Menelusuri Chengdu: Dari Wiski Gunung Emei hingga Seni Lak Tua yang Hidup Kembali
Baca dalam 60 detik
- Pernod Ricard mendirikan pabrik wiski malt pertama di China di kaki Gunung Emei, memadukan arsitektur modern dengan konsep shan shui dan material lokal.
- Chengdu, kota gastronomi UNESCO pertama di Asia, menawarkan kuliner Sichuan kelas atas yang berpadu dengan tradisi lak dan konservasi panda, menciptakan ekosistem pariwisata berkelanjutan.
- Dengan hampir 100 pabrik wiski di China, tantangan berikutnya adalah meyakinkan pasar global bahwa wiski China memiliki identitas dan nilai tambah yang unik.

Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, selama ini identik dengan panda dan hotpot. Namun di balik dua ikon itu, kota ini menyimpan kekayaan lain: pabrik wiski malt di kaki Gunung Emei, bengkel lak yang menjaga teknik berusia berabad-abad, serta para koki yang mengangkat masakan Sichuan ke level fine dining. Perpaduan ini menunjukkan bahwa craftsmanship—baik dalam rasa, seni, maupun konservasi—adalah denyut nadi yang menghidupkan kawasan ini.
Dua jam berkendara dari pusat kota, The Chuan Malt Whisky Distillery berdiri di area hijau yang dikelilingi sawah berundak dan aliran sungai kecil. Didirikan oleh Pernod Ricard, ini adalah pabrik wiski malt pertama di China yang sepenuhnya dioperasikan oleh grup minuman internasional. Desainnya digarap oleh biro arsitektur Neri&Hu dari Shanghai, yang menerjemahkan konsep shan shui—lanskap gunung-air—ke dalam tata ruang yang menyatu dengan alam. Tiga bangunan panjang beratap genteng tanah liat daur ulang, ditopang struktur beton modern, menjadi reinterpretasi arsitektur tradisional China yang elegan.
Di dalam, pengunjung diajak menyusuri proses pembuatan wiski ala Timur. Allen Zou, brand ambassador, menjelaskan filosofi yang dianut: "Flavor over yield"—cita rasa di atas kuantitas. Tahap pematangan menjadi kunci identitas wiski China. Selain tong bourbon Amerika dan sherry Spanyol, The Chuan menggunakan tong kayu ek China dari kawasan lindung Pegunungan Changbai, yang memberikan aroma cendana dan kulit jeruk mandarin. Hasilnya bukan tiruan Scotch atau Jepang, melainkan profil rasa yang berakar pada lanskap China.
Ambisi ini bukan tanpa tantangan. China kini memiliki hampir 100 pabrik wiski di berbagai provinsi, namun pasar internasional masih skeptis. Zou mengakui, "Butuh waktu. Orang mungkin belum tahu apa itu wiski China. Harus ada nilai tambah di luar cairannya sendiri. Moutai bukan sekadar baijiu; itu status sosial." Namun ia optimistis: para penggemar wiski semakin penasaran dengan terroir China, memberi ruang bagi kategori baru ini untuk mendefinisikan jati dirinya.
Di sektor kuliner, Chengdu adalah kota pertama di Asia yang ditetapkan UNESCO sebagai Kota Gastronomi. Restoran The Yan, yang berada di kompleks pabrik wiski, menghadirkan menu yang terinspirasi dari elemen pembuatan wiski—malting, fermentasi, penuaan, dan kayu ek. Kolaborasi dengan koki Xu Xiaohong dan Xu Xiaoyuan dari Leaf Kitchen yang berbintang Michelin menghasilkan hidangan seperti sup ikan dan kaki babi yang dimasak enam jam lalu diakhiri dalam tong sherry oak, atau merpati renyah yang diasap dengan kayu ek China. Sementara itu, restoran Infinite Luck di Waldorf Astoria Chengdu, yang masuk daftar Michelin Guide 2026, dipimpin oleh koki Tony Yang yang rutin berburu bahan musiman ke pasar tradisional Yulin. Ia memperlakukan lada Sichuan seperti sommelier menilai anggur—memeriksa warna dan aromanya. Hidangannya, seperti merpati asap teh kamper dengan lemon Anyue, membuktikan bahwa masakan Sichuan bisa berevolusi tanpa kehilangan akar.
Selain wiski dan kuliner, Chengdu juga menjaga warisan seni lak yang diakui sebagai salah satu dari lima sekolah lak utama China. Di Daqi Teahouse, bekas pabrik lak berusia 70 tahun yang kini menjadi kedai teh atmosferik, pengunjung bisa mencoba menggosok sumpit lak. Zhang Mingzhu, pengajar lak di sana, menekankan bahwa seni lak bukan sekadar kerajinan: "Kesabaran, pengendalian diri, dan keanggunan tenang tertanam dalam setiap lapisan lak. Saya berharap orang memahami tidak hanya tekniknya, tetapi juga semangat di baliknya." Proses belajar yang panjang—dari beberapa bulan untuk dasar, hingga lebih dari satu dekade untuk penguasaan—menunjukkan dedikasi yang luar biasa.
Tak lengkap rasanya membahas Chengdu tanpa menyebut panda. Di Chengdu Research Base of Giant Panda Breeding, pengunjung bisa menyaksikan panda-panda yang aktif di pagi hari, termasuk si terkenal "Direktur Hua Hua" yang tubuhnya seperti onigiri dan menjadi sensasi internet. Namun di balik kelucuan itu, ada upaya konservasi serius. Zhao Li Ping, pemandu di sana, menjelaskan bahwa meski populasi panda liar mulai pulih, habitat mereka masih terfragmentasi di pegunungan Sichuan, Shaanxi, dan Gansu. Menghubungkan kembali habitat melalui koridor satwa liar menjadi prioritas. Bagi Zhao, bekerja di sana adalah pekerjaan impian—"setiap hari mendaki gunung dan melihat hewan-hewan ini, baik untuk kesehatan mental dan fisik saya."
Bagi wisatawan Indonesia, Chengdu menawarkan pelajaran berharga tentang bagaimana pariwisata bisa berkelanjutan tanpa kehilangan identitas. Kota ini membuktikan bahwa kerajinan tangan, kuliner, dan konservasi bisa berjalan beriringan, menciptakan nilai ekonomi sekaligus melestarikan warisan. Pertanyaannya, mampukah destinasi lain di Asia, termasuk Indonesia, meniru model ini? Atau justru keunikan lokal yang menjadi daya tarik utama, seperti yang ditunjukkan Chengdu?



