Empat Klub Premier League Kena Denda UEFA: Villa Paling Berat, Newcastle Juga Kena Sanksi
Baca dalam 60 detik
- Aston Villa didenda 22,5 juta euro karena melanggar aturan biaya skuad UEFA untuk kedua kalinya secara beruntun.
- Chelsea, Nottingham Forest, dan Newcastle juga kena denda, dengan Newcastle harus membayar tambahan 10 juta euro akibat pelanggaran batas pendapatan.
- Sanksi ini memperlihatkan ketidakselarasan regulasi keuangan antara UEFA dan Premier League, yang mulai berlaku pekan ini.

Aston Villa harus membayar denda sebesar 22,5 juta euro (sekitar Rp 380 miliar) setelah UEFA menemukan pelanggaran signifikan terhadap aturan biaya skuad musim 2025. Ini merupakan kali kedua klub asal Birmingham itu terkena sanksi serupa dalam dua musim beruntun.
Sebagian besar denda—15 juta euro—ditangguhkan dan akan dihapus jika Villa berhasil menekan rasio biaya skuad secara signifikan pada 2026. Selain denda, klub yang musim depan akan berlaga di Liga Champions itu juga mendapat pembatasan pendaftaran pemain baru. Sanksi ini pada dasarnya merupakan perpanjangan dari hukuman bersyarat yang sudah dijatuhkan pada Juli 2025, saat Villa didenda 11 juta euro dengan tambahan 15 juta euro yang bergantung pada kepatuhan dalam tiga tahun.
Tiga klub Premier League lain juga terkena sanksi serupa. Chelsea didenda 3 juta euro (2 juta euro ditangguhkan), Nottingham Forest 2,5 juta euro, dan Newcastle United 3 juta euro. Newcastle juga harus membayar denda tambahan 10 juta euro akibat melanggar batas pendapatan UEFA, dengan 7 juta euro di antaranya ditangguhkan.
Yang menarik, tiga dari empat klub yang terkena sanksi—Chelsea, Aston Villa, dan Newcastle—terlibat dalam transaksi yang dianggap tidak lazim oleh UEFA. Chelsea menjual pemain muda Mathis Amougou ke Strasbourg (klub saudara) seharga 12 juta pound, Aston Villa menjual tim wanitanya, sementara Newcastle mencatat laba 34,7 juta pound setelah menjual hak guna St James' Park dan lahan di sekitarnya ke PZ Holdings Limited, anak perusahaan klub. Praktik semacam ini sebelumnya diperbolehkan dalam aturan Premier League, tetapi mulai musim depan akan dilarang. UEFA, bagaimanapun, sudah sejak awal melarangnya.
Ketidakselarasan regulasi antara UEFA dan Premier League menjadi sorotan. Musim lalu UEFA menurunkan batas biaya skuad dari 80% menjadi 70% dari pendapatan klub, sementara Premier League baru akan memberlakukan aturan serupa mulai pekan ini. Namun, klub-klub yang tidak bermain di Eropa hanya dibatasi hingga 85% dari pendapatan. Chelsea, Newcastle, dan Nottingham Forest—yang musim depan tidak tampil di kompetisi Eropa—tetap harus mematuhi aturan UEFA yang lebih ketat. Chelsea dalam pernyataannya mengklaim UEFA telah mengakui tren perbaikan pengeluaran mereka dan bahwa ambang batas 70% hanya dilanggar tipis.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kasus ini menjadi pengingat bahwa kepatuhan finansial semakin kompleks di level tertinggi. Klub-klub besar Eropa kini harus menyeimbangkan dua rezim regulasi yang berbeda, sementara klub-klub Asia, termasuk Indonesia, mungkin akan menghadapi tekanan serupa jika AFC mengadopsi aturan serupa. Pertanyaannya, mampukah klub-klub Premier League—dengan pendapatan besar—beradaptasi tanpa mengorbankan daya saing di Eropa?



