Film Dear You Picu Perdebatan Identitas di Singapura: Nasib Bahasa Daerah Terancam
Baca dalam 60 detik
- Film Dear You yang berbahasa Teochew menjadi box office di China, namun di Singapura sebagian besar pemutarannya menggunakan dubbing Mandarin, memicu protes publik.
- Kebijakan Speak Mandarin Campaign sejak 1980-an berhasil menekan penggunaan dialek seperti Teochew, Hokkien, dan Kanton, dari 70% menjadi 8,7% penutur di rumah.
- Pemerintah Singapura akhirnya melonggarkan aturan setelah gelombang kritik, menambah 50 pemutaran versi asli, namun para ahli meragukan kebangkitan dialek bisa bertahan.

Film drama keluarga asal China, Dear You, yang nyaris seluruh dialognya menggunakan bahasa Teochew, tak hanya sukses menguasai bioskop di daratan utama, tetapi juga membuka luka lama soal identitas etnis Tionghoa di Singapura. Ketika film itu tayang di negara kota tersebut pada awal bulan ini, publik dikejutkan oleh kenyataan bahwa sebagian besar jadwal pemutaran justru menggunakan sulih suara berbahasa Mandarin—bukan versi asli yang menjadi daya tarik utama.
Kekesalan itu dengan cepat meluas di media sosial. Banyak warga keturunan Tionghoa di Singapura merasa hak mereka untuk menikmati warisan leluhur sendiri dibatasi. Padahal, di China film tersebut diputar dalam bahasa aslinya. Tiket untuk delapan pemutaran perdana berbahasa Teochew di Singapura ludes dalam waktu kurang dari dua jam. Gelombang protes ini akhirnya mendorong Kementerian Informasi Singapura angkat bicara, menjanjikan "pendekatan yang lebih fleksibel" terhadap pemutaran film berbahasa daerah.
Perdebatan ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah kebijakan bahasa di Singapura. Sejak kampanye Speak Mandarin Campaign diluncurkan pada 1980-an, pemerintah secara sistematis mendorong warga etnis Tionghoa untuk meninggalkan dialek dan beralih ke Mandarin. Tujuannya mulia: menyatukan komunitas Tionghoa yang terpecah dalam berbagai bahasa. Namun hasilnya begitu efektif sehingga nyaris memusnahkan bahasa-bahasa seperti Teochew, Hokkien, Kanton, dan Hakka dari percakapan sehari-hari. Data sensus menunjukkan, pada 1980 hampir 70% warga Tionghoa Singapura menggunakan dialek di rumah; pada 2020 angkanya merosot drastis menjadi hanya 8,7%.
Lee Cher Leng, profesor kajian China di National University of Singapore, menilai dialek adalah akar identitas warga Tionghoa Singapura, sementara Mandarin adalah bahasa yang "dipaksakan" melalui pendidikan. "Sungguh menarik bahwa film kecil seperti ini bisa memicu dampak sebesar itu," ujarnya. Senada dengan itu, anggota parlemen oposisi Dennis Tan menyebut dialek sebagai "repositori hidup perjalanan, adat, dan identitas leluhur kita".
Bagi banyak penonton, Dear You bukan sekadar tontonan. Film yang mengisahkan seorang pemuda dari desa di China selatan yang mencari kakeknya di Thailand ini sarat dengan nostalgia migrasi massal orang Tionghoa ke Asia Tenggara pada abad ke-19 hingga pertengahan abad ke-20. Ritual-ritual seperti "leaving the garden"—upacara kedewasaan di usia 15 tahun dalam tradisi Teochew—masih diingat oleh generasi tua, namun mulai dilupakan oleh generasi muda.
Pemerintah akhirnya melonggarkan aturan. Pada Kamis lalu, 50 pemutaran tambahan dalam bahasa Teochew disetujui. Namun, para ahli seperti Tan Ying Ying dari Nanyang Technological University tetap pesimistis. "Anak muda bisa belajar dialek seperti belajar bahasa asing, untuk bersenang-senang. Tapi jika tidak ada yang menuturkannya, mustahil dipertahankan," katanya. Ia menyebut kegaduhan ini sebagai "semacam duka atas kehilangan".
Pertanyaan yang kini mengemuka: apakah pelonggaran ini hanya respons sesaat, atau awal dari perubahan kebijakan yang lebih mendasar? Di Indonesia, di mana bahasa daerah juga tergerus oleh arus globalisasi dan kebijakan pendidikan nasional, kisah Singapura bisa menjadi cermin. Akankah pemerintah di negara lain berani mengambil langkah serupa untuk melindungi warisan linguistik sebelum semuanya benar-benar lenyap?



