Olivia Attwood Buka Suara: Bertahan Demi Cinta atau Mengorbankan Diri?
Baca dalam 60 detik
- Olivia Attwood mengaku bertahun-tahun hidup dalam ketidakpastian bersama Bradley Dack, meski cintanya mendalam.
- Keputusan untuk pergi diambil setelah tahu soal perselingkuhan, namun ia justru merasa 'menghancurkan hati sendiri'.
- Publik kerap menyalahkan perempuan, mendorongnya untuk angkat bicara demi meluruskan narasi yang beredar.

Olivia Attwood, bintang TV asal Inggris, akhirnya angkat bicara mengenai perpisahannya dengan pesepakbola Bradley Dack. Perempuan 35 tahun itu mengaku telah lama hidup dalam 'area abu-abu' dalam hubungannya, sebuah kondisi di mana cinta dan rasa tidak aman berjalan beriringan. Keputusan untuk berpisah, yang diambilnya awal tahun ini, bukanlah langkah mudah, justru menjadi ujian paling berat dalam hidupnya.
Dalam wawancara dengan majalah Cosmopolitan, Olivia mengungkapkan bahwa selama bertahun-tahun ia memilih bertahan meski hatinya diliputi kegelisahan. "Ketika kamu mencintai seseorang, kamu rela hidup di area abu-abu," ujarnya. Namun, segalanya berubah ketika ia mendapat kabar tentang perselingkuhan Bradley. "Hari itu semuanya menjadi jelas. Tidak ada tempat baginya untuk bersembunyi. Begitu aku tahu itu terjadi padaku, aku tidak bisa tinggal. Satu-satunya orang yang akan aku bohongi adalah diriku sendiri," kenangnya.
Keputusan untuk pergi, menurut Olivia, justru lebih menyakitkan daripada pengkhianatan itu sendiri. "Apa yang terjadi tidak menghancurkan hatikuโaku yang menghancurkan hatiku sendiri dengan pergi, karena hal termudah adalah bertahan. Mencabut karpet dari bawah kaki kami dan tetap pada keputusan itu adalah hal tersulit. Itu sangat brutal," tuturnya. Ia juga menyindir mereka yang mudah menghakimi korban perselingkuhan. "Sangat mudah bagi orang untuk duduk di atas kuda tinggi dan berkata, 'Ya Tuhan, kamu bertahan dengan seseorang yang selingkuh.' Tapi kenyataannya jauh lebih kompleks dari itu."
Yang mengejutkan Olivia, reaksi publik justru banyak yang menyalahkan dirinya. Ia merasa perlu meluruskan narasi yang beredar. "Aku terkejut dengan cara orang rela berjungkir balik untuk memfitnah perempuan. Narasinya menjadi sangat jauh dari kebenaran," katanya. Ia bahkan sempat meminta Bradley untuk mengklarifikasi situasi, tetapi mantan kekasihnya itu menolak. Akhirnya, Olivia yang angkat bicara. "Aku bilang padanya, 'Kupikir kamu harus memposting sesuatu.' Dia bilang tidak mau, jadi aku yang melakukannya. Karena itu tidak adil. Mengapa aku harus menanggung semuanya padahal kehancuran ini bukan salahku? Aku ingin hubungan ini berhasil," tegasnya.
Meski telah berpisah, Olivia masih berjuang menghadapi patah hati. "Aku masih punya hari-hari di mana rasa sakit itu datang tiba-tiba. Jika kau mengingat seseorang yang hadir dalam hidupmu selama 12 tahun, aku masih dalam tahap awal pemulihan," ungkapnya. Pengakuannya ini menyoroti kompleksitas hubungan jangka panjang dan tekanan sosial yang dihadapi publik figur, terutama perempuan, dalam menghadapi kegagalan rumah tangga.
Fenomena serupa juga terjadi di Indonesia, di mana stigma terhadap perempuan yang bercerai atau putus cinta masih kuat. Banyak perempuan enggan meninggalkan hubungan yang tidak sehat karena takut dicap gagal atau mendapat cibiran. Kisah Olivia menjadi pengingat bahwa keputusan untuk pergi demi kesehatan mental adalah bentuk keberanian, bukan kelemahan. Pertanyaannya, akankah masyarakat kita semakin bijak dalam menyikapi pilihan hidup seseorang, terutama ketika menyangkut urusan hati?



