Prabowo Resmikan 1.151 Km Jalan Daerah: Tak Ada Lagi Wilayah Terisolasi
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menargetkan pembangunan jalan daerah sepanjang 1.151 kilometer di 37 provinsi untuk memutus isolasi wilayah.
- Proyek ini diharapkan menekan biaya logistik nasional yang selama ini menjadi beban utama perekonomian, terutama di kawasan timur Indonesia.
- Pembangunan infrastruktur jalan juga dinilai sebagai fondasi strategi ketahanan nasional, termasuk mendukung swasembada pangan dan energi.

Presiden Prabowo Subianto secara simbolis meresmikan pembangunan jalan daerah sepanjang 1.151 kilometer yang tersebar di 37 provinsi, dengan titik seremoni di Kabupaten Sampang, Jawa Timur, Selasa (23/6/2026). Langkah ini menjadi sinyal tegas bahwa pemerintah tidak akan mentolerir adanya daerah tertinggal akibat minimnya akses transportasi darat.
Dalam sambutannya, Prabowo menekankan bahwa konektivitas jalan adalah prasyarat utama untuk menekan biaya logistik yang selama ini membebani harga barang dan daya saing produk lokal. "Kita bertekad tidak boleh ada daerah yang tertinggal hanya karena akses yang terbatas. Kita harus turunkan biaya logistik untuk seluruh rakyat dan perekonomian kita," ucapnya di hadapan para pejabat daerah dan masyarakat setempat.
Pembangunan jalan ini tidak hanya dimaksudkan untuk memperlancar distribusi barang, tetapi juga untuk memperkuat ketahanan nasional. Menurut Presiden, swasembada pangan dan energi tidak akan tercapai tanpa jaringan distribusi yang andal. "Jalan yang baik adalah bagian dari strategi ketahanan kita. Swasembada pangan tidak hanya soal benih, pupuk, irigasi. Ini juga hasil jaringan distribusi yang lancar," tegasnya.
Bagi Indonesia, negara kepulauan dengan kondisi geografis yang beragam, biaya angkut seringkali menjadi penghambat utama pertumbuhan ekonomi di daerah terpencil. Dengan adanya jalan yang memadai, konektivitas antara pusat produksi pertanian, perkebunan, dan pertambangan dengan pasar konsumen dapat ditingkatkan. Hal ini sejalan dengan target pemerintah untuk menurunkan rasio biaya logistik terhadap produk domestik bruto (PDB) yang saat ini masih di atas 20 persen.
Pengamat infrastruktur dari Universitas Indonesia, Bambang Susantono, menilai bahwa proyek ini merupakan langkah strategis yang tepat sasaran. "Pembangunan jalan daerah seringkali terabaikan karena lebih fokus pada jalan tol. Namun, justru jalan daerahlah yang menjadi urat nadi ekonomi lokal. Dengan adanya program ini, disparitas harga antara daerah produksi dan konsumen bisa ditekan," ujarnya kepada LyndHub.
Meski demikian, tantangan pembiayaan dan pemeliharaan jalan di daerah terpencil masih menjadi pekerjaan rumah. Pemerintah perlu memastikan bahwa anggaran yang dialokasikan tidak hanya cukup untuk pembangunan awal, tetapi juga untuk perawatan jangka panjang. Jika tidak, jalan yang baru dibangun bisa cepat rusak dan kembali mengisolasi wilayah tersebut.
Ke depan, keberhasilan program ini akan diukur dari seberapa cepat biaya logistik turun dan seberapa merata pertumbuhan ekonomi di seluruh provinsi. Pertanyaan yang tersisa: mampukah pemerintah menjaga momentum ini di tengah tekanan fiskal dan kebutuhan infrastruktur lain yang tak kalah mendesak?



