CoreWeave Naikkan Target Belanja Modal 2026, Saham Melonjak 14%
Baca dalam 60 detik
- Perusahaan komputasi awan CoreWeave menaikkan proyeksi belanja modal tahun ini menjadi US$35โ39 miliar, didorong lonjakan permintaan layanan AI.
- Pendapatan kuartal II mencapai US$2,58 miliar, melampaui estimasi analis, dengan backlog pesanan menembus US$104 miliar.
- Langkah ini menegaskan dominasi penyedia infrastruktur AI di tengah persaingan global, sekaligus membuka peluang bagi pasar Asia Tenggara.

CoreWeave, perusahaan penyedia komputasi awan berbasis kecerdasan buatan (AI), mengerek proyeksi belanja modal tahun 2026 setelah mencatatkan pendapatan kuartal kedua yang melampaui ekspektasi pasar. Saham perusahaan langsung meroket lebih dari 14 persen dalam perdagangan setelah jam bursa, mencerminkan keyakinan investor terhadap pertumbuhan bisnis infrastruktur AI yang kian menggeliat.
Dalam laporan keuangan yang dirilis Selasa (11/8), CoreWeave menaikkan target belanja modal tahun ini menjadi US$35โ39 miliar, naik dari perkiraan sebelumnya yang berkisar US$31โ35 miliar. Keputusan ini diambil seiring membengkaknya buku pesanan perusahaan yang menembus US$104,2 miliar hingga akhir Juni, meningkat dari US$99,4 miliar pada kuartal sebelumnya. Perusahaan juga mengklaim berhasil mengamankan komitmen pelanggan baru senilai lebih dari US$25 miliar pada kuartal berjalan.
Lonjakan permintaan ini tidak lepas dari peran CoreWeave sebagai salah satu pemasok utama kapasitas komputasi berbasis chip Nvidia. Kedekatan dengan Nvidia memungkinkan perusahaan menarik pelanggan besar seperti Meta, Anthropicโpengembang model Claudeโdan Caterpillar. Fenomena ini juga dialami oleh sesama penyedia "neocloud" seperti Nebius, yang sama-sama diuntungkan oleh agresivitas belanja perusahaan global pada teknologi AI.
Pendapatan CoreWeave pada kuartal kedua berhasil mencapai US$2,58 miliar, lebih tinggi dari estimasi analis yang dipatok US$2,56 miliar. Meski masih mencatatkan kerugian per saham sebesar US$1,03, angka tersebut lebih baik dari proyeksi pasar yang memperkirakan kerugian US$1,20. Adapun belanja modal kuartalan naik signifikan menjadi US$9,4 miliar, dibandingkan US$6,8 miliar pada kuartal sebelumnya dan US$2,9 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
CEO CoreWeave, Michael Intrator, dalam konferensi pers setelah rilis laporan mengatakan bahwa perusahaan berhasil melampaui rencana di semua lini, dan efisiensi operasional yang selama ini dibangun mulai terlihat jelas. Ia juga mengungkapkan bahwa kapasitas komputasi jangka pendek perusahaan hampir habis terjual, sehingga memungkinkan negosiasi kontrak dengan persyaratan yang semakin menguntungkan.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menjadi sinyal penting bagi ekosistem AI nasional. Meski skala CoreWeave jauh di atas pemain lokal, tren peningkatan belanja infrastruktur AI global menunjukkan bahwa persaingan akan semakin ketat. Pemerintah Indonesia yang tengah mendorong transformasi digital dan pengembangan pusat data perlu mencermati strategi perusahaan-perusahaan besar ini. Ketersediaan chip canggih dan kemitraan strategis menjadi kunci untuk menarik investasi serupa di kawasan Asia Tenggara.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah pertumbuhan eksponensial CoreWeave dapat berkelanjutan seiring melambatnya belanja AI di beberapa sektor. Namun, dengan backlog yang sudah terkunci dan ekspansi kapasitas yang agresif, CoreWeave tampaknya berada di jalur yang tepat untuk mempertahankan momentumnya. Bagi pelaku industri di Indonesia, ini menjadi pengingat bahwa infrastruktur AI bukan sekadar tren, melainkan fondasi ekonomi digital masa depan.



