Como Habiskan Rp1 Triliun untuk Nico Paz: Strategi di Balik Pelanggaran FFP
Baca dalam 60 detik
- Como mengeluarkan โฌ60 juta untuk mengamankan Nico Paz secara permanen dari Real Madrid, meskipun klub diprediksi melanggar aturan Financial Fair Play UEFA.
- Dengan kerugian mencapai โฌ132 juta pada musim 2024-25, Como mengandalkan pemilik terkaya di Serie A dan negosiasi penyelesaian dengan UEFA untuk menghindari sanksi berat.
- Kesepakatan ini menunjukkan bagaimana klub dengan modal besar dapat memanfaatkan celah regulasi, namun berisiko dibatasi belanjanya dalam beberapa tahun ke depan.

Como 1907, klub promosi Serie A yang baru pertama kali lolos ke Liga Champions, menggebrak bursa transfer dengan menggelontorkan โฌ60 juta untuk mempertahankan Nico Paz secara permanen. Langkah ini terbilang kontroversial karena klub yang berbasis di Danau Como itu diprediksi akan melanggar aturan Financial Fair Play (FFP) UEFA. Namun, bagaimana mungkin sebuah klub yang nyaris bangkrut secara regulasi bisa mengeluarkan dana sebesar itu?
Menurut laporan La Gazzetta dello Sport, Como tidak akan bisa memenuhi batas kerugian maksimal โฌ60 juta dalam tiga tahun fiskal terakhir. Pada musim 2023-24, kerugian mereka mencapai โฌ50 juta, lalu melonjak drastis menjadi โฌ132 juta pada 2024-25. Meskipun ada perbaikan pada laporan keuangan 2025-26 yang berakhir Juni mendatang, kerugian diperkirakan masih sekitar โฌ100 juta. Artinya, Como jelas melampaui ambang batas yang ditetapkan UEFA.
Kunci dari kemampuan Como membelanjakan uang besar terletak pada pemiliknya: grup Hartono, konglomerat Indonesia yang dinobatkan sebagai pemilik terkaya di Serie A. Sejak mengambil alih klub pada 2019, mereka telah menyuntikkan dana sekitar โฌ390 juta. UEFA cenderung memandang positif klub yang melakukan investasi rasional dan memiliki pemilik dengan rekam jejak menyuntikkan modal. Selain itu, Como tidak memiliki utang kepada pemberi pinjaman dan memiliki aset bersih lebih dari โฌ54 juta.
Strategi Como adalah masuk ke dalam perjanjian penyelesaian (settlement agreement) dengan UEFA, seperti yang dilakukan beberapa klub Serie A sebelumnya. Dengan status sebagai pelanggar pertama (first-time offenders), Como berharap UEFA akan memberikan keringanan. Namun, konsekuensinya, klub akan dibatasi dalam pengeluaran transfer dan gaji selama tiga hingga empat tahun ke depan. Ini adalah risiko yang diperhitungkan: dengan lolos ke Liga Champions, pendapatan klub meningkat, namun pengawasan UEFA juga semakin ketat.
Bagi pembaca di Indonesia, langkah Como menjadi cerminan bagaimana pemilik klub dengan kekuatan finansial dapat memanfaatkan celah regulasi. Grup Hartono, yang juga memiliki Djarum, menunjukkan bahwa investasi di sepak bola Eropa tidak selalu soal keuntungan jangka pendek, melainkan membangun nilai aset. Namun, pertanyaan besarnya: apakah keberhasilan Como di lapangan akan sebanding dengan beban regulasi yang harus mereka tanggung? Ataukah ini hanya soal waktu sebelum sanksi UEFA benar-benar membatasi ambisi mereka?



