Keracunan Massal di RSUD Dr Soetomo: 178 Korban, Rendang Diduga Biang Keladi
Baca dalam 60 detik
- Sebanyak 178 orang, termasuk calon dokter spesialis dan petugas kebersihan, mengalami gejala keracunan setelah menyantap nasi kotak dalam kegiatan Pradik PPDS FK Unair di RSUD Dr Soetomo, Surabaya.
- Dugaan awal mengarah pada lauk rendang karena peserta vegetarian yang tidak mengonsumsi daging dilaporkan aman, namun pihak rumah sakit menunggu hasil uji laboratorium dari Puslabfor, Labkesmas, dan BPOM.
- Insiden ini menyoroti pentingnya pengawasan keamanan pangan dalam kegiatan institusi besar, terutama yang melibatkan tenaga medis dan calon dokter spesialis.

Sebanyak 178 orang dilaporkan mengalami keracunan setelah menyantap nasi kotak dalam kegiatan Pra-pendidikan (Pradik) Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) di RSUD Dr Soetomo, Surabaya, Senin (28/9). Korban terdiri dari calon dokter spesialis dan pegawai kebersihan rumah sakit. Peristiwa ini menjadi sorotan karena melibatkan institusi pendidikan medis terkemuka dan menimbulkan kekhawatiran akan standar keamanan pangan dalam kegiatan berskala besar.
Kepala Bagian Pendidikan dan Pelatihan (Kabag Diklat) RSUD Dr Soetomo, dr Astindari, mengungkapkan kronologi kejadian. Nasi kotak tiba di Gedung Pusat Diagnostik Terpadu (GPDT) lantai 2 sekitar pukul 09.00 WIB, lalu dipindahkan ke lantai 7 tempat acara berlangsung pada 09.15 WIB. Hidangan mulai ditata di meja hall GPDT setengah jam kemudian, dan baru dibagikan kepada peserta pada pukul 11.30 WIB saat istirahat. Gejala keracunan muncul dalam rentang 30 menit hingga 4 jam setelah konsumsi.
Direktur RSUD Dr Soetomo, Prof Dr Cita Rosita Sigit Prakoeswa, menyatakan bahwa penyebab keracunan sementara ini diduga berasal dari lauk daging rendang. Dugaan tersebut diperkuat oleh laporan bahwa peserta vegetarian yang hanya mengonsumsi telur, sayur, dan acar tidak mengalami gejala. "Kami tidak bisa memastikan sebelum ada hasil laboratorium. Ini masih dugaan," ujarnya saat konferensi pers, Selasa (29/9).
Meski dugaan mengarah pada rendang, pihak rumah sakit belum menerima laporan rinci mengenai kondisi makanan, seperti aroma tidak sedap atau tanda pembusukan. "Dari peserta tidak ada laporan spesifik, hanya saja yang makan telur dan sayur aman," tambah Cita. Ia menegaskan bahwa kesimpulan final akan menunggu hasil uji laboratorium terhadap sisa makanan dan spesimen pasien.
"Kami telah mengirim sampel ke Puslabfor, Labkesmas, dan BPOM. Namun kami tidak bisa memastikan saat ini, menunggu hasil laboratorium," ujar Cita.
Insiden ini bukan hanya persoalan kesehatan, tetapi juga menyoroti lemahnya pengawasan rantai pasok makanan dalam kegiatan institusi. Sebagai rumah sakit pendidikan utama di Jawa Timur, RSUD Dr Soetomo seharusnya memiliki protokol ketat untuk penyediaan konsumsi massal. Kejadian ini dapat berdampak pada reputasi lembaga dan kepercayaan publik terhadap penyelenggaraan acara serupa di masa depan.
Dari perspektif kebijakan, kasus ini mendesak evaluasi menyeluruh terhadap standar keamanan pangan di lingkungan pendidikan kedokteran dan rumah sakit. Regulasi tentang penyediaan makanan katering untuk acara resmi perlu diperkuat, termasuk kewajiban sertifikasi higiene dan uji berkala. BPOM dan dinas kesehatan setempat diharapkan tidak hanya menangani kasus ini secara reaktif, tetapi juga melakukan pengawasan preventif.
Bagi masyarakat, peristiwa ini menjadi pengingat akan risiko keracunan makanan yang bisa terjadi di mana saja, termasuk institusi kesehatan. Penting bagi konsumen untuk lebih kritis terhadap kualitas makanan yang disajikan dalam acara publik. Sementara itu, bagi penyelenggara acara, transparansi dalam memilih vendor katering dan memastikan keamanan pangan adalah harga mati.
Ke depan, hasil laboratorium akan menentukan apakah rendang benar-benar penyebab utama atau ada faktor lain. Terlepas dari itu, kasus ini menuntut perbaikan sistemik dalam pengelolaan konsumsi massal, terutama di lembaga pendidikan tinggi dan rumah sakit. Akankah ada sanksi atau perubahan prosedur? Publik menanti langkah konkret dari pihak berwenang.



