Piala Dunia 2026: AS Diuji Bosnia di Babak 32 Besar, Bisakah Menjinakkan Naga?
Baca dalam 60 detik
- Timnas AS yang lolos awal ke fase gugur kini bersiap menghadapi Bosnia, tim kuda hitam yang menyingkirkan Italia di kualifikasi.
- Kapten AS Tim Ream mengingatkan rekan setimnya untuk tidak meremehkan Bosnia yang dikenal solid secara defensif dan berbahaya dalam transisi.
- Pertandingan ini menjadi ujian konsistensi AS sebagai tuan rumah, sekaligus peluang bagi Bosnia untuk menulis sejarah baru di panggung dunia.

Santa Clara, California โ Tim nasional Amerika Serikat yang melaju percaya diri ke babak 32 besar Piala Dunia 2026 harus mewaspadai jebakan Bosnia dan Herzegovina. Laga yang berlangsung di Levi's Stadium, Rabu (30/6) waktu setempat, menjadi ujian pertama bagi AS di fase gugur setelah mereka menuntaskan fase grup dengan hasil impresif.
AS memastikan tempat di babak knockout setelah memenangi dua laga awal grup. Namun, kekalahan tipis dari Turki di laga terakhir grup menjadi pengingat bahwa tim asuhan Gregg Berhalter tidak boleh lengah. Kini, mereka menghadapi Bosnia yang lolos ke Piala Dunia setelah secara mengejutkan mengalahkan Italia di babak kualifikasiโsebuah prestasi yang membuat empat kali juara dunia itu harus puas menonton dari rumah.
Kapten AS, Tim Ream, menegaskan bahwa Bosnia bukan lawan yang bisa dianggap enteng. "Mereka tim yang sulit dihadapi dan layak berada di turnamen ini. Mereka melewati jalan berliku untuk sampai ke sini dan merupakan tim yang sangat tangguh," ujar Ream dalam konferensi pers, Senin (28/6). Menurutnya, kunci keberhasilan AS adalah fokus pada permainan sendiri dan mempersiapkan segala kemungkinan.
Bosnia, yang dijuluki Naga, membangun permainan di atas organisasi pertahanan yang rapi. Namun, Ream menolak spekulasi bahwa Bosnia akan bermain bertahan total. "Saya tidak yakin mereka hanya akan bertahan. Kami harus siap menghadapi yang tak terduga," tambahnya. Di sisi lain, AS mengandalkan ketajaman Christian Pulisic dan Folarin Balogun untuk membongkar pertahanan lawan, serta berharap dukungan penuh dari publik tuan rumah.
Bosnia datang dengan skuad yang diisi pemain-pemain berpengalaman. Kapten mereka, Edin Dzeko, yang kini berusia 40 tahun, masih menjadi ancaman utama di lini depan. Selain Dzeko, Bosnia memiliki Ermedin Demirovic yang kuat secara fisik dan remaja sayap Kerim Alajbegovic yang cepat. Kiper Nikola Vasilj juga menjadi pahlawan di babak kualifikasi, termasuk dalam adu penalti. Menyadari potensi Bosnia dalam duel satu lawan satu, Ream mengungkapkan bahwa AS telah melatih tendangan penalti dan bola mati secara intensif. "Satu kesalahan dalam skema bola mati bisa membuat Anda pulang. Kami fokus pada semua aspek permainan," tegasnya.
Bagi Indonesia, pertandingan ini menarik untuk dicermati karena gaya bermain Bosnia yang disiplin dan mengandalkan serangan balik bisa menjadi pelajaran berharga. Timnas Indonesia kerap menghadapi lawan-lawan dengan pendekatan serupa di level Asia. Selain itu, performa AS sebagai tuan rumah juga menjadi tolok ukur bagi negara-negara yang bercita-cita menjadi tuan rumah Piala Dunia di masa depan. Apakah AS mampu menjaga konsistensi dan melaju jauh, atau justru Bosnia yang akan menciptakan kejutan lain?
Laga ini diprediksi berjalan ketat. AS diunggulkan, tetapi Bosnia memiliki mentalitas underdog yang berbahaya. Pertanyaan besarnya: bisakah AS mengatasi tekanan sebagai tuan rumah dan melewati ujian pertama di fase gugur, atau justru Bosnia yang akan menulis ulang sejarah sepak bola mereka?



