Bom Atom 1945: Warisan Sains yang Mengubah Peta Kekuasaan Dunia
Baca dalam 60 detik
- Pengeboman Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945 menandai pertama dan satu-satunya penggunaan senjata nuklir dalam konflik, menewaskan ratusan ribu jiwa dan mengakhiri Perang Dunia II.
- Perlombaan senjata nuklir yang dipicu oleh peristiwa tersebut telah membentuk politik global selama delapan dekade, dengan sembilan negara kini memiliki hulu ledak nuklir.
- Di era kecerdasan buatan, risiko penggunaan senjata nuklir kembali menjadi sorotan, memicu perdebatan tentang masa depan keamanan internasional.

Pada 6 Agustus 1945, dunia menyaksikan babak baru dalam sejarah peperangan ketika Amerika Serikat menjatuhkan bom atom pertama di Hiroshima, Jepang. Peristiwa yang menewaskan puluhan ribu orang dalam sekejap itu bukan hanya mengakhiri Perang Dunia II, tetapi juga melahirkan era ketakutan akan kehancuran total yang hingga kini masih membayangi peradaban manusia.
Tiga hari kemudian, bom kedua yang dijuluki "Fat Man" meluluhlantakkan Nagasaki, menewaskan sekitar 70.000 jiwa dan melukai puluhan ribu lainnya. Dua kota yang hancur itu menjadi saksi bisu bagaimana sebuah penemuan ilmiahโyang semula dirancang untuk memenangkan perangโjustru membuka kotak Pandora berupa perlombaan senjata pemusnah massal yang berlangsung puluhan tahun.
Keputusan Presiden Harry S. Truman untuk menggunakan bom atom memang mempercepat kekalahan Jepang dan mengakhiri konflik global terbesar saat itu. Namun, seperti diungkapkan banyak sejarawan, harga yang harus dibayar adalah lahirnya ketakutan akan perang nuklir yang bisa memusnahkan seluruh umat manusia. Sejak saat itu, dunia hidup di bawah bayang-bayang kehancuran, dengan kekuatan besar berlomba mengembangkan senjata yang sama.
Kesaksian para penyintas, seperti reporter Leslie Nakashima yang mendapati kampung halamannya di Hiroshima rata dengan tanah, atau Sumiteru Taniguchi yang menderita luka parah di punggung hingga akhir hayatnya, menjadi pengingat abadi akan dampak kemanusiaan yang tak terbayangkan. Taniguchi, yang saat itu berusia 16 tahun, harus menanggung sakit akibat tulang rusuknya yang hancur menekan paru-paru selama puluhan tahun sebelum akhirnya meninggal pada 2017.
Perlombaan nuklir yang dipicu oleh peristiwa Hiroshima dan Nagasaki tidak berhenti pada Perang Dingin. Uni Soviet meledakkan bom pertamanya pada 1949, disusul Inggris, Prancis, China, India, Pakistan, dan Korea Utara. Di Timur Tengah, ambisi nuklir masih menjadi isu sensitif yang memicu ketegangan diplomatik hingga hari ini.
Beberapa analis berpendapat bahwa keberadaan senjata nuklir justru mencegah terjadinya perang besar antarnegara adidaya, karena risiko kehancuran yang terlalu tinggi. Namun, banyak pula yang menyoroti bahaya baru dari persaingan untuk menjadi kekuatan nuklir berikutnya. Kecerdasan buatan (AI) yang kini digunakan untuk pertahanan terhadap terorisme dan serangan siber, misalnya, justru menambah kompleksitas ancaman.
Mantan diplomat Inggris Tim Willasey-Wilsey dalam esainya baru-baru ini menulis bahwa ancaman terbesar bagi peradaban modern adalah senjata nuklir yang jatuh ke tangan pemimpin populis yang tidak bertanggung jawab. "Bahaya terbesar dari guncangan global yang masif adalah penggunaan senjata nuklir untuk pertama kalinya sejak 1945," tulisnya. "Perang nuklir bukanlah tentang ketidakmampuan menghubungkan titik-titik, melainkan kegagalan besar lain dari imajinasi manusia."
Bagi Indonesia, yang pernah menjadi korban pendudukan Jepang dan merasakan getaran Perang Dunia II, peringatan 79 tahun bom atom ini relevan dengan upaya menjaga perdamaian kawasan. Sebagai negara yang aktif dalam diplomasi nonblok dan pernah mengusulkan Zona Bebas Senjata Nuklir di Asia Tenggara melalui Perjanjian Bangkok 1995, Indonesia memiliki kepentingan langsung untuk mencegah proliferasi nuklir di kawasan.
Kini, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan perkembangan AI yang pesat, pertanyaan yang menggantung adalah: apakah manusia telah cukup belajar dari tragedi Hiroshima dan Nagasaki, atau justru sedang bersiap mengulangi kesalahan yang sama dengan teknologi yang lebih canggih? Jawabannya akan menentukan arah peradaban kita di abad ini.



