Vietnam Tambah 10 Bandara Baru dalam 5 Tahun: Strategi Infrastruktur Kejar Pertumbuhan Ekonomi Dua Digit
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah Vietnam merevisi rencana induk bandara nasional, menargetkan 32 bandara pada 2030 dan 35 pada 2050 dari saat ini 22 bandara.
- Bandara-bandara utama seperti Tan Son Nhat dan Da Nang telah beroperasi di atas kapasitas desain, sementara lalu lintas penumpang diproyeksikan melonjak hingga 191 juta per tahun pada 2030.
- Ekspansi ini merupakan respons terhadap target pertumbuhan ekonomi dua digit dan kebutuhan meningkatkan konektivitas regional serta daya saing nasional.

Vietnam memulai babak baru pengembangan infrastruktur penerbangan paling masif dalam beberapa dekade terakhir. Pemerintah di Hanoi tengah mengkaji ulang rencana induk bandara nasional yang akan menambah jumlah bandara dari 22 menjadi 32 pada 2030, dan 35 pada 2050. Langkah ini ditempuh untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi yang ambisius, memperkuat konektivitas regional, serta menjawab lonjakan permintaan perjalanan udara yang terus meningkat.
Kementerian Konstruksi Vietnam, yang kini membawahi perencanaan infrastruktur setelah merger administratif bersejarah, menilai bahwa sektor penerbangan menjadi kunci utama dalam mendorong perdagangan, pariwisata, dan investasi. Dengan target pertumbuhan ekonomi dua digit dalam lima tahun ke depan, pemerintah tidak ingin infrastruktur bandara menjadi hambatan. Saat ini, bandara-bandara utama seperti Tan Son Nhat di Ho Chi Minh City, Da Nang, dan Cam Ranh telah beroperasi jauh melampaui kapasitas desainnya selama bertahun-tahun.
Data Kementerian Konstruksi menunjukkan bahwa lalu lintas penumpang tahunan di seluruh bandara Vietnam saat ini telah melampaui 100 juta orang. Namun, proyeksi ke depan jauh lebih tinggi: dengan asumsi pertumbuhan ekonomi dua digit, jumlah penumpang diperkirakan mencapai 191 juta per tahun pada 2030, tumbuh rata-rata 9,7 persen per tahun. Sementara itu, volume kargo udara diprediksi mencapai 3,75 juta ton per tahun pada periode yang sama, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 19,3 persen.
Bagi Indonesia, rencana besar Vietnam ini menjadi cermin sekaligus pengingat. Indonesia sendiri tengah menghadapi tantangan serupa: bandara-bandara seperti Soekarno-Hatta, Ngurah Rai, dan Juanda kerap mengalami kepadatan di musim puncak. Namun, rencana pembangunan bandara baru di Indonesia masih berjalan lambat akibat pembebasan lahan dan pendanaan. Vietnam menunjukkan bahwa dengan komitmen politik yang kuat dan perencanaan terintegrasi, ekspansi bandara bisa menjadi motor pertumbuhan ekonomi, bukan sekadar proyek infrastruktur.
Menurut pengamat penerbangan dari Center for Aviation Studies, langkah Vietnam juga mencerminkan pergeseran strategi dari sekadar mengejar kuantitas menuju efisiensi dan keberlanjutan. Meski jumlah bandara bertambah, pemerintah Vietnam menekankan bahwa setiap bandara baru harus dirancang dengan standar ramah lingkungan dan teknologi modern. Hal ini sejalan dengan tren global menuju penerbangan net-zero karbon.
Pertanyaan yang kini mengemuka: mampukah Vietnam merealisasikan target ambisius ini di tengah tantangan pendanaan, sumber daya manusia, dan tekanan lingkungan? Jika berhasil, Vietnam tidak hanya akan memiliki jaringan bandara terpadat di Asia Tenggara, tetapi juga menjadi model bagi negara berkembang lain dalam memanfaatkan infrastruktur penerbangan sebagai katalis pertumbuhan.



