Hull City Selamat dari Pengurangan Poin Berkat Penjualan Dua Pemain di Menit Akhir
Baca dalam 60 detik
- Hull City menjual kiper Ivor Pandur dan gelandang Aidon Shehu senilai total £8,5 juta untuk mematuhi aturan Profit and Sustainability Regulations (PSR) sebelum batas waktu 30 Juni.
- Tanpa penjualan tersebut, klub promosi Premier League itu terancam kehilangan hingga enam poin karena defisit sekitar £6 juta dalam periode akuntansi Championship.
- Aturan PSR akan digantikan oleh Squad Cost Ratio (SCR) musim depan, yang memungkinkan klub membelanjakan 85% pendapatan untuk skuad secara tahunan.

Hull City berhasil menghindari sanksi pengurangan poin di Premier League setelah menjual dua pemain inti hanya beberapa jam sebelum batas waktu akhir periode akuntansi, Selasa (30/6) malam. Klub yang baru promosi dari Championship itu harus merelakan kiper Ivor Pandur ke Rangers dan gelandang muda Aidon Shehu ke Panathinaikos demi memenuhi regulasi keuangan yang ketat.
The Tigers, julukan Hull City, kembali ke kasta tertinggi setelah mengalahkan Middlesbrough 1-0 di final play-off Championship pada Mei lalu. Kemenangan itu menjamin pemasukan sekitar £200 juta dari hak siar dan partisipasi Premier League. Namun, aturan Profit and Sustainability Regulations (PSR) yang diterapkan EFL justru memaksa klub yang bakal kaya raya itu untuk menjual pemain sebelum 30 Juni—batas akhir periode akuntansi—guna menutup defisit.
Menurut regulasi PSR, klub Championship hanya boleh merugi maksimal £39 juta dalam tiga tahun. Hull tercatat mengalami overspend sekitar £6 juta untuk periode hingga 2025-26. Jika gagal menutup celah tersebut, klub terancam kehilangan hingga enam poin di Premier League musim depan. Hanya keuntungan dari transfer pemain yang diperhitungkan dalam kalkulasi PSR, bukan total nilai transfer.
Pada Selasa malam, Hull mengumumkan pelepasan Pandur, kiper utama yang tampil dalam 45 pertandingan Championship musim lalu. Pemain berusia 26 tahun itu direkrut dari Fortuna Sittard seharga £1,5 juta pada Januari 2024 dan memenangkan tiga penghargaan pemain terbaik klub pada musim 2024-25. Keesokan paginya, giliran Shehu yang dilepas ke klub Yunani dengan nilai dilaporkan £2,5 juta. Gelandang berusia 19 tahun itu tidak pernah tampil di tim utama Hull dan menghabiskan akhir musim lalu dengan status pinjaman di Scarborough Athletic. Karena didatangkan dengan biaya kompensasi kecil, penjualannya hampir seluruhnya menjadi keuntungan murni bagi Hull.
Sebelumnya, Hull diperkirakan akan menjual Kyle Joseph ke Middlesbrough seharga £5 juta untuk menutup defisit. Namun, kendala negosiasi antara kedua klub membuat transfer itu gagal rampung tepat waktu. Kekhawatiran terhadap PSR juga membuat Hull tidak bisa merekrut pemain baru sepanjang bursa transfer musim panas ini. Aktivitas transfer diperkirakan akan meningkat mulai Rabu (1/7) ketika periode akuntansi baru dimulai.
Menariknya, PSR akan segera digantikan oleh sistem baru bernama Squad Cost Ratio (SCR) mulai musim depan. Alih-alih menilai kerugian selama tiga tahun, SCR mengizinkan klub membelanjakan 85% dari pendapatan yang mereka hasilkan untuk skuad dan dinilai setiap tahun. Perubahan ini diharapkan memberikan fleksibilitas lebih bagi klub seperti Hull yang baru promosi.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus Hull City menjadi pengingat betapa ketatnya regulasi keuangan di Inggris. Klub-klub yang baru naik kasta sering kali terjepit antara kebutuhan memperkuat tim dan kepatuhan terhadap aturan. Dengan sistem baru yang lebih sederhana, apakah klub promosi akan lebih leluasa berbelanja? Atau justru terhambat oleh batasan pengeluaran yang lebih ketat?



