11 Bulan Berjalan, Sekolah Rakyat Tunjukkan Perubahan Nyata pada Siswa
Baca dalam 60 detik
- Mensos Saifullah Yusuf mengklaim Sekolah Rakyat yang telah beroperasi 11 bulan berhasil meningkatkan kedisiplinan dan kepercayaan diri siswa.
- Program ini menyasar anak putus sekolah dari keluarga miskin, seperti Marsya Dwi Cahyani yang kini kembali bersekolah dan bercita-cita menjadi dokter.
- Keberhasilan awal ini menjadi indikator potensi replikasi program ke daerah lain, meski tantangan pendanaan dan pemerataan masih mengemuka.

Setelah berjalan hampir satu tahun, program Sekolah Rakyat yang digagas Kementerian Sosial mulai memperlihatkan hasil nyata: para siswa yang sebelumnya putus sekolah kini menunjukkan peningkatan disiplin, kepercayaan diri, dan semangat belajar. Menteri Sosial Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan perkembangan ini dalam acara Open House Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 21 Surabaya, Jumat (26/6).
Gus Ipul mengungkapkan bahwa proses pembelajaran di Sekolah Rakyat terus membaik seiring berjalannya waktu. "Anak-anak sudah mulai lebih disiplin, lebih percaya diri, semangat belajarnya meningkat, pertumbuhan juga bagus, kesehatannya juga makin bagus," ujarnya. Acara yang digelar di Surabaya ini bertujuan memperkenalkan perkembangan siswa kepada orang tua, calon siswa, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah.
Dalam kunjungannya, Gus Ipul disambut penampilan siswa SRMA 21 Surabaya yang mempertunjukkan baris variasi, hadrah, tari tradisional, pencak silat, pidato bahasa Inggris dan Arab, paduan suara, serta puisi. Momen ini menjadi bukti bahwa siswa tidak hanya mendapat pendidikan akademik, tetapi juga pengembangan karakter dan keterampilan non-akademik.
Salah satu kisah yang menonjol datang dari Marsya Dwi Cahyani, siswi yang sebelumnya putus sekolah selama lebih dari setahun karena keterbatasan ekonomi. Ibunya, Ita Fitriani, mengaku bangga melihat perubahan Marsya yang kini berani tampil di depan umum. "Dulu pemalu sekali, tertutup anaknya. Sekarang sudah berani tampil," kata Ita. Marsya sendiri mengaku setelah dua semester di Sekolah Rakyat, ia menjadi lebih disiplin, terutama dalam menjalankan ibadah salat dan mengelola waktu.
Keberhasilan program ini menjadi angin segar bagi upaya pemerintah menekan angka putus sekolah di Indonesia. Namun, tantangan ke depan adalah memastikan keberlanjutan pendanaan dan perluasan jangkauan ke daerah-daerah lain yang membutuhkan. Acara Open House juga dihadiri oleh Sekda Jawa Timur Adi Karyono, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, serta perwakilan akademisi dan dinas terkait, menandakan dukungan lintas sektor terhadap program ini.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Sekolah Rakyat menjadi model pendidikan inklusif yang dapat direplikasi secara nasional, atau hanya akan menjadi proyek percontohan yang terbatas? Jawabannya akan sangat bergantung pada komitmen pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam menjaga momentum positif yang telah terbangun.



