Rupiah Terkoreksi Tipis ke Rp17.850, Pasar Cermati Data Tenaga Kerja AS
Baca dalam 60 detik
- Rupiah dibuka melemah 0,08% ke Rp17.850 per dolar AS, membalikkan penguatan hari sebelumnya.
- Meredanya ketegangan AS-Iran di Selat Hormuz mengurangi permintaan dolar sebagai aset aman, namun peluang kenaikan suku bunga The Fed masih membayangi.
- Defisit APBN yang terjaga di bawah 1% PDB hingga Mei 2026 menjadi modal stabilitas fiskal di tengah tekanan global.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali menunjukkan pelemahan tipis pada pembukaan perdagangan Selasa (30/6/2026), setelah sehari sebelumnya berhasil menguat. Pergerakan ini mencerminkan masih kuatnya tekanan eksternal yang dihadapi mata uang Garuda di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global.
Berdasarkan data Refinitiv, rupiah dibuka melemah 0,08% ke level Rp17.850 per dolar AS. Posisi ini berbalik arah dari penutupan Senin (29/6/2026) yang mencatat penguatan 0,39% ke Rp17.835. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau menguat 0,13% pada pukul 09.00 WIB ke level 101,242, menandakan penguatan greenback di pasar global.
Pelemahan rupiah pagi ini terjadi meskipun ada sentimen positif dari meredanya ketegangan di Selat Hormuz. Laporan bahwa aktivitas pelayaran di jalur perdagangan energi vital tersebut kembali normal setelah AS dan Iran sepakat menahan diri menjelang negosiasi lanjutan, sempat mengurangi permintaan terhadap dolar sebagai aset aman. Namun, efek tersebut tampaknya hanya sementara karena pasar masih fokus pada arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed).
Menurut CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat The Fed 28-29 Juli mendatang mencapai 31,50%. Sebaliknya, probabilitas suku bunga tetap di level saat ini lebih dominan, yakni 68,50%. Angka ini menunjukkan bahwa meskipun mayoritas pelaku pasar memperkirakan The Fed akan bertahan, risiko kenaikan suku bunga masih cukup signifikan untuk mempengaruhi pergerakan nilai tukar negara berkembang seperti Indonesia.
Investor global kini menanti rilis data tenaga kerja AS pekan ini, termasuk data ketenagakerjaan ADP dan nonfarm payrolls. Data tersebut akan menjadi indikator penting bagi The Fed dalam menentukan langkah kebijakan moneter selanjutnya. Jika data menunjukkan pasar tenaga kerja yang masih ketat, tekanan untuk menaikkan suku bunga bisa meningkat, yang pada gilirannya akan memperkuat dolar AS dan menekan rupiah lebih lanjut.
Dari dalam negeri, pemerintah bersama DPR, Bank Indonesia (BI), dan Dewan Ekonomi Nasional (DEN) telah menggelar rapat koordinasi untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi dan memitigasi dampak ketidakpastian global. Wakil Menteri Keuangan Juda Agung menegaskan bahwa kondisi APBN masih terjaga, dengan defisit hingga Mei 2026 tercatat hanya 0,7% terhadap PDB. Angka ini jauh di bawah batas aman 3% yang ditetapkan undang-undang, memberikan ruang fiskal yang cukup bagi pemerintah untuk merespons gejolak eksternal.
Stabilitas fiskal menjadi salah satu faktor yang dicermati pelaku pasar dalam menilai risiko investasi di Indonesia. Di tengah tekanan global terhadap nilai tukar, kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap rendah dapat membantu mempertahankan kepercayaan investor. Namun, pergerakan rupiah ke depan masih sangat tergantung pada perkembangan data ekonomi AS dan sikap The Fed. Apakah data tenaga kerja AS pekan ini akan mendorong The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga, atau justru memberikan sinyal dovish yang bisa meredakan tekanan terhadap rupiah?



