Sylvester Stallone Ungkap Traumanya Dirawat di Rumah Sakit Jiwa Saat Remaja: 'Mereka Mencoba Menghancurkanku'
Baca dalam 60 detik
- Sylvester Stallone membuka pengalaman kelam masa remajanya ketika dikirim ke fasilitas kesehatan mental Devereux Manor di Pennsylvania dan sempat dirawat di bangsal psikiatri selama beberapa minggu.
- Dalam memoar terbarunya, The Steps, aktor berusia 80 tahun itu mendeskripsikan kekerasan fisik dan pengalaman traumatis yang ia alami, termasuk serangan dari penghuni lain.
- Pengakuan ini menyoroti isu kesehatan mental remaja dan pentingnya pendekatan yang lebih manusiawi dalam penanganan gangguan jiwa, terutama di institusi pendidikan.

Sylvester Stallone, ikon film laga Hollywood yang kini berusia 80 tahun, mengungkap babak kelam masa remajanya: ia pernah dikirim ke sebuah lembaga perawatan kesehatan mental di Pennsylvania dan dirawat di bangsal psikiatri selama beberapa minggu. Pengalaman itu ia tuliskan dalam memoar terbaru berjudul The Steps, yang mulai menarik perhatian publik setelah wawancara dengan The New York Times.
Stallone mengisahkan bahwa semuanya bermula ketika ia bersekolah di Devereux Manor, sebuah institusi yang dikelola oleh yayasan Devereux Advanced Behavioral Health. Lembaga itu melayani individu dengan autisme, disabilitas intelektual dan perkembangan, serta masalah kesehatan mental. Namun, bagi Stallone remaja, tempat itu bukan sekadar sekolah—ia menggambarkannya sebagai pengalaman yang mengerikan.
Dalam memoarnya, Stallone menceritakan bagaimana ia dan teman-temannya yang melanggar aturan—seperti menyelinap keluar untuk bertemu gadis—akan dibawa ke sebuah tempat yang disebut Park Lodge atau "Snake Pit". "Dari luar tampak seperti rumah Tudor tua yang besar dari tahun 20-an, dan kemudian Anda masuk ke dalam dan Anda memasuki jantung kegilaan," ujarnya kepada The New York Times. Ia masih mengingat jelas bau, kotoran, orang-orang berlarian telanjang, mencakar, tangan terikat, dan air liur yang berceceran. "Inilah yang mereka pikir akan membuatmu terkesan dan tidak akan pernah melanggar aturan lagi," tambahnya.
Stallone mengaku pernah dirawat di bangsal psikiatri selama beberapa minggu. Meski mengerikan, ia menyebut pengalaman itu sebagai salah satu hal terbaik yang pernah terjadi. "Aku berkata, 'Aku tahu mereka akan mencoba menghancurkanku.' Aku diserang di sana. Mereka mencoba merobek selangkanganku," kenangnya. Ia juga mengklaim dikirim ke fasilitas tersebut bersama seorang siswa lain yang dijuluki Jay Bird, yang digambarkan bertubuh besar, botak, selalu telanjang, dan bergigi busuk. "Dia masuk dan mendekati saya, mencekik leher saya, dan meraba-raba celana saya," jelas Stallone. Dua penjaga kemudian masuk dan memukuli Jay Bird dengan tali pisau cukur. "Saya bertanya, 'Ada apa sebenarnya dengannya?' Dan mereka menjawab, 'Kau berada di rumah sakit jiwa, Nak. Tidak ada yang salah dengannya. Dia gila.'"
Kisah Stallone bukan hanya catatan pribadi seorang bintang film. Ia menyoroti realitas kelam institusi kesehatan mental pada masa lalu, terutama bagi remaja. Devereux Advanced Behavioral Health sendiri adalah organisasi nirlaba yang telah beroperasi sejak 1912 dan kini melayani lebih dari 20.000 individu di berbagai negara bagian. Namun, masa lalu institusi semacam itu sering kali diwarnai praktik yang jauh dari standar perawatan modern.
Bagi pembaca di Indonesia, kisah ini menjadi cermin penting. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan bahwa 9,8% remaja Indonesia mengalami gangguan mental emosional, sementara akses layanan kesehatan jiwa masih sangat terbatas. Stigma terhadap gangguan mental juga masih kuat, membuat banyak orang enggan mencari bantuan. Pengalaman Stallone—yang justru menemukan ketangguhan dari trauma—bisa menjadi pemicu diskusi tentang bagaimana sistem pendidikan dan perawatan kesehatan mental di Indonesia perlu dibenahi.
"Itu mengerikan, tapi bagiku, ini juga salah satu hal terbaik yang terjadi," ujar Stallone, menggambarkan bagaimana tekanan ekstrem membentuk ketangguhannya.
Pengakuan Stallone juga mengundang pertanyaan tentang tanggung jawab institusi yang menangani anak-anak dan remaja dengan kebutuhan khusus. Di Indonesia, Undang-Undang Kesehatan Jiwa No. 18 Tahun 2014 mengamanatkan perawatan berbasis komunitas dan larangan pemasungan, tetapi implementasinya masih jauh dari ideal. Kasus Stallone bisa menjadi pengingat bahwa pendekatan represif terhadap perilaku remaja tidak menyelesaikan masalah, melainkan menanamkan trauma jangka panjang.
Ke depan, terbuka pertanyaan: apakah sistem kesehatan mental di berbagai negara, termasuk Indonesia, sudah cukup melindungi kelompok rentan? Ataukah kita masih mengandalkan cara-cara kuno yang justru memperburuk kondisi? Stallone telah berbicara. Kini giliran pembuat kebijakan untuk mendengar.



