Jalur Shah Alam Beroperasi, Warga Malaysia Rasakan Perubahan Besar
Baca dalam 60 detik
- Jalur LRT Shah Alam resmi beroperasi dan langsung dipadati sekitar 10.000 penumpang pada hari pertama.
- Para pengguna melaporkan penghematan waktu tempuh hingga 30 menit serta kemudahan akses ke pusat perbelanjaan dan kawasan populer.
- Kehadiran jalur ini dinilai mampu mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan kemacetan di Lembah Klang.

Jalur Lintas Rel Terpadu (LRT) Shah Alam, yang sebelumnya dikenal sebagai LRT3, resmi beroperasi dan langsung mencatat lonjakan penumpang hingga 10.000 orang pada pagi pertama. Warga yang selama ini bergantung pada kendaraan pribadi atau rute kereta yang memutar kini merasakan perbedaan signifikan dalam mobilitas sehari-hari.
Krishna Bahawan, seorang pensiunan guru berusia 82 tahun, mengaku jalur baru ini membantunya kembali bertemu teman-teman lama di Klang tanpa harus menyetir. โSaya sudah bertahun-tahun tidak bisa bertemu langsung karena tidak percaya diri mengemudi di usia saya. Sekarang saya bisa jalan kaki lebih banyak dan tetap bugar,โ ujarnya. Kisah serupa datang dari Colt Tan, mahasiswa 20 tahun, yang menghemat sekitar 30 menit perjalanan menuju Bandar Utama berkat transfer langsung di Stasiun Glenmarie.
Para pensiunan seperti Chan (70) dan Ariffin (67) memuji kenyamanan stasiun yang lebih sejuk dan koneksi pendek antara stasiun MRT dan LRT Bandar Utama. Ariffin, yang datang dari Klang, merasa terbebas dari kemacetan panjang menuju Kuala Lumpur. โSaya bisa jalan-jalan kapan saja tanpa macet berjam-jam. Parkir di stasiun juga mudah,โ katanya. Umah Rajendran, sekretaris pensiunan 53 tahun, senang bisa mengajak anak-anaknya ke pusat perbelanjaan seperti 1 Utama dan i-City tanpa mobil.
CEO Prasarana Malaysia Bhd, Amir Hamdan, menyebut jumlah penumpang hari pertama melampaui ekspektasi, mengingat jalur ini memiliki rute dan rangkaian kereta yang lebih pendek dibanding Jalur MRT Putrajaya saat diluncurkan pada Maret 2023. โAda beberapa masalah kecil, tapi tidak signifikan,โ ujarnya. Ia menambahkan bahwa gerbong khusus wanita belum direncanakan, namun akan disesuaikan dengan pola penggunaan.
Keberhasilan awal Jalur Shah Alam membuka peluang bagi pengembangan transportasi massal yang lebih terintegrasi di kawasan suburban. Pertanyaannya, apakah model ini dapat direplikasi di kota-kota besar Indonesia yang juga bergulat dengan kemacetan dan ketergantungan pada kendaraan pribadi?



