Enzo Maresca ke Manchester City: Mengapa Italia Abaikan Putra Terbaiknya?
Baca dalam 60 detik
- Enzo Maresca resmi menukangi Manchester City, melanjutkan tradisi pelatih Italia sukses di luar negeri.
- Karier kepelatihan Maresca yang dibangun di Inggris dan Spanyol justru kurang mendapat tempat di Serie A.
- Fenomena ini memicu pertanyaan tentang sistem pembinaan pelatih Italia yang kerap mengabaikan talenta domestik.

Manchester City resmi menunjuk Enzo Maresca sebagai pelatih kepala baru, menandai langkah berani klub Premier League itu dengan mengangkat sosok yang belum pernah menukangi tim papan atas Italia. Keputusan ini sekaligus menyoroti paradoks dalam sepak bola Italia: seorang putra terbaik bangsa justru lebih dihargai di luar negeri ketimbang di tanah kelahirannya sendiri.
Maresca, 45 tahun, bukanlah nama asing bagi penggemar sepak bola Italia. Ia menghabiskan sebagian besar karier bermainnya di Serie A, termasuk bersama Juventus, dan meraih sukses di luar negeri bersama Sevilla dan Manchester City sebagai pemain. Namun, setelah gantung sepatu, ia memilih membangun reputasi kepelatihan di luar Italia, bekerja sebagai asisten Manuel Pellegrini di West Ham dan kemudian di Manchester City di bawah Pep Guardiola. Pengalaman ini membentuk filosofi taktik modern yang berorientasi internasional, jauh dari tradisi catenaccio yang melekat di Italia.
Fakta bahwa Maresca belum pernah melatih di Serie A—baik sebagai kepala pelatih maupun asisten—menimbulkan tanda tanya besar. Ia dianggap sebagai salah satu pelatih muda Italia paling berbakat, namun klub-klub Italia enggan memberinya kesempatan. Sebaliknya, Manchester City, yang dikenal dengan standar tinggi dan tuntutan taktis yang rumit, justru memercayainya. Ini menunjukkan adanya kesenjangan persepsi antara penilaian internasional dan domestik terhadap kualitas pelatih Italia.
Fenomena ini bukanlah kasus terisolasi. Sejumlah pelatih Italia seperti Roberto Di Matteo, Gianfranco Zola, dan bahkan Fabio Capello lebih dulu meraih sukses di luar negeri sebelum diakui di Italia. Namun, Maresca mewakili generasi baru pelatih Italia yang mengadopsi pendekatan global, meninggalkan pakem lokal yang kadang dianggap kaku. Pertanyaannya, apakah skeptisisme terhadap Maresca di Italia beralasan? Atau justru sistem sepak bola Italia yang gagal memanfaatkan potensi pelatih mudanya?
Bagi Indonesia, kisah Maresca relevan dalam konteks pengembangan pelatih lokal. Seringkali, pelatih Indonesia yang sukses di luar negeri—seperti Indra Sjafri atau Rahmad Darmawan—baru mendapat pengakuan setelah berprestasi di kancah internasional. Fenomena serupa terjadi di Italia, di mana Maresca lebih dihargai di Premier League ketimbang di Serie A. Ini menjadi pengingat bahwa talenta kepelatihan seringkali membutuhkan validasi dari luar untuk diakui di dalam negeri.
Ke depan, penunjukan Maresca di Manchester City akan menjadi ujian apakah pendekatan modernnya mampu bersaing di level tertinggi. Jika sukses, bukan tidak mungkin klub-klub Italia akan menyesal telah mengabaikannya. Namun, jika gagal, skeptisisme di Italia akan semakin menguat. Pertanyaan yang menggantung: akankah Serie A belajar dari kasus Maresca, atau terus kehilangan pelatih terbaiknya ke luar negeri?



