Nothing Headphone (1) Pro: Harga Naik Rp1,6 Juta, Tapi Peningkatan Suara Tak Sebesar Itu
Baca dalam 60 detik
- Nothing resmi meluncurkan Headphone (1) Pro dengan banderol $399, naik sekitar Rp1,6 juta dari versi standar.
- Peningkatan utama ada pada material, driver tiga bagian, dan mode Flat EQ, tetapi selisih kualitas suara dengan Headphone (1) dinilai tidak signifikan.
- Case baru yang lebih berat dan tidak praktis menjadi kelemahan serius, membuat reviewer merekomendasikan alternatif seperti Sennheiser Momentum 5 Wireless.

Nothing resmi memasarkan Headphone (1) Pro di pasar global dengan harga $399 (sekitar Rp6,4 juta) di Amerika Serikat dan £349 di Inggris, atau tepat £100 lebih mahal dari Headphone (1) yang sudah lebih dulu hadir. Kenaikan harga itu menempatkan produk ini bersaing langsung dengan Sony WH-1000XM6 dan Sennheiser Momentum 5 Wireless, dua nama yang sudah mapan di segmen headphone premium.
Langkah Nothing menaikkan kelas produknya ini menarik dicermati. Perusahaan yang dikenal lewat desain transparan dan kontrol unik itu sebelumnya sukses dengan Headphone (1) berkat harga yang lebih terjangkau. Kini, dengan label Pro, Nothing seolah ingin menguji seberapa jauh konsumen bersedia membayar lebih untuk penyempurnaan yang sifatnya inkremental.
Secara fisik, Headphone (1) Pro memang membawa sejumlah pembaruan. Earcup-nya masih mengusung desain kotak dengan panel transparan, tetapi kini dilapisi kaca asli yang diklaim tahan gores dan dibingkai aluminium. Material logam lebih dominan, sementara busa pada headband dan earcup dibuat lebih tebal. Bobotnya justru 2 gram lebih ringan dari versi standar, meski secara keseluruhan terasa lebih padat.
Kenyamanan pemakaian disebut tidak jauh berbeda dari generasi sebelumnya. Namun, bagi pengguna yang merasa Headphone (1) terlalu menekan di kepala, versi Pro ini menawarkan tekanan yang sedikit lebih longgar. Sistem kontrol ikonik Nothing—roller volume, rocker lagu, tombol eksternal yang bisa dikustomisasi, dan tombol pairing tersembunyi—tetap dipertahankan tanpa perubahan berarti.
Peningkatan paling mencolok ada pada arsitektur driver tiga bagian yang dikembangkan Nothing. Hasilnya, suara yang dihasilkan lebih presisi dan detail, terutama pada pemisahan vokal dan instrumen. Saat diuji dengan album terbaru Jungle, high-end terdengar jernih, sementara materi lawas dari J.J. Cale dan Creedence Clearwater Revival mampu menghadirkan nuansa akustik yang kaya.
Meski demikian, ketika dibandingkan langsung dengan Headphone (1), selisih kualitas suaranya tidak terlalu besar. Headphone (1) Pro memang menawarkan sedikit lebih banyak "tenaga" dan ketajaman, tetapi fondasi suara versi standar sudah sangat baik. Peningkatan ANC juga serupa: lebih mampu meredam bising pesawat, namun belum melampaui kemampuan Sony WH-1000XM6 yang masih menjadi acuan di kelas harga ini.
Fitur baru yang diandalkan Nothing adalah mode Flat EQ yang bisa diaktifkan lewat saklar fisik di dalam earcup. Mode ini mematikan tuning bawaan dan menghadirkan suara studio yang netral. Selain itu, ada preset spatial audio yang meniru akustik studio, klub, atau konser, meski kesannya lebih sebagai gimmick ketimbang fitur esensial. Aplikasi Nothing X juga menyediakan kustomisasi EQ yang lebih dalam.
"Saya menyukai Flat EQ, terutama karena ada tombol fisiknya. Tapi preset spatial audio rasanya tidak akan sering dipakai orang," tulis reviewer dalam kesimpulannya.
Sayangnya, ada satu aspek yang dinilai sebagai kesalahan desain fatal: case. Berbeda dari case headphone pada umumnya yang berbahan lembut, Nothing memilih case plastik keras setengah jadi yang membiarkan headband terekspos sebagai pegangan. Bobotnya mencapai 384 gram, lebih dari dua kali lipat bobot headphone itu sendiri (327 gram), dan tidak menyediakan ruang untuk aksesori seperti kabel atau adaptor.
Desain case ini dianggap lebih mengutamakan estetika ketimbang fungsi. Reviewer bahkan menyamakannya dengan case AirPods Max yang selama bertahun-tahun menjadi bahan olok-olok karena dianggap tidak praktis. Jika case ini turut menyumbang kenaikan harga, banyak calon pembeli disebut akan memilih untuk tidak menyertakannya demi penghematan.
Dari sisi daya tahan, Headphone (1) Pro menawarkan 30 jam pemakaian dengan ANC aktif—sedikit lebih rendah dari Headphone (1)—dan 68 jam tanpa ANC. Angka ini tergolong kompetitif, meski tidak revolusioner.
Dalam konteks pasar Indonesia, kehadiran Headphone (1) Pro menambah daftar pilihan di segmen premium yang semakin padat. Harga jualnya di dalam negeri nanti akan sangat menentukan daya saing, terutama karena Nothing sudah memiliki basis penggemar fanatik di kalangan anak muda urban. Namun, dengan selisih harga yang cukup jauh dari versi standar, konsumen Indonesia yang sensitif terhadap harga mungkin akan berpikir dua kali.
Pertanyaannya kini: apakah Nothing mampu meyakinkan pasar bahwa lompatan harga ini sepadan dengan peningkatan yang ditawarkan? Atau justru Headphone (1) standar yang akan tetap menjadi primadona, terutama menjelang musim diskon akhir tahun?



