Menanti Awan Hujan: Strategi OMC Jadi Andalan Padamkan Karhutla 107 Ribu Hektare
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah mengandalkan operasi modifikasi cuaca untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan seluas 107.000 hektare, namun terkendala ketersediaan awan hujan.
- El Nino yang diprediksi berlangsung hingga Oktober memperparah kekeringan, dengan enam provinsi rawan kebakaran menjadi prioritas penanganan.
- Keberhasilan OMC dalam dua pekan ke depan akan menentukan efektivitas penanggulangan karhutla dan dampaknya terhadap kualitas udara serta kesehatan masyarakat.

Pemerintah menggantungkan harapan pada operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memadamkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang telah melalap 107.000 hektare di berbagai wilayah Indonesia, dengan syarat utama yang tak bisa ditawar: keberadaan awan hujan. Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago, mengungkapkan bahwa tanpa awan hujan, upaya menciptakan hujan buatan mustahil dilakukan.
Dalam jumpa pers di Jakarta, Senin, Djamari menjelaskan bahwa OMC dianggap sebagai metode paling efektif untuk menjinakkan api di lahan yang luas. Namun, ia mengakui timnya belum mendeteksi keberadaan awan hujan di langit lokasi kebakaran. Berdasarkan prakiraan, peluang munculnya awan hujan terbuka pada periode hingga 18 Agustus, dengan estimasi tiga hingga empat hari yang memungkinkan. "Berdasarkan perkiraan sekarang ini pada minggu-minggu ini sampai dengan tanggal 18 Agustus itu ada tiga atau empat hari kemungkinan awan hujan ada," ujarnya.
Karhutla tahun ini disebut-sebut dipicu oleh kombinasi kekeringan ekstrem dan fenomena El Nino yang diprediksi berlangsung hingga awal Oktober. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada sektor lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat akibat kabut asap, serta merugikan sektor ekonomi seperti perkebunan dan pariwisata. Enam provinsi masuk kategori rawan kebakaran: Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Riau.
Untuk memperkuat upaya pemadaman, pemerintah telah mengerahkan 43 helikopter dan 10โ15 pesawat fixed-wing, serta alat penampung air fleksibel untuk operasi darat. Koordinasi dengan pemerintah daerah dan instansi terkait juga diperketat untuk memastikan tidak ada titik api yang lolos dari pengawasan. "Kita mengerahkan sekitar 43 helikopter sampai dengan hari ini, ditambah dengan fixed-wing juga bisa antara 10 sampai dengan 15 sesuai dengan kebutuhan," kata Djamari.
Konteks domestik menjadi sorotan: kebakaran hutan yang kerap terjadi setiap musim kemarau tidak hanya mengancam ekosistem, tetapi juga memicu kerugian ekonomi hingga triliunan rupiah serta gangguan kesehatan bagi jutaan warga. Kabut asap lintas batas juga berpotensi memicu protes dari negara tetangga, seperti yang pernah terjadi pada 2015 dan 2019. Oleh karena itu, keberhasilan OMC menjadi ujian bagi kesiapan pemerintah dalam menghadapi dampak perubahan iklim yang semakin nyata.
Meski optimistis, Djamari menekankan bahwa semua upaya ini bergantung pada kondisi alam yang sulit diprediksi. Jika awan hujan tidak kunjung muncul, alternatif lain seperti pemadaman manual dan pembuatan sekat bakar harus dioptimalkan. "Kita menghadapi El Nino yang kuat, yang sudah berlaku dan mulai berlaku sekarang sampai dengan awal September atau awal Oktober yang akan datang," ungkapnya.
Pertanyaan besarnya, apakah pemerintah memiliki rencana cadangan jika OMC gagal? Dengan musim kemarau yang diprediksi masih berlanjut, ketahanan terhadap bencana asap menjadi isu yang tidak bisa ditunda. Masyarakat berharap langkah-langkah preventif jangka panjang, seperti restorasi gambut dan penegakan hukum bagi pembakar lahan, tidak lagi sekadar wacana.



