan, stabilitas keuangan terancam. Jika AI mengecewakan, stabilitas keuangan juga terancam," ujar Torsten Slok, ekonom dari Apollo Global Management, dalam salah satu panel utama. Pernyataan ini menggambarkan dilema yang dihadapi para regulator: ketidakpastian dampak AI yang ekstrem di kedua arah.
Salah satu risiko yang paling mengkhawatirkan adalah kemampuan AI untuk memanipulasi pasar. Itay Goldstein, profesor dari University of Pennsylvania, menjelaskan bahwa algoritma canggih dapat berkoordinasi untuk menaikkan harga secara artifisial, lalu menjatuhkannya secara tiba-tiba. Praktik ini, yang saat ini ilegal jika dilakukan manusia, sulit dideteksi dan diawasi oleh regulator.
Di sektor perbankan, AI membawa peluang sekaligus tantangan. Bank dapat melakukan analisis kredit yang lebih akurat dan menjangkau peminjam baru. Namun, pengawas kesulitan memahami keputusan pinjaman yang diambil oleh sistem AIโyang sering disebut sebagai "kotak hitam". Tobias Adrian, pejabat senior IMF, menyebut kurangnya transparansi sebagai tantangan utama pengawasan.
Dampak AI juga dirasakan tidak merata. Perusahaan dan negara kaya akan semakin unggul karena mampu berinvestasi dalam keamanan siber dan teknologi, sementara yang lemah semakin rentan terhadap serangan. Sarah Breeden, Deputi Gubernur Bank of England, mengusulkan skema asuransi siber serupa dengan penjaminan simpanan untuk mengatasi risiko kegagalan sistemik.
Dalam skenario terburuk, AI yang terlalu sukses justru dapat menghancurkan ekonomi global. Jika efisiensi yang dijanjikan terwujud, mesin akan menggantikan tenaga kerja manusia secara massal, menyebabkan pengangguran besar-besaran dan penurunan daya beli. Sebaliknya, jika AI gagal memenuhi ekspektasi, investasi raksasa yang telah dikucurkan akan sia-sia, memicu krisis keuangan.
Gubernur Bank of Canada, Tiff Macklem, mengingatkan bahwa meskipun internet terbukti lebih baik dari perkiraan, gelembung dotcom tetap terjadi. "Bukan berarti pasar tidak bisa terlalu panas dan mengalami koreksi," katanya. Peringatan ini relevan bagi Indonesia, di mana adopsi AI di sektor keuangan dan startup masih tumbuh pesat tanpa kerangka regulasi yang memadai.
Bagi Indonesia, pertemuan Sintra memberikan sinyal bahwa risiko AI harus diantisipasi sejak dini. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia perlu memperkuat kemampuan pengawasan terhadap algoritma keuangan, serta mendorong literasi digital di kalangan pelaku pasar. Tanpa langkah preventif, Indonesia berpotensi menjadi korban berikutnya dari gelembung AI yang melanda pasar global.



