Gelombang Sargassum Menggila, Karibia Berlomba Ubah Rumput Laut Jadi Bahan Bakar
Baca dalam 60 detik
- Laut Karibia dilanda rekor tumpukan sargassum, memaksa industri pariwisata memangkas harga dan menggelontorkan jutaan dolar untuk pembersihan.
- Meksiko memimpin upaya penanggulangan dengan kapal pengeruk dan proyek biofuel, sementara para ilmuwan memperingatkan risiko ekologis dari pemanenan berlebihan.
- Konferensi internasional di Cancun akan membahas strategi pengendalian sargassum, membuka peluang bagi Indonesia yang juga rawan dampak rumput laut.

Ribuan pekerja hotel, operator traktor, dan personel angkatan laut Meksiko setiap fajar berjibaku membersihkan tumpukan rumput laut sargassum yang membusuk di pesisir Karibia yang selama ini menjadi primadona wisata. Fenomena musiman ini telah memaksa hotel-hotel menurunkan tarif kamar dan menginvestasikan jutaan dolar untuk menyingkirkan alga berbau tak sedap dari pantai mereka, sementara pemerintah dan pelaku bisnis berlomba mencari solusi jangka panjang.
Sargassum, rumput laut cokelat yang membentuk hamparan mengambang di permukaan laut, secara historis hanya terbatas di Laut Sargasso, Atlantik Utara. Namun, angin kencang yang tidak biasa sekitar tahun 2010 menerbangkan sargassum ke perairan tropis kaya nutrisi di lepas pantai Afrika Barat, menciptakan kondisi pertumbuhan yang ideal. Sejak itu, rumput laut ini menjelma menjadi sabuk raksasa yang terbawa arus hingga ke Brasil utara, Kepulauan Karibia, Riviera Maya, dan Teluk Meksiko.
Laboratorium Oseanografi Optik Universitas Florida Selatan memperkirakan tahun 2026 akan menjadi tahun terbesar kedua untuk kelimpahan sargassum, dengan lebih banyak rumput laut yang akan menumpuk di sekitar Karibia dan Florida tenggara dalam beberapa bulan mendatang. Brian Barnes, asisten profesor riset di kampus tersebut, mengakui bahwa fenomena ini masih baru dan musimannya membuat prediksi menjadi sulit. โSebelum 2010 tidak ada apa-apa, dan sejak itu kita mencapai satu juta metrik ton pada 2011 hingga 40 juta ton tahun lalu,โ katanya, memperkirakan massa rumput laut bisa berlipat ganda setiap lima tahun.
Meksiko, yang mengumpulkan sebagian besar sargassum setelah mendarat di pantainya, telah memungut 96.151 metrik ton tahun ini, naik dari 92.783 ton tahun lalu. Gubernur Quintana Roo, Mara Lezama, menegaskan bahwa pengalaman mengajarkan cara terbaik menghadapi sargassum adalah dengan mencegatnya di laut sebelum mencapai pantai. Pemerintah federal berencana mendatangkan kapal pengeruk sargassum baru dalam sebulan, serta mencari tambahan kapal dari Jepang dan memasok kapal buatan Meksiko ke Republik Dominika.
Di sisi lain, sejumlah perusahaan mencoba memanfaatkan sargassum untuk mendapatkan kredit karbon dengan cara menjadikan rumput laut sebagai bale, lalu menenggelamkannya ke dasar laut. Namun, praktik ini menuai kritik karena berpotensi merusak ekosistem laut dalam dan memicu penangkapan berlebihan di lepas pantai. Barnes mengingatkan bahwa sargassum di lepas pantai adalah habitat alami bagi penyu dan ikan. โJika kita menyapu bersih Karibia, akan ada banyak kerusakan kolateral,โ ujarnya.
Meski demikian, gelombang sargassum juga memicu inovasi. Menteri Lingkungan Meksiko, Alicia Barcena, menyebutkan bahwa dari hampir 200 proyek di negaranya, setidaknya 11 berpotensi ditingkatkan secara industri dan 39 sudah menghasilkan produk, mulai dari bahan bakar, pupuk, laminasi, bioplastik, hingga sandal. Felix Navarrete, eksekutif perusahaan pemurni sargassum Carbonwave, mengatakan perusahaannya sudah menjual pupuk ke luar negeri dan kini berencana memasuki pasar domestik setelah mendapat persetujuan regulator sanitasi Meksiko. Carbonwave juga menjajaki pasokan bahan baku untuk industri kosmetik dan tekstil, sementara pemerintah Quintana Roo berencana memperluas pabrik biofuel di Cancun.
Bagi Indonesia, fenomena ini menjadi pengingat akan pentingnya pengelolaan pesisir dan potensi ekonomi rumput laut. Meskipun Indonesia tidak berada di jalur utama sargassum, negara kepulauan ini memiliki garis pantai yang panjang dan kerap menghadapi masalah serupa dengan rumput laut jenis lain. Pengalaman Meksiko dalam mengubah sargassum menjadi produk bernilai tambah bisa menjadi pelajaran berharga bagi pengembangan industri rumput laut nasional, yang selama ini lebih banyak berfokus pada budidaya dan ekspor bahan mentah.
Meksiko dijadwalkan menjadi tuan rumah konferensi bersama Uni Eropa-Karibia tentang sargassum pada awal Oktober di Cancun. Pertemuan ini akan membahas cara memperluas pengumpulan sargassum sambil melindungi pantai dan terumbu karang. Pertanyaannya, mampukah negara-negara Karibia menyeimbangkan kepentingan ekonomi dan ekologi? Atau justru inovasi pengolahan sargassum akan menjadi solusi yang menguntungkan semua pihak?



