Pochettino Bela Tim AS Usai Kalah dari Turki: Target Lolos Grup Sudah Tercapai
Baca dalam 60 detik
- AS kalah 2-3 dari Turki pada laga terakhir Grup D Piala Dunia, namun tetap menjadi juara grup.
- Pelatih Mauricio Pochettino menilai kekalahan itu tidak relevan karena timnya sudah memastikan diri ke babak gugur.
- AS akan menghadapi Bosnia dan Herzegovina di babak 32 besar, dengan kepercayaan diri tinggi berkat kedalaman skuad.

Kekalahan 2-3 dari Turki di laga pamungkas Grup D tidak membuat pelatih Tim Nasional Amerika Serikat, Mauricio Pochettino, patah semangat. Ia justru menegaskan bahwa target utama timnya telah tercapai: menjadi juara grup dan melaju ke babak gugur Piala Dunia.
Pertandingan di Inglewood, California, Kamis (25/6) waktu setempat, memang berakhir dramatis. Turki mencetak gol kemenangan di masa injury time, namun hasil itu tak mengubah posisi AS di puncak klasemen. Pochettino mengaku heran dengan sorotan media yang lebih menyoroti kekalahan ketimbang prestasi timnya yang berhasil memuncaki grup yang dianggap berat.
“Tidak ada satu pun yang mengucapkan selamat kepada kami karena finis pertama di grup yang sangat sulit,” ujar Pochettino dalam konferensi pers seusai laga. “Saya ucapkan selamat kepada pemain, staf, dan suporter. Kami mencapai target utama.”
Pelatih asal Argentina itu menambahkan bahwa kekalahan harus dilihat dalam konteks yang tepat. AS sudah memastikan tiket ke babak 32 besar setelah menekuk Paraguay dan Australia, sehingga Pochettino melakukan rotasi besar-besaran dengan menurunkan sejumlah pemain yang baru pertama kali tampil di Piala Dunia. “Begitu tim sudah lolos dan lawan sudah tersingkir, banyak situasi yang memengaruhi pertandingan,” katanya.
Pochettino menekankan bahwa kekalahan ini tidak mengurangi kepercayaan dirinya terhadap skuad. Ia justru melihat sisi positif dari pertandingan tersebut, yaitu kedalaman skuad yang teruji. “Kami adalah tim yang jauh lebih baik sekarang dibanding sebelumnya. Kami lolos sebagai juara grup. Saya perlu mengingatkan Anda bahwa kami memenangkan grup,” tegasnya.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, sikap Pochettino ini bisa menjadi pelajaran berharga. Dalam turnamen besar seperti Piala Dunia, manajemen skuad dan prioritas jangka panjang sering kali lebih penting daripada hasil satu laga. Timnas Indonesia yang sedang membangun fondasi untuk masa depan bisa mengambil inspirasi dari cara Pochettino menjaga moral tim meski menelan kekalahan.
Langkah AS selanjutnya adalah menghadapi Bosnia dan Herzegovina. Jika mampu melewati rintangan tersebut, potensi benturan dengan lawan-lawan berat seperti Brasil atau Jerman di babak berikutnya bisa menjadi ujian sesungguhnya. Pertanyaannya, mampukah Pochettino mempertahankan konsistensi performa timnya saat tekanan semakin besar?



