Deschamps Buktikan Diri: Sentuhan Taktik yang Mengubah Mbappe Cs Jadi Mesin Gol
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Prancis Didier Deschamps sukses merombak formasi di tengah turnamen untuk memaksimalkan potensi Kylian Mbappe dan para bintang lainnya.
- Perubahan kunci adalah menukar peran Ousmane Dembele dan Michael Olise, yang membuat pertahanan lebih solid dan serangan lebih tajam.
- Pendekatan adaptif Deschamps, yang fokus pada skill pemain ketimbang skema kaku, membuat Prancis menjadi kandidat kuat juara Piala Dunia 2026.

Didier Deschamps kembali menunjukkan mengapa ia dianggap sebagai salah satu pelatih terbaik dalam mengelola talenta kelas dunia. Di tengah Piala Dunia 2026, pelatih timnas Prancis itu berani melakukan perubahan taktik drastis yang tidak hanya menyelamatkan permainan tim, tetapi juga mengubah lini serang Les Bleus menjadi mesin gol yang mematikan.
Prancis memang memiliki skuad paling mewah di turnamen ini. Namun, memiliki banyak bintang justru kerap menjadi bumerang—seperti yang dialami beberapa klub raksasa Eropa. Deschamps, yang menukangi tim sejak 2012, justru menjadikan itu sebagai keunggulan. Ia dikenal gemar melakukan penyesuaian di tengah turnamen, dan pola itu kembali terlihat di Amerika Utara.
Masalah utama Deschamps adalah bagaimana mengakomodasi Kylian Mbappe yang kini berusia 27 tahun. Mbappe tidak lagi sekadar menjadi pelari cepat di belakang pertahanan seperti saat Prancis juara 2018. Ia ingin terlibat dalam permainan, turun ke tengah, dan menjadi pusat serangan. Deschamps pun merancang formasi asimetris 4-2-4 yang aneh di atas kertas, tetapi logis: Mbappe sebagai ujung tombak dengan kebebasan bergerak, sementara Ousmane Dembele berperan sebagai false nine di belakangnya.
Namun, pada laga pembuka melawan Senegal, sistem itu mulai menunjukkan keretakan. Saat bertahan, jarak antara lini depan dan gelandang terlalu lebar, membuat Senegal leluasa menciptakan peluang. Deschamps bereaksi cepat di babak kedua. Ia menukar peran Dembele dan Michael Olise—keputusan berani mengingat Dembele adalah pemegang Ballon d'Or. Dembele dipindahkan ke sayap kanan, sementara Olise ditempatkan sebagai gelandang serang tengah.
Hasilnya langsung terlihat. Dembele mencetak hat-trick di babak pertama melawan Norwegia, memanfaatkan ruang yang diciptakan oleh pergerakan Kounde. Olise, yang percaya posisi terbaiknya adalah sebagai nomor 10, kini lebih sering menusuk ke kotak penalti, sementara Mbappe bebas bergerak ke sisi kiri. Serangan balik Prancis menjadi lebih berbahaya karena Olise mampu melepas umpan terobosan akurat.
Yang membedakan Deschamps dari pelatih lain adalah fleksibilitasnya. Alih-alih menerapkan skema kaku, ia menciptakan kondisi yang memungkinkan para pemain menggunakan insting terbaik mereka. Dalam beberapa laga terakhir, Mbappe, Olise, Dembele, Desire Doue, dan Bradley Barcola terlihat saling bertukar posisi di lini depan, membangun kombinasi spontan yang sulit diantisipasi lawan.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, pendekatan Deschamps ini relevan dengan tantangan yang dihadapi timnas Garuda. Pelatih Shin Tae-yong juga kerap melakukan penyesuaian taktik berdasarkan lawan dan kondisi pemain. Namun, konsistensi eksekusi dan kedalaman skuad menjadi pembeda. Prancis menunjukkan bahwa memiliki pemain berkualitas saja tidak cukup; diperlukan sentuhan taktik yang cerdas untuk menyulap mereka menjadi tim yang kohesif.
Dengan keseimbangan baru antara serangan dan pertahanan, Prancis kini diunggulkan untuk melaju jauh. Pertanyaan besarnya: akankah Deschamps mampu mempertahankan fluiditas ini hingga partai puncak? Atau akankah lawan seperti Brasil atau Argentina menemukan celah dari sistem yang sudah terbukti ampuh ini?



