Dolar AS Menguat ke Level Tertinggi Setahun, Yen Terancam Tembus Rekor 1986
Baca dalam 60 detik
- Indeks dolar AS melonjak ke 101,13, level tertinggi sejak Mei 2025, didorong ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
- Yen Jepang terdepresiasi hingga 161,48 per dolar, mendekati titik terlemah dalam 40 tahun, memicu spekulasi intervensi bank sentral.
- Pasar keuangan Asia, termasuk Indonesia, berpotensi terimbas oleh penguatan dolar yang dapat menekan nilai tukar regional dan arus modal.

Dolar Amerika Serikat mencapai level tertinggi dalam lebih dari setahun pada perdagangan Selasa (23/6), didorong oleh spekulasi bahwa Federal Reserve akan segera menaikkan suku bunga. Penguatan ini terjadi di tengah meredanya ketegangan geopolitik di Teluk yang sempat menekan harga minyak, sementara yen Jepang terus merosot mendekati titik terendah dalam empat dekade.
Futures dana Fed memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga pada September mencapai lebih dari 80 persen. Keputusan sejumlah bank besar seperti BofA Global Research dan Deutsche Bank untuk mengubah proyeksi kebijakan moneter menjadi lebih hawkish turut memperkuat sentimen tersebut. Kedua institusi kini memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga tahun ini, meninggalkan pandangan sebelumnya yang mengantisipasi kebijakan stabil.
"Saat ini dolar sedang memperhitungkan suku bunga yang lebih tinggi dan menguat karenanya," ujar Tommy von Bromsen, ahli strategi valas di Handelsbanken. Ia menambahkan bahwa ketidakpastian yang masih menyelimuti konflik Timur Tengah juga memberikan dukungan tambahan bagi greenback.
Di kawasan Asia, yen Jepang menjadi sorotan utama. Mata uang Negeri Sakura sempat melemah ke 161,93 per dolar pada Senin malam, level terendah dalam dua tahun. Jika menembus 161,96, yen akan mencapai titik terlemah sejak 1986. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan intervensi langsung dari Bank of Japan (BOJ) atau Kementerian Keuangan Jepang.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama dilaporkan mengadakan pertemuan virtual dengan Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Senin malam untuk membahas respons kebijakan terhadap pelemahan yen yang historis. Pertemuan itu, menurut sumber Reuters, berfokus pada kemungkinan intervensi valas. Namun, otoritas Jepang masih enggan memberikan sinyal jelas, menimbulkan spekulasi bahwa mereka mengubah taktik komunikasi.
"Kita bisa mengharapkan volatilitas ketika yen mendekati level-level ini, karena pasar memperkirakan Jepang akan memberi sinyal intervensi atau bahkan melakukan intervensi langsung," kata von Bromsen.
Konteks Indonesia: Penguatan dolar AS yang berkepanjangan berpotensi menekan rupiah dan mata uang emerging market lainnya. Bank Indonesia diperkirakan akan tetap waspada terhadap pergerakan nilai tukar, mengingat tekanan inflasi impor dan kebutuhan menjaga stabilitas pasar keuangan. Jika The Fed benar-benar menaikkan suku bunga pada September, selisih suku bunga dengan Indonesia akan melebar, berpotensi memicu arus modal keluar. Pelaku pasar di Tanah Air perlu mencermati perkembangan ini, terutama terkait portofolio investasi dan utang luar negeri.
Sementara itu, poundsterling Inggris sempat melemah setelah pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer, namun pulih setelah Menteri Kesehatan Wes Streeting mendukung Andy Burnham sebagai pengganti. Analis Commerzbank Michael Pfister menilai dukungan itu mengurangi ketidakpastian politik dan membantu pound menguat kembali.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS dan pernyataan pejabat The Fed pekan ini. Apakah penguatan dolar akan berlanjut atau justru memicu koreksi jika ekspektasi kenaikan suku bunga terlalu agresif? Jawabannya akan menentukan arah pergerakan mata uang global dalam beberapa pekan mendatang.



