Serangan Siber Lumpuhkan Sistem Kartu Tiga Bank Besar Iran, ATM dan POS Mati Total
Baca dalam 60 detik
- Penyedia teknologi perbankan milik negara Iran mengonfirmasi serangan siber yang menargetkan tiga bank utama, memicu penghentian sementara seluruh layanan berbasis kartu.
- Gangguan ini melumpuhkan ATM, mesin EDC, dan aplikasi mobile, menyusul insiden serupa pada 14 Juni yang sempat melumpuhkan sistem komunikasi bersama perbankan Iran.
- Bank sentral Iran menjanjikan pemulihan penuh pada Rabu pagi, sementara otoritas belum mengidentifikasi pelaku namun sebelumnya kerap menuding aktor asing seperti Israel.

Layanan perbankan berbasis kartu di Iran lumpuh total setelah tiga bank terbesar negara itu menjadi sasaran serangan siber. Informatics Services Corporation (ISC), penyedia teknologi perbankan milik negara, pada Selasa (23/6) mengumumkan penghentian sementara seluruh operasi kartu di Bank Melli, Bank Saderat, dan Bank Tejarat untuk mencegah akses tidak sah lebih lanjut.
Juru bicara hubungan masyarakat ISC mengungkapkan bahwa ATM, terminal point-of-sale (POS), dan aplikasi perbankan mobile yang terhubung dengan sistem kartu ikut terdampak. Tim keamanan siber dikerahkan untuk memulihkan layanan, namun hingga Selasa malam belum ada kepastian kapan sistem benar-benar normal. Ini merupakan serangan kedua dalam waktu kurang dari dua pekan setelah insiden serupa pada 14 Juni lalu melumpuhkan sistem komunikasi bersama di Bank Melli, Saderat, Tejarat, dan Export Development Bank of Iran.
Bank sentral Iran, melalui media pemerintah, menyatakan bahwa masalah terbaru ini diharapkan selesai pada Rabu pagi dan semua layanan akan kembali berjalan normal. Namun, pernyataan tersebut tidak menjelaskan secara rinci langkah-langkah pemulihan yang dilakukan. Pada insiden sebelumnya, otoritas mengklaim data nasabah tidak bocor, meskipun pemulihan memakan waktu beberapa hari.
Iran belum secara resmi menuding pihak mana pun di balik serangan ini. Namun, dalam insiden siber sebelumnya, Teheran kerap menyalahkan aktor asing yang bermusuhan, terutama Israel. Israel sendiri belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut. Pola serangan yang menargetkan infrastruktur perbankan ini mengingatkan pada serangan siber besar-besaran yang pernah melumpuhkan stasiun pengisian bahan bakar Iran pada 2021 lalu.
Bagi Indonesia, serangan ini menjadi pengingat akan kerentanan sistem perbankan nasional terhadap ancaman siber. Meskipun infrastruktur perbankan Indonesia relatif lebih modern, serangan terhadap lembaga keuangan negara lain kerap menjadi studi kasus. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Indonesia (BI) perlu terus memperkuat sistem keamanan siber, terutama pada layanan berbasis kartu dan mobile banking yang kini menjadi tulang punggung transaksi masyarakat. Pengalaman Iran menunjukkan bahwa serangan terkoordinasi pada sistem bersama dapat melumpuhkan beberapa bank sekaligus, sehingga penting untuk memiliki protokol pemulihan yang cepat dan transparan.
Ke depan, pertanyaan yang mengemuka adalah apakah Iran akan mengubah strategi keamanan sibernya setelah dua serangan beruntun ini. Apakah bank-bank Iran akan beralih ke sistem yang lebih terdesentralisasi untuk mengurangi risiko gangguan masif? Atau justru akan memperkuat kerja sama dengan negara-negara seperti Rusia dan China yang memiliki kapasitas keamanan siber? Yang jelas, serangan ini menunjukkan bahwa perang siber di kawasan Timur Tengah kian meningkat, dan sektor keuangan menjadi sasaran empuk.



