AS Jamin Tak Akan Matikan Akses AI untuk India di Tengah Perluasan Pax Silica
Baca dalam 60 detik
- Washington memberikan jaminan kepada New Delhi bahwa akses terhadap model AI canggih tidak akan diputus sepihak, menyusul larangan mendadak terhadap produk Anthropic.
- Inisiatif Pax Silica yang digagas AS untuk membangun rantai pasok AI bebas China terus meluas, dengan anggota baru dari Eropa dan Amerika Latin.
- Kekhawatiran akan ketergantungan pada teknologi AS mendorong sejumlah negara, termasuk Indonesia, untuk mempercepat pengembangan model AI mandiri.

Pemerintah Amerika Serikat memberikan jaminan kepada India bahwa akses terhadap model kecerdasan buatan (AI) mutakhir tidak akan diputus secara sepihak di masa mendatang. Jaminan ini disampaikan langsung oleh pejabat AS di sela-sela pertemuan puncak Pax Silica di Washington, setelah sebelumnya Washington melarang penggunaan model AI canggih buatan Anthropic oleh warga negara asing dengan alasan keamanan nasional.
S. Krishnan, Sekretaris Kementerian Elektronika dan Teknologi Informasi India sekaligus ketua delegasi negaranya, mengungkapkan bahwa ada pemahaman yang jelas dari pihak AS. “Mereka menegaskan bahwa akses terhadap teknologi, begitu diberikan, tidak akan diputus. Itu adalah sebuah jaminan,” ujarnya kepada South China Morning Post. India sebelumnya menyuarakan kekhawatiran atas apa yang disebut sebagai “saklar pemutus” AI yang dapat membuat negara pengguna tiba-tiba kehilangan akses.
Langkah kontroversial AS pada awal Juni lalu—yang memblokir akses global ke model Fable 5 dan Mythos 5 milik Anthropic tanpa pemberitahuan—telah memicu kegelisahan di antara negara-negara sekutu. Perancis, Kanada, dan sejumlah negara Eropa mengecam kebijakan tersebut sebagai tindakan nasionalistis yang justru mendorong negara lain untuk mengejar “kedaulatan digital”. Perdana Menteri Perancis Sebastien Lecornu bahkan menyerukan pengurangan ketergantungan pada teknologi asing.
Di tengah kekhawatiran itu, Pax Silica—sebuah inisiatif yang digagas AS untuk membangun rantai pasok AI yang bebas dari pengaruh China—terus memperluas jaringannya. Pekan ini, Uni Eropa, Belanda, Jerman, dan Yunani resmi bergabung, sementara Kazakhstan, Argentina, Chili, Kosta Rika, El Salvador, dan Panama akan menyusul. Kelompok ini berfokus pada pengamanan rantai pasok semikonduktor, logistik, dan mineral kritis dengan memanfaatkan kekuatan investasi dan teknologi masing-masing anggota.
Bagi Indonesia, dinamika ini memiliki implikasi langsung. Sebagai negara dengan ekosistem digital yang tumbuh pesat dan ambisi mengembangkan AI nasional, Indonesia perlu mencermati risiko ketergantungan pada platform asing. Langkah India yang secara terbuka meminta jaminan akses bisa menjadi preseden bagi negara-negara berkembang lainnya. Apalagi, Pax Silica juga mengumumkan Pax Pass, platform senilai 50 juta dolar AS untuk mempercepat pergerakan produk rantai pasok AI bernilai tinggi melalui Terusan Panama, yang menunjukkan bahwa persaingan teknologi kian terintegrasi dengan infrastruktur global.
Jacob Helberg, Wakil Menteri Luar Negeri AS untuk Urusan Ekonomi, menegaskan bahwa pendekatan Washington bersifat bertahap dan terukur. “Niat kami adalah terus melanjutkan pelepasan model Anthropic secara aman, baik untuk diri kami sendiri maupun untuk mitra India,” katanya. Namun, kritik dari sekutu dekat AS seperti Perancis dan Kanada menunjukkan bahwa kebijakan unilateral Washington berpotensi mengikis kepercayaan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan menyebut China sebagai “risiko terbesar” bagi kepemimpinan AI Amerika, melampaui kekhawatiran akan keselamatan atau hilangnya lapangan kerja.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: akankah jaminan AS terhadap India berlaku pula bagi negara lain, termasuk Indonesia? Ataukah Pax Silica justru akan menjadi alat baru untuk memperkuat hierarki teknologi global, di mana hanya segelintir negara yang benar-benar memegang kendali?



