Gempa Magnitudo 4,2 Guncang Yahukimo: Dua Getaran Susulan Terjadi di Papua dan Sumut
Baca dalam 60 detik
- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,2 mengguncang wilayah Yahukimo, Papua, pada Selasa pagi, 23 Juni 2026.
- Getaran ini merupakan satu dari tiga gempa yang terjadi dalam rentang waktu kurang dari dua jam, termasuk gempa magnitudo 5,3 di Supiori dan gempa magnitudo 3,0 di Nias Selatan.
- Meski tidak berpotensi tsunami, aktivitas seismik yang beruntun ini mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat di kawasan rawan gempa, terutama di Indonesia Timur.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,2 mengguncang Kabupaten Yahukimo, Papua, pada Selasa (23/6/2026) pukul 11.30 WIB, menurut laporan resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Pusat gempa berada di darat, sekitar 35 kilometer barat daya Yahukimo, dengan kedalaman dangkal hanya 10 kilometer. Getaran ini menjadi perhatian karena terjadi dalam rangkaian aktivitas seismik yang melanda dua wilayah Indonesia dalam waktu berdekatan.
Berdasarkan data BMKG, gempa Yahukimo tercatat pada koordinat 4,81 Lintang Selatan dan 139,49 Bujur Timur. Kedalaman yang dangkal membuat guncangan terasa lebih kuat di permukaan, meskipun magnitudonya tergolong sedang. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan mengenai kerusakan bangunan atau korban jiwa. BMKG mengimbau masyarakat tetap tenang dan waspada terhadap kemungkinan gempa susulan.
Sebelum gempa Yahukimo, BMKG juga mencatat gempa signifikan di Supiori, Papua, pada pukul 08.56 WIB dengan magnitudo 5,3. Pusat gempa Supiori berada di laut, 1.482 kilometer timur laut Supiori, dengan kedalaman 38 kilometer. Tak lama setelahnya, pada pukul 09.06 WIB, gempa magnitudo 3,0 mengguncang Nias Selatan, Sumatera Utara, dengan kedalaman 10 kilometer. Ketiga gempa ini tidak berpotensi tsunami, namun menunjukkan tingginya dinamika lempeng tektonik di Indonesia.
Indonesia memang berada di kawasan Cincin Api Pasifik, jalur pertemuan lempeng tektonik yang memicu aktivitas gempa tinggi. Menurut data BMKG, rata-rata terjadi lebih dari 7.000 gempa per tahun di Indonesia, dengan mayoritas berkekuatan kecil hingga menengah. Gempa dangkal seperti yang terjadi di Yahukimo kerap menimbulkan kerusakan jika berlokasi di dekat permukiman padat. Wilayah Papua sendiri termasuk zona seismik aktif karena pengaruh tumbukan Lempeng Australia dan Lempeng Pasifik.
Bagi masyarakat Indonesia, khususnya yang tinggal di daerah rawan gempa, rangkaian getaran ini menjadi pengingat untuk selalu siap siaga. Pakar kebencanaan dari Institut Teknologi Bandung (ITB) menekankan pentingnya konstruksi bangunan tahan gempa dan edukasi evakuasi mandiri. βGempa kecil yang terjadi beruntun bisa menjadi sinyal adanya akumulasi energi di sesar aktif. Masyarakat perlu memantau informasi resmi dari BMKG dan tidak mudah percaya pada hoaks,β ujar seorang seismolog yang enggan disebut namanya.
Ke depan, aktivitas seismik di Indonesia diperkirakan masih akan tinggi seiring pergerakan lempeng yang terus berlangsung. BMKG terus mengembangkan sistem peringatan dini dan memperbarui data secara real-time. Pertanyaan yang mengemuka: apakah rangkaian gempa hari ini merupakan bagian dari siklus seismik normal atau pertanda akan terjadi gempa besar? Yang jelas, kesiapsiagaan tetap menjadi kunci utama dalam menghadapi ancaman gempa di negeri rawan bencana ini.



