Akun Instagram Dukcapil Dibajak, Kemendagri Imbau Warga Waspada
Baca dalam 60 detik
- Akun resmi Ditjen Dukcapil Kemendagri di Instagram diretas dan kini dikendalikan pihak tak bertanggung jawab.
- Kemendagri telah mengeluarkan imbauan resmi agar masyarakat tidak menanggapi atau mengikuti instruksi dari akun tersebut.
- Dalam 24 jam terakhir, akun yang dibajak mulai memposting konten jual beli emas dan iPhone, mengindikasikan motif penipuan.

Akun Instagram resmi Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dengan handle @dukcapilkemendagri telah direbut oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Peristiwa ini memicu kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan data dan penipuan yang mengatasnamakan institusi pemerintah.
Kementerian Dalam Negeri melalui akun Instagram resminya, @kemendagri, mengonfirmasi bahwa akun tersebut saat ini berada di bawah kendali peretas. โPEMBERITAHUAN: Akun Instagram resmi @ducapilkemendagri saat ini berada dalam kendali pihak yang tidak berwenang,โ demikian bunyi pernyataan yang diunggah pada Rabu, 24 Juni 2026. Proses pemulihan akun tengah diupayakan, namun belum ada kepastian kapan akun tersebut dapat kembali dikelola secara sah.
Masyarakat diimbau untuk tidak menanggapi, membagikan, atau mengikuti instruksi apa pun yang berasal dari akun tersebut hingga proses pengamanan dan pemulihan selesai. โMohon waspada terhadap segala bentuk penipuan yang mengatasnamakan Ditjen Dukcapil,โ tulis Kemendagri dalam pernyataan resminya. Imbauan ini menjadi krusial mengingat akun yang dibajak telah mulai memposting konten yang tidak lazim, seperti penawaran penjualan emas dan iPhone dalam 24 jam terakhir.
Peristiwa peretasan akun instansi pemerintah bukanlah hal baru di Indonesia. Beberapa kasus serupa sebelumnya pernah menimpa akun media sosial kementerian dan lembaga negara, yang kerap dijadikan celah untuk menyebarkan informasi palsu atau melakukan penipuan berkedok program pemerintah. Dalam konteks ini, akun Dukcapil yang memiliki basis pengikut cukup besar menjadi sasaran empuk karena kredibilitasnya di mata publik.
Pakar keamanan siber menilai bahwa peretasan akun media sosial instansi pemerintah seringkali memanfaatkan kelemahan otentikasi dua faktor atau phishing yang menargetkan admin akun. โMotif di balik peretasan ini bisa beragam, mulai dari penipuan finansial hingga penyebaran disinformasi. Yang paling mengkhawatirkan adalah jika data kependudukan yang tersimpan di akun tersebut ikut terekspos,โ ujar seorang analis keamanan siber yang enggan disebutkan namanya.
Bagi masyarakat Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat untuk selalu memverifikasi informasi yang berasal dari akun media sosial resmi, terutama jika menyangkut data pribadi atau transaksi keuangan. Kemendagri sendiri belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai langkah teknis pemulihan akun dan investigasi asal-usul peretasan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah insiden ini akan mendorong pemerintah untuk memperketat protokol keamanan siber di seluruh akun media sosial instansi negara, atau justru menjadi celah baru bagi para pelaku kejahatan digital untuk melancarkan aksinya. Satu hal yang pasti, kewaspadaan publik menjadi benteng terakhir dalam menghadapi ancaman siber yang semakin canggih.



