Baterai yang Tak Pernah Bergerak: Kunci Tersembunyi Revolusi Kendaraan Listrik
Baca dalam 60 detik
- Penyimpanan energi statis di stasiun pengisian daya menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan jaringan listrik dan mempercepat ekspansi infrastruktur EV.
- EnerVenue mengembangkan baterai nikel-hidrogen dengan umur desain 30 tahun dan 30.000 siklus, menawarkan alternatif tahan lama meski efisiensi sedikit lebih rendah dari lithium-ion.
- Pasar kendaraan listrik global diproyeksikan terus tumbuh, mendorong permintaan solusi penyimpanan yang mampu meredam lonjakan permintaan daya di lokasi pengisian.

Di sebuah depo bus listrik di Jintan, Distrik Changzhou, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, sederet tabung baja bertekanan tinggi berdiri diam di samping fasilitas pengisian daya. Baterai-baterai itu tidak pernah bergerak, namun perannya krusial: menyimpan listrik dari panel surya dan melepaskannya saat armada bus Higer menuntut daya besar secara bersamaan. Instalasi Towngas Smart Energy ini menggabungkan pembangkit surya dengan Energy Rack EnerVenue berkapasitas 150 kWh, menjalankan siklus pengisian dan pengosongan dua hingga empat jam setiap hari.
Pilot project ini mungkin terbilang sederhana jika dibandingkan dengan GRIDSERVE Electric Forecourt di Braintree, Inggris, yang memiliki penyimpanan baterai 6 MWh. Namun, proyek ini menyoroti persoalan mendasar dalam transisi energi: menyediakan listrik yang cukup sepanjang hari adalah satu hal, tetapi mengirimkan daya dalam jumlah besar secara simultan saat kendaraan menuntut pengisian cepat adalah tantangan lain. Di sinilah baterai statis berfungsi sebagai penyangga.
Bayangkan sebuah hub pengisian dengan delapan outlet berdaya 300 kW. Jika semuanya beroperasi maksimal bersamaan, kebutuhan daya mencapai 2,4 MW. Dengan sambungan jaringan listrik 600 kW—yang di Inggris bisa memakan waktu setidaknya setahun untuk dipasang—baterai harus menyediakan sisa 1,8 MW. Untuk menopang selisih itu selama setengah jam saja, dibutuhkan energi usable sekitar 900 kWh sebelum memperhitungkan kerugian. Ini menunjukkan bahwa kapasitas energi dan daya total harus dihitung secara terpisah. Sistem memerlukan cukup energi tersimpan untuk sesi pengisian puncak dan perangkat keras yang mampu melepaskannya dengan cepat.
Baterai statis dapat diisi ulang pada periode sepi, lalu dikosongkan ketika kendaraan datang bersamaan. Pendekatan ini mengurangi kebutuhan kapasitas jaringan untuk melayani lonjakan singkat dan, tergantung tarif listrik setempat, memangkas biaya permintaan daya. US Joint Office of Energy and Transportation mengidentifikasi penyangga baterai sebagai cara mendukung pengisian cepat di lokasi dengan daya jaringan terbatas. Namun, ada batasnya: penyimpanan tidak bisa menciptakan listrik dari ketiadaan. Jika stasiun terus-menerus sibuk, pasokan rata-rata tetap harus menutupi energi yang dikirim plus kerugian. Penyangga yang habis akan memperlambat pengisian kecuali ada tambahan kapasitas jaringan.
EnerVenue, startup asal Amerika Serikat yang berbasis di Tiongkok, mengembangkan teknologi Aqueous Metal Cell (AMC) berbasis nikel-hidrogen. Kimia ini bukan hal baru—NASA telah menggunakannya sejak 1970-an pada satelit komunikasi, dan Teleskop Hubble diluncurkan pada 1990 dengan baterai nikel-hidrogen yang bertahan 19 tahun. Namun, biaya katalis platinum pada desain awal membuatnya tidak ekonomis untuk aplikasi darat. Riset yang terkait dengan Profesor Stanford Yi Cui, tempat EnerVenue lahir, menggantinya dengan paduan nikel berbasis proprietary yang menjadi "resep rahasia" perusahaan.
Setiap modul AMC menyimpan 3 kWh dalam tabung baja bertekanan yang diperkuat serat kaca. Elektrolit berbasis air mendukung reaksi elektrokimia reversibel antara nikel dan hidrogen. Hidrogen tetap terkurung di dalam sel—bukan sel bahan bakar yang memerlukan pasokan bahan bakar eksternal. "Kami tidak memiliki bahan habis pakai yang perlu diisi ulang," jelas Henning Rath, CEO EnerVenue. "Sel tersegel hermetis, dan seluruh reaksi terjadi di dalam tabung." Ia menyebutnya sebagai "bernafas tanpa menghembuskan napas".
Rath mengakui bahwa untuk aplikasi penyimpanan empat jam standar, lithium iron phosphate (LFP) masih lebih ekonomis. Biaya modal awal EnerVenue lebih tinggi, dan selnya memakan lebih banyak ruang per kWh. Namun, ia menekankan bahwa target perusahaan adalah levelized cost of storage (LCOS)—biaya total per unit energi yang disimpan sepanjang umur sistem, termasuk pembiayaan, efisiensi, perawatan, dan utilisasi. Dengan masa pakai 30 tahun dan tanpa perawatan, baterai yang lebih mahal di awal bisa menjadi kompetitif jika digunakan secara intensif.
Efisiensi round-trip sel EnerVenue sekitar 87%, sedikit di bawah lithium-ion yang bisa mencapai 95%. Namun, toleransi suhu ekstrem dari -40°C hingga +60°C dan pendinginan udara paksa—bukan pendingin air—membuatnya cocok untuk negara panas seperti Arab Saudi. Elektrolit berbasis air juga diklaim tidak mudah terbakar, menghilangkan risiko thermal runaway. Pada akhir masa pakai, nikel dapat didaur ulang.
Pasar kendaraan listrik global terus tumbuh. International Energy Agency (IEA) melaporkan penjualan mobil listrik global melewati 20 juta unit pada 2025, naik 20% dari tahun sebelumnya, dan diproyeksikan mencapai 23 juta pada 2026. Meskipun kuartal pertama 2026 secara global menurun dan pertumbuhan tidak merata—Amerika Serikat tertinggal jauh dari Eropa dan Tiongkok—tren jangka panjang tetap positif. Setiap kendaraan listrik di jalan membutuhkan lebih banyak pengisian daya, dan penyimpanan statis dapat membantu operator memperluas layanan tanpa harus memperbesar setiap sambungan untuk beban puncak semua charger.
Bagi Indonesia, implikasi teknologi ini signifikan. Pemerintah menargetkan 2 juta kendaraan listrik pada 2025 dan terus mendorong pembangunan stasiun pengisian daya. Namun, jaringan listrik di banyak daerah masih terbatas, terutama di luar Jawa. Baterai statis di stasiun pengisian dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan daya tanpa harus menunggu peningkatan infrastruktur jaringan yang mahal dan memakan waktu. Selain itu, kombinasi dengan energi surya—seperti pada proyek Towngas—cocok untuk daerah terpencil yang belum terhubung jaringan listrik stabil. Jika EnerVenue atau pemain lain dapat menekan biaya, teknologi ini berpotensi mempercepat elektrifikasi transportasi di Indonesia, terutama untuk armada bus listrik yang sedang digalakkan.
"Visi kami adalah agar masyarakat, pembuat kebijakan, dan pelanggan tidak lagi menganggap baterai sebagai aset yang menurun, melainkan sebagai infrastruktur. Baterai harus berperilaku seperti transformator, bandara, jembatan, atau jaringan listrik itu sendiri," ujar Rath.
EnerVenue telah membuka jalur produksi volume tinggi di Changzhou pada 24 September dengan kapasitas awal 250 MWh per tahun, dan menargetkan 1 GWh pada 2027 serta beberapa GWh pada 2028. Perusahaan juga mengumumkan pesanan 11 MWh untuk aplikasi ladang minyak di Tiongkok utara. Fokus saat ini mencakup utilitas, lingkungan ekstrem, bangunan komersial dan industri, serta pusat data. Untuk pusat data, EnerVenue sedang meneliti sel berdaya lebih tinggi, meski Rath menegaskan itu belum menjadi produk.
Pertanyaannya, akankah teknologi nikel-hidrogen ini mampu menembus dominasi lithium-ion di pasar penyimpanan stasioner? Dengan tekanan untuk mengurangi emisi dan meningkatnya kebutuhan pengisian cepat, pilihan baterai yang tepat di pinggir jalan bisa jadi penentu seberapa cepat revolusi kendaraan listrik benar-benar terwujud.



