Terminal Cicaheum Tutup, Pengelola Leuwipanjang Siapkan Skema Baru
Baca dalam 60 detik
- Terminal Cicaheum Bandung resmi berhenti melayani bus antarkota per 26 Juni, mengakhiri operasional yang berlangsung sejak 1975.
- Seluruh rute AKAP dan AKDP dialihkan ke Terminal Leuwipanjang yang berjarak 9 km, dengan 90% PO sudah beroperasi dari lokasi baru.
- Pedagang di Cicaheum masih diizinkan berjualan sementara menunggu kompensasi dari Pemkot Bandung yang masih dalam tahap perhitungan.

Terminal Cicaheum, ikon transportasi Kota Bandung yang juga dikenal sebagai lokasi syuting serial 'Preman Pensiun', resmi menghentikan operasional bus Antar Kota Antar Provinsi (AKAP) dan Antar Kota Dalam Provinsi (AKDP) pada Jumat (26/6). Penutupan ini menandai berakhirnya era terminal yang telah berjasa melayani penumpang dari arah timur Bandung selama setengah abad.
Dinas Perhubungan Kota Bandung memindahkan seluruh rute yang sebelumnya berpusat di Cicaheum ke Terminal Leuwipanjang, yang berada sekitar sembilan kilometer ke arah barat. Langkah ini merupakan bagian dari penataan ulang transportasi umum di ibu kota Jawa Barat, di mana Leuwipanjang kini menjadi satu-satunya terminal utama untuk bus antarkota, menggantikan fungsi Cicaheum yang sebelumnya menjadi gerbang timur.
Kepala Terminal Leuwipanjang, Asep Hidayat, mengklaim kesiapan pihaknya sudah mencapai 90 persen. Dari total sekitar 20 perusahaan otobus (PO) yang sebelumnya beroperasi di Cicaheum, sebagian besar telah menempati jalur dan ruang tunggu yang disediakan. "Yang lainnya sisa empat sampai lima PO yang memang belum masuk," ujarnya, seraya menambahkan bahwa beberapa armada seperti City Trans akan menyusul pada awal bulan depan.
Meski secara administratif penutupan telah berlaku, pantauan di lapangan menunjukkan masih ada sejumlah bus yang transit di Cicaheum untuk menjemput penumpang yang belum mengetahui perubahan. Dodo, seorang sopir bus, mengakui bahwa secara resmi armadanya sudah berpindah ke Leuwipanjang, tetapi masih singgah karena ada penumpang yang menunggu di lokasi lama. Kepala Dishub Kota Bandung, Rasdian, menegaskan akan mengambil tindakan tegas dengan memutar balikkan bus yang nekat masuk terminal.
Konsekuensi sosial dari penutupan ini juga menjadi perhatian. Para pedagang yang selama ini menggantungkan hidup di area terminal masih diizinkan berjualan untuk sementara waktu. Rasdian menjelaskan bahwa kompensasi bagi mereka masih dalam tahap penggodokan, melibatkan konsultan untuk menghitung nilai yang tepat. "Pembahasannya masih ada yang perlu diselesaikan dulu," katanya, menekankan bahwa skema tersebut sepenuhnya menjadi tanggung jawab Pemerintah Kota Bandung.
Untuk mengantisipasi kepadatan di Terminal Leuwipanjang, pengelola menerapkan sistem penjadwalan ketat. Setiap bus hanya diperbolehkan masuk terminal sesuai jam keberangkatan masing-masing, sehingga tidak terjadi penumpukan kendaraan. "Bus yang berangkat jam 9 pagi baru masuk jam 9 untuk mengambil penumpang," jelas Asep. Selain itu, moda transportasi penghubung seperti Metro Trans Jabar, Damri, dan TMB rute Cicaheum–Leuwipanjang telah disiapkan untuk memudahkan akses penumpang dari kawasan timur.
Penutupan Terminal Cicaheum meninggalkan pertanyaan mengenai nasib kawasan tersebut ke depan. Apakah area yang sarat nilai historis dan populer ini akan disulap menjadi pusat komersial atau tetap menjadi ruang publik? Belum ada kepastian dari Pemkot Bandung mengenai rencana revitalisasi, namun yang jelas, bagi warga Bandung yang terbiasa naik bus dari Cicaheum, adaptasi menuju terminal baru menjadi tantangan tersendiri.



