Euforia Roland Garros, Zverev dan Andreeva Siap Menggebrak Wimbledon
Baca dalam 60 detik
- Alexander Zverev dan Mirra Andreeva, juara baru Prancis Terbuka, mengincar gelar Wimbledon dengan kepercayaan diri yang meningkat.
- Zverev butuh 41 percobaan untuk meraih Grand Slam pertamanya, sementara Andreeva hanya 13; keduanya kini dihadapkan pada tantangan lapangan rumput.
- Tak ada petenis putri yang menyelesaikan double Prancis Terbuka-Wimbledon sejak Serena Williams pada 2015, menjadikan misi Andreeva semakin berat.

Dua pekan setelah mengangkat trofi di Roland Garros, Alexander Zverev dan Mirra Andreeva memasuki Wimbledon dengan harapan besar—namun juga kesadaran bahwa euforia Paris tak otomatis menjamin sukses di lapangan rumput London. Zverev, yang akhirnya memecahkan kutukan Grand Slam pada percobaan ke-41, mengaku hidupnya tak banyak berubah. Andreeva, yang baru berusia 19 tahun, justru menyebut sensasi juara sebagai "kecanduan kecil" yang ingin ia ulangi.
Zverev, unggulan kedua, mengakui Wimbledon selalu menjadi turnamen yang paling sulit baginya. Rekor terbaiknya hanya mencapai babak keempat, jauh dari ekspektasi untuk petenis dengan servis mematikan seperti dirinya. Namun, petenis Jerman itu merasa ada yang berbeda tahun ini. "Saya punya persiapan yang baik dan bermain tenis yang bagus. Itu yang bisa saya kendalikan, sisanya akan mengikuti," ujarnya kepada wartawan, Sabtu (27/6). Di babak pertama, ia akan menghadapi Alexander Blockx asal Belgia yang berada di peringkat 37—sebuah ujian awal yang tak bisa dianggap enteng.
Sementara itu, Andreeva yang kini duduk di peringkat lima dunia, berusaha menahan ekspektasi setelah penampilan gemilangnya di Paris. Tahun lalu ia mencapai perempat final Wimbledon pada penampilan ketiganya di turnamen utama. "Saya tidak akan memasang target apa pun pada diri sendiri karena kadang itu justru membuat segalanya berantakan. Saya hanya akan fokus pada cara bermain di setiap pertandingan," kata petenis Rusia itu. Lawan pertamanya adalah Magda Linette dari Polandia.
Sejarah mencatat, tak ada petenis putri yang sukses meraih double Prancis Terbuka-Wimbledon sejak Serena Williams melakukannya pada 2015. Andreeva sadar betul tantangan itu, namun ia memilih untuk tidak terbebani. Yang menarik, salah satu hal yang paling dinikmatinya di Wimbledon adalah tinggal di rumah, bukan hotel. "Saya suka tidak melihat wajah pemain lain setiap hari. Itu hanya lelucon, tidak menyinggung siapa pun. Tapi kami menghabiskan begitu banyak waktu bersama, kadang menyenangkan jika tidak tinggal di tempat yang sama," ujarnya sambil tersenyum.
Bagi penggemar tenis Indonesia, pencapaian Zverev dan Andreeva menjadi pengingat bahwa konsistensi dan kesabaran adalah kunci di level tertinggi. Zverev, yang sempat diragukan kemampuannya memenangkan turnamen besar, akhirnya membuktikan diri. Sementara Andreeva, yang masih sangat muda, menunjukkan bahwa bakat dan mentalitas bisa membawa seseorang melampaui ekspektasi. Wimbledon tahun ini juga menarik karena absennya beberapa nama besar karena cedera, membuka peluang bagi para juara baru.
Pertanyaannya kini: mampukah Zverev mengatasi momok lapangan rumput yang selama ini menjadi kelemahannya? Dan bisakah Andreeva mengulang keajaiban Paris di London? Dengan persaingan yang semakin ketat, jawabannya akan terungkap dalam dua pekan ke depan.



