Bambu Jadi Jawaban Krisis Kayu Willow di Kriket, tapi Aturan MCC Masih Menghadang
Baca dalam 60 detik
- Kelangkaan kayu willow memicu pencarian material alternatif untuk alat pemukul kriket, dan bambu laminasi muncul sebagai kandidat kuat.
- Peneliti Cambridge mengklaim performa bambu mendekati willow, dengan biaya produksi jauh lebih murah dan pertumbuhan lebih cepat.
- Regulasi MCC saat ini melarang bat berbahan bambu karena dianggap laminasi ganda dan berasal dari rumput, meski pelonggaran untuk kriket rekreasi mulai terbuka.

Lapangan kriket dunia menghadapi ancaman yang jarang dibicarakan: pasokan kayu willow untuk bat semakin menipis. Perubahan iklim yang memperparah kondisi pertumbuhan pohon, ditambah meledaknya jumlah pemain kriket menjadi 200 juta orang di seluruh dunia, membuat kebutuhan akan material alternatif menjadi mendesak. Darshil Shah, associate professor ilmu material dan desain di University of Cambridge, menawarkan solusi tak terduga: bambu.
Selama ini, willow dan kriket seperti dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. Bat tangan yang indah, pohon yang kaya serangga—begitu romantisnya hubungan itu. Namun, angka tidak lagi mendukung. Inggris memproduksi setengah juta cleft willow per tahun, sementara Kashmir menghasilkan 1,5 hingga 3 juta. Satu cleft sama dengan satu bat. Dengan populasi pemain yang terus bertambah, pasokan tak akan pernah cukup.
Masalah bertambah karena petani di Kashmir beralih menanam poplar, pohon yang tumbuh lebih cepat dan disukai industri produk kayu. Harga willow pun melonjak dari £60 per cleft menjadi £120 dalam beberapa tahun terakhir. Akibatnya, bat jadi barang mahal yang tak terjangkau banyak orang. Kriket pun perlahan mengusir mereka yang ingin bermain.
Shah telah mengembangkan bat bambu sejak 2019, ketika rekan-rekannya meneliti bambu laminasi untuk bangunan. Ia mencoba sisa potongan bambu untuk melihat apakah bisa berfungsi sebagai bat. Tantangan awal muncul: prototipe terlalu berat dan memiliki pantulan bola 30% lebih baik dari willow. Timnya mengatasinya dengan mengurangi material hingga bentuknya menyerupai bat era 1990-an. Masalah daya tahan—lapisan bambu yang mengelupas—diatasi dengan perbaikan proses. Kini, kata Shah, performanya cukup mirip dengan bat willow. "Kami masih banyak bekerja pada cara menguji bat karena saat ini, tidak seperti klub golf, bat tidak diuji sama sekali," ujarnya.
Pada konferensi Innovation Sustainability and Access in Cricket di Cambridge pekan lalu, Abidine Sakande, mantan pemain profesional Leicestershire dan Sussex yang kini bekerja di sektor lingkungan, mencoba bat tersebut. "Saat melihatnya, Anda tidak langsung berpikir ini akan berhasil, dan terasa agak kaku. Tapi meski belum produk jadi, ada sweet spot yang terasa saat mengenai bola," katanya.
Dari sisi keberlanjutan, Shah melakukan penilaian siklus hidup untuk pertama kalinya. Ia membandingkan bat willow laminasi, bat tradisional, dan bat bambu laminasi. Hasilnya, dampak lingkungan dari proses produksi ketiganya relatif mirip. "Yang kunci adalah emisi terkait transportasi dua hingga tiga kali lipat dampak lingkungan bat. Masalahnya ada pada impor dan ekspor bahan mentah," jelasnya. Kesimpulannya, bat sebaiknya dibuat dari material lokal. Willow Inggris untuk pasar Eropa dan Inggris, willow Kashmir untuk Asia. Bambu unggul karena tumbuh di banyak wilayah tempat kriket berkembang.
Namun, ada satu rintangan besar. Marylebone Cricket Club (MCC) selaku penjaga hukum kriket saat ini melarang bat bambu karena dianggap laminasi ganda dan berasal dari rumput. Meski begitu, Shah optimistis. "Hukum dulu diterapkan dari pertandingan internasional hingga lapangan desa, tapi ini sudah berubah. Saya tidak akan terkejut jika lebih banyak jenis bat laminasi diizinkan untuk area akses berbiaya rendah," ujarnya.
"Kriket dan willow sangat terkait. Tapi saya berharap, seiring olahraga ini tumbuh di negara-negara yang tidak terlalu akrab dengan kaitan itu, mereka akan lebih terbuka menggunakan bat dari bahan lain. Biaya adalah masalah besar, saat ini kriket membuat orang tersingkir dari permainan."
— Darshil Shah, University of Cambridge
Shah mengakui pasar bat bambu kemungkinan bukan kriket profesional, melainkan sekolah-sekolah dan permainan rekreasi. Di sana, anak-anak sudah sering memakai bat plastik. Jika orang bisa dibujuk mencoba hal baru, bambu bisa menjadi jalan keluar dari krisis biaya dan lingkungan.
Bagi Indonesia, di mana kriket belum menjadi olahraga arus utama namun mulai diminati di komunitas tertentu, inovasi ini menawarkan peluang. Bambu tumbuh subur di Nusantara, dan jika regulasi internasional melonggar, Indonesia bisa menjadi pemasok bahan baku bat ramah lingkungan. Pertanyaannya, akankah MCC segera merevisi aturan sebelum willow benar-benar habis?



