Kerugian Indofarma Susut 69,8% di Kuartal I-2026, tapi Beban Bunga dan Utang Pajak Masih Menggunung
Baca dalam 60 detik
- Rugi bersih Indofarma (INAF) turun drastis menjadi Rp7,58 miliar pada kuartal I-2026 dari Rp25,1 miliar periode sama tahun lalu, didorong kenaikan penjualan 45,1%.
- Meski laba kotor berbalik positif, beban keuangan baru Rp4,42 miliar dan liabilitas Rp1,2 triliun membuat ekuitas negatif Rp714,52 miliar.
- Arus kas operasi positif Rp6,23 miliar menjadi sinyal likuiditas membaik, namun utang pajak Rp318,25 miliar masih menjadi beban berat.

PT Indofarma (Persero) Tbk (INAF) berhasil memangkas kerugian bersih hingga 69,8% secara tahunan pada kuartal pertama 2026, namun tekanan dari beban bunga dan struktur utang yang masih besar mengindikasikan jalan menuju pemulihan penuh masih panjang. Emiten pelat merah ini mencatat rugi periode berjalan sebesar Rp7,58 miliar, turun signifikan dari Rp25,1 miliar pada kuartal I-2025, berdasarkan laporan keuangan yang disampaikan ke Bursa Efek Indonesia (BEI).
Perbaikan kinerja tersebut utamanya ditopang oleh lonjakan penjualan bersih sebesar 45,1% menjadi Rp53,33 miliar, dibandingkan Rp36,76 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi dibandingkan kenaikan beban pokok penjualan—yang naik menjadi Rp48,58 miliar dari Rp42,37 miliar—berhasil membalikkan posisi laba kotor. Indofarma mencatat laba kotor Rp4,75 miliar, kontras dengan rugi bruto Rp5,60 miliar setahun sebelumnya.
Efisiensi operasional juga menjadi faktor pendorong. Beban penjualan merosot tajam dari Rp3,88 miliar menjadi hanya Rp353,1 juta, sementara beban umum dan administrasi turun 48,4% menjadi Rp6,55 miliar. Rugi dari pos lain-lain pun menyusut menjadi Rp1,02 miliar dari Rp3,24 miliar. Alhasil, rugi usaha berhasil ditekan hingga 87,5% menjadi Rp3,18 miliar dari sebelumnya Rp25,44 miliar.
Namun, di balik perbaikan operasional tersebut, struktur keuangan Indofarma masih menunjukkan kerentanan. Perseroan mulai mencatat beban keuangan sebesar Rp4,42 miliar pada kuartal I-2026, yang ikut menekan laba sebelum pajak menjadi rugi Rp7,60 miliar—meski masih jauh lebih rendah dibandingkan rugi Rp25,44 miliar setahun lalu. Total liabilitas perseroan mencapai Rp1,20 triliun, sementara total aset justru turun menjadi Rp489,67 miliar dari Rp535,99 miliar pada akhir 2025. Kondisi ini menyebabkan defisiensi ekuitas sebesar Rp714,52 miliar.
Utang pajak yang masih tinggi, yakni Rp318,25 miliar, menjadi indikator lain bahwa beban masa lalu belum terselesaikan. Meski demikian, terdapat sinyal positif dari sisi likuiditas: arus kas dari aktivitas operasi berbalik positif menjadi Rp6,23 miliar, dibandingkan arus kas operasi negatif Rp18,74 miliar pada kuartal I-2025. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan usaha inti mulai menghasilkan kas, bukan justru mengurasnya.
Bagi investor dan pelaku pasar, perbaikan bottom line Indofarma patut diapresiasi, namun risiko solvabilitas masih menjadi perhatian utama. Dengan rasio liabilitas terhadap aset yang mencapai 2,45 kali, perseroan masih berada dalam zona kritis. Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Indofarma mampu mempertahankan momentum penjualan dan efisiensi biaya sambil merestrukturisasi utang yang menggunung. Tanpa langkah strategis yang jelas—seperti rights issue atau injeksi modal dari pemerintah—masa kritis mungkin belum benar-benar berlalu.



