Kim Jong-un Kembali Ancam Perang Nuklir, Modernisasi Militer Korsel-AS Jadi Dalih
Baca dalam 60 detik
- Pemimpin Korea Utara menegaskan komitmen mempercepat pengembangan pertahanan dalam pidato penutup pertemuan partai, menyebut modernisasi militer Korsel-AS sebagai ancaman langsung.
- Pyongyang menganggap langkah Washington dan Seoul, termasuk rencana pengadaan kapal selam nuklir, telah mendorong Semenanjung Korea ke ambang konflik nuklir.
- Pernyataan adik Kim, Yo-jong, yang menyebut kebijakan nuklir Korut sebagai 'garis tanpa mundur' memperkuat sinyal bahwa rezim tidak akan menyerahkan senjata nuklirnya.

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, kembali menegaskan komitmennya untuk memperkuat kemampuan pertahanan negara, dengan menuding langkah modernisasi militer yang dilakukan Korea Selatan dan Amerika Serikat telah mendorong kawasan ke ambang perang nuklir. Pernyataan ini disampaikan dalam pidato penutup pertemuan tiga hari Partai Buruh Korea yang berakhir pada Senin lalu, sebagaimana dilaporkan oleh kantor berita resmi KCNA.
Dalam pidatonya, Kim menyebut bahwa Amerika Serikat dan Korea Selatan semakin terang-terangan dalam upaya memperkuat dan memodernisasi angkatan bersenjata di kawasan, termasuk rencana pengadaan kapal selam bertenaga nuklir oleh Seoul. Menurut Kim, langkah-langkah tersebut merupakan provokasi yang secara langsung mengancam stabilitas Semenanjung Korea dan mendorong situasi menuju konflik nuklir.
Pernyataan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan, di mana Korea Utara terus mengembangkan program rudal dan nuklirnya meskipun mendapat sanksi internasional. Para analis menilai bahwa retorika keras Pyongyang sering kali digunakan sebagai alat untuk memperkuat posisi tawar dalam negosiasi atau untuk mengonsolidasikan dukungan domestik di tengah tekanan ekonomi.
Korea Utara selama ini konsisten menolak tawaran denuklirisasi dan justru mempercepat pengembangan senjata nuklir sebagai alat diplomasi dan strategis. Kim dalam pidatonya menekankan bahwa nuklir akan terus menjadi 'tuas diplomatik dan strategis permanen' bagi Pyongyang. Sikap ini diperkuat oleh pernyataan adik Kim, Yo-jong, yang bulan ini menyebut kebijakan nuklir Korea Utara sebagai 'garis tanpa mundur'.
Bagi Indonesia, eskalasi ketegangan di Semenanjung Korea memiliki implikasi langsung terhadap stabilitas kawasan Asia Timur, yang merupakan mitra dagang utama dan sumber investasi. Setiap konflik terbuka di kawasan berpotensi mengganggu rantai pasok global dan memicu krisis ekonomi yang bisa berdampak pada harga komoditas dan arus modal ke Indonesia. Pemerintah Indonesia melalui ASEAN selama ini mendorong dialog dan diplomasi untuk meredakan ketegangan, namun retorika keras Pyongyang menunjukkan bahwa jalan menuju perdamaian masih panjang.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Amerika Serikat dan Korea Selatan akan merespons dengan meningkatkan tekanan militer atau justru membuka kembali jalur diplomasi. Sementara itu, Korea Utara tampaknya tidak akan mengubah haluan, dan dunia harus bersiap menghadapi kemungkinan eskalasi lebih lanjut di kawasan yang sudah rapuh ini.



