Hiu 3,5 Meter Terjebak di Kanal Kota Busan, 600 Ribu Orang Berdatangan
Baca dalam 60 detik
- Seekor hiu bronze whaler sepanjang 3,5 meter terperangkap di kanal Pelabuhan Utara Busan sejak 18 September 2026 dan belum berhasil dievakuasi.
- Fenomena ini memicu lonjakan kunjungan wisata hingga 607.000 orang dalam sepuluh hari, jauh di atas rata-rata harian taman tersebut.
- Upaya penggiringan hiu ke laut lepas terus gagal, sementara para ahli memperingatkan risiko melemahnya kondisi hewan jika terus bertahan di perairan terbatas.

Seekor hiu berukuran 3,5 meter terperangkap di kanal sempit kawasan Pelabuhan Utara Busan, Korea Selatan, sejak 18 September 2026. Satwa yang diperkirakan jenis bronze whaler itu tidak mampu menemukan jalan keluar setelah diduga mengikuti mangsa dari laut lepas. Dalam sepekan lebih, kanal tersebut berubah menjadi atraksi wisata tak terduga yang menyedot perhatian publik.
Data pemerintah kota Busan mencatat 607.000 kunjungan ke North Port Waterfront Park antara 19 dan 28 September. Padahal, pada hari libur biasa taman itu hanya menerima sekitar 2.000 pengunjung per hari. Lonjakan ini menjadikan hiu tersebut—yang dijuluki Bukang-i, mengacu pada nama Pelabuhan Utara Busan—sebagai fenomena sosial sekaligus ekonomi bagi kawasan pelabuhan seluas itu.
Upaya evakuasi berlangsung alot. Pada hari pertama kemunculannya, tim penjaga pantai sempat berusaha menggiring hiu keluar, tetapi menghentikan operasi enam jam kemudian atas saran ilmuwan. Memaksa hewan bergerak dikhawatirkan menimbulkan cedera atau memicu agresivitas. Selasa pagi, kapal penjaga pantai kembali menyemprotkan semburan air di belakang hiu untuk mendorongnya ke mulut kanal—metode yang diklaim meniru penyelamatan hiu putih besar di perairan dangkal Massachusetts pada 2004. Hasilnya nihil: hiu itu lolos dan berbalik masuk ke kanal, menurut laporan Herald Business.
Institut Ilmu Perikanan Nasional menyatakan kondisi hiu relatif stabil, namun kemampuan makan dan bergeraknya terbatas. Semakin lama bertahan di kanal, semakin besar risiko penurunan kondisi fisiknya. Operasi sore harinya kembali dihentikan karena hiu tersebut tidak kunjung meninggalkan saluran air. Hingga berita ini diturunkan, belum ada kepastian kapan evakuasi akan berhasil.
"Saya sudah merasa dekat dengannya setelah beberapa hari melihatnya di sini... saya sedikit sedih," ujar Kim Jung-sook, 62 tahun, kepada Maeil Shinmun.
Wali Kota Busan, Chun Jae-soo, bahkan menyebut hiu itu memiliki "kualitas bintang" karena muncul ke permukaan setiap lima hingga sepuluh menit. Pemerintah kota kemudian memberinya gelar kehormatan sebagai duta promosi pariwisata dengan sebutan "Shafluencer", setelah 91% responden jajak pendapat Instagram kota mendukung usulan tersebut. Maskot kota, Boogi, akan menerima sertifikat atas nama hiu itu.
Fenomena ini tidak lepas dari perubahan kondisi laut. Institut Ilmu Perikanan Nasional mencatat 46 hiu besar di perairan timur Korea pada paruh pertama 2026, hampir empat kali lebih banyak dibanding tahun sebelumnya. Lembaga itu mengaitkannya dengan menghangatnya suhu laut dan melimpahnya ikan yang menjadi mangsa hiu. Artinya, kemunculan hiu di perairan pesisir—termasuk kanal kota—bukan lagi anomali tunggal, melainkan gejala pergeseran ekologis yang perlu diantisipasi.
Bagi Indonesia, dinamika ini relevan. Sebagai negara kepulauan dengan garis pantai lebih dari 99.000 kilometer dan kota-kota pelabuhan padat seperti Surabaya, Makassar, dan Batam, Indonesia menghadapi risiko serupa: interaksi hiu dengan perairan perkotaan yang meningkat seiring perubahan suhu laut dan pola migrasi ikan. Kesiapan protokol evakuasi satwa laut dilindungi, koordinasi antara pemerintah daerah, penjaga pantai, dan ilmuwan, serta pengelolaan kerumunan wisatawan menjadi pekerjaan rumah yang tidak bisa ditunda. Tanpa panduan baku, atraksi spontan semacam ini berpotensi berubah menjadi insiden keselamatan publik.
Yang juga menarik adalah respons sosial di Busan. Hiu yang terperangkap berubah menjadi ikon kolektif dalam hitungan hari—dari julukan akrab, gelar duta wisata, hingga anak-anak yang datang untuk "mengucapkan selamat jalan". Lee Do-yoon, delapan tahun, yang datang bersama ayahnya, tidak khawatir hiu itu akan pergi. "Tidak apa-apa," katanya. "Bukang-i akan bertemu teman-temannya."
Pertanyaannya kini: apakah otoritas Busan akan berhasil mengembalikan hiu itu ke laut lepas, atau justru menghadapi dilema antara konservasi dan gelombang wisata yang terus mengalir? Jika tren pemanasan laut berlanjut, kota-kota pelabuhan di Asia—termasuk di Indonesia—mungkin perlu menyiapkan protokol serupa sebelum fenomena ini berulang di perairan mereka sendiri.



