Pasar Saham dan Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian Gencatan Senjata Iran-AS; Yen Terjun ke Level Terendah 38 Tahun
Baca dalam 60 detik
- Indeks saham global dan harga minyak mentah kompak naik pada awal pekan, didorong oleh rencana pertemuan teknis Iran-AS di Doha untuk membahas gencatan senjata.
- Yen Jepang terdepresiasi hingga 161,97 per dolar AS, level terlemah sejak 1986, akibat selisih suku bunga yang masih lebar dengan Amerika Serikat.
- Pasar kini menanti data tenaga kerja AS pekan ini yang bisa mempengaruhi sikap hawkish Federal Reserve dan arah kebijakan suku bunga global.

Pasar keuangan global memulai pekan dengan nada optimis, ditandai dengan penguatan indeks saham dan harga minyak mentah, meskipun ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat masih membayangi prospek perdamaian. Investor mencermati rencana pertemuan teknis kedua negara di Doha dalam waktu dekat, sementara serangan balasan akhir pekan lalu mengingatkan betapa rapuhnya kesepakatan sementara yang tengah dirundingkan.
Wall Street memimpin penguatan, dengan sektor teknologi bangkit setelah aksi jual besar-besaran pekan lalu yang dipicu kekhawatiran belanja kecerdasan buatan (AI). Dow Jones Industrial Average naik 0,59 persen, S&P 500 menguat 1,17 persen, dan Nasdaq Composite melesat 2,07 persen. Indeks saham global MSCI juga menanjak 0,89 persen. Namun, bursa Eropa hanya mencatat kenaikan tipis di bawah 0,1 persen, mencerminkan sikap hati-hati investor di kawasan tersebut.
Di pasar komoditas, minyak mentah Brent ditutup naik 1,61 persen menjadi 73,15 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) menguat 2,2 persen ke 70,75 dolar AS. Meskipun menguat harian, harga minyak masih tertekan signifikan dalam sebulan terakhir. Analis ING mencatat bahwa pelaku pasar mulai fokus pada dampak potensial pemulihan pasokan minyak dari Teluk terhadap keseimbangan global, namun risiko masih membayangi.
Kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve terus mendorong penguatan dolar AS, yang pada gilirannya menekan yen Jepang ke level terendah dalam 38 tahun. Yen menyentuh 161,97 per dolar, melampaui titik terendah sebelumnya. Analis LMAX Group menilai kenaikan suku bunga Bank of Japan sebesar 25 basis poin menjadi 1,00 persen belum cukup untuk mengimbangi selisih imbal hasil yang lebar dengan AS, terutama setelah The Fed mempertahankan sikap hawkish.
Bagi Indonesia, pergerakan harga minyak dan nilai tukar yen memiliki implikasi langsung. Kenaikan harga minyak berpotensi menambah beban subsidi energi, sementara pelemahan yen dapat mempengaruhi daya saing ekspor Indonesia dan arus modal asing. Di sisi lain, penguatan dolar AS menekan nilai tukar rupiah dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi impor.
Fokus pasar pekan ini adalah laporan ketenagakerjaan AS untuk bulan Juni yang akan dirilis Kamis. Tiga bulan berturut-turut data penggajian di atas ekspektasi telah memperkuat sikap hawkish The Fed. Namun, jika pasar tenaga kerja menunjukkan pendinginan, bisa memicu evaluasi ulang kebijakan suku bunga. Saat ini, investor memperkirakan setidaknya satu kenaikan suku bunga tahun ini, sebuah pembalikan tajam dari ekspektasi dua kali pemotongan sebelum perang Iran.
Emas tertekan oleh dolar yang kuat, turun 1,8 persen menjadi 4.014,59 dolar AS per ons, dan menuju penurunan kuartalan terbesar sejak 2013. Dengan ketidakpastian geopolitik yang masih tinggi dan data ekonomi yang akan datang, volatilitas pasar diperkirakan masih akan berlanjut dalam beberapa pekan ke depan.



