Dua Laga Tanpa Kemenangan, Derek McInnes Warisi Masalah Lama di Rangers
Baca dalam 60 detik
- Rangers menelan kekalahan 2-1 dari Jagiellonia Bialystok di leg pertama kualifikasi Liga Europa, memperpanjang catatan buruk di awal era Derek McInnes.
- Masalah pertahanan yang menjadi biang kegagalan musim lalu kembali menghantui, dengan lini belakang yang rapuh dan kebobolan gol dari kesalahan sendiri.
- Penampilan impresif Findlay Curtis di babak kedua menjadi satu-satunya titik terang, namun masih belum cukup untuk menutup kelemahan struktural tim asal Glasgow itu.

Dua pertandingan, dua hasil buruk. Era Derek McInnes di Rangers baru saja dimulai, tetapi sudah dihadapkan pada kenyataan pahit: kebiasaan lama yang menghancurkan musim lalu masih membayangi. Kekalahan 2-1 dari Jagiellonia Bialystok pada leg pertama kualifikasi ketiga Liga Europa, Jumat dini hari WIB, menjadi tamparan keras setelah sebelumnya hanya bermain imbang melawan Dundee United di laga perdana Liga Skotlandia.
McInnes, yang diharapkan menjadi penyelamat setelah serangkaian pelatih gagal di Ibrox, justru melihat pengulangan pola yang sama: tim tampil impresif di lini depan namun rapuh di pertahanan. "Kami melihat banyak hal yang saya kira menjadi ciri Rangers musim lalu," ujarnya usai laga di Polandia, seperti dikutip BBC. Pernyataan ini menjadi pengakuan jujur bahwa pekerjaan rumah yang ditinggalkan pendahulunya masih belum beres.
Kekalahan ini terjadi di tengah musim panas yang sibuk. Sembilan pemain baru telah direkrut, dan masih ada lagi yang diharapkan datang. Namun, belanja besar tidak otomatis menghapus trauma. Musim lalu, Rangers dikenal sebagai tim yang mudah kebobolan, dan lawan sering kali mendapatkan kepercayaan diri berlebih. McInnes menggarisbawahi hal ini: "Kami memberi terlalu banyak peluang dan memberi tim lawan terlalu banyak dorongan. Kami bersalah karena mengalahkan diri sendiri malam ini."
Babak pertama menjadi mimpi buruk bagi Rangers. Jagiellonia dengan mudah membongkar pertahanan tuan rumah, memanfaatkan kelengahan konsentrasi. Gol pertama lahir dari serangan balik cepat, hanya semenit setelah Thelo Aasgaard mencoba pergerakan berani di kotak penalti lawan. Duet bek tengah Dujon Sterling dan Emmanuel Fernandez tampak goyah, memicu kritik tajam dari mantan gelandang Rangers, Andy Halliday. "Jika Anda bertanya pada McInnes sekarang, tanpa mikrofon, apakah dia percaya pada Fernandez? Tidak mungkin dia bilang ya," ujar Halliday di BBC Sportsound. "Dia tidak punya pilihan saat ini untuk memainkan orang lain."
McInnes sendiri tidak menampik adanya kesalahan individu. "Tidak ada yang lebih menguras kepercayaan diri selain kebobolan gol murah," katanya. Ia menuntut timnya lebih ketat dan rela berkorban demi gawang. "Jangan biarkan bola masuk ke kotak penalti kami, jangan beri mereka peluang. Kita harus punya pendekatan seperti itu."
Namun, di balik kekelaman, ada secercah harapan. Tiga pergantian di babak kedua—memasukkan Cammy Devlin, Findlay Curtis, dan Nicolas Raskin—mengubah wajah Rangers. Curtis, pemain sayap berusia 20 tahun yang musim lalu dipinjamkan ke Kilmarnock dan tampil menonjol, menjadi sorotan. Dalam 45 menit, ia nyaris mencetak gol, menghantam tiang gawang, dan beberapa kali memberikan umpan berbahaya. Mantan striker Rangers, Steven Thompson, memujinya: "Dia tidak berpikir untuk mengumpan ke belakang, dia ingin membawa bola dan menyerang. Itu yang kurang dari tim ini."
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, kisah Rangers ini punya relevansi. Klub-klub Asia, termasuk tim-tim Indonesia, sering menghadapi dilema serupa: merekrut banyak pemain baru namun gagal memperbaiki kelemahan fundamental. Kegagalan McInnes dalam dua laga awal menjadi pengingat bahwa transformasi tim tidak bisa instan, butuh waktu dan kesabaran. Pertanyaan besarnya: apakah manajemen Rangers akan memberi McInnes waktu, atau akan kembali pada kebiasaan lama memecat pelatih di tengah jalan?
Leg kedua di Ibrox akan menjadi ujian sesungguhnya. Rangers harus menang dengan selisih minimal dua gol untuk lolos, atau menang 1-0 untuk memaksa adu penalti. Dengan pertahanan yang masih rapuh, mampukah mereka membalikkan keadaan? Atau akankah mimpi buruk musim lalu kembali terulang? Semua mata akan tertuju pada respons McInnes dan anak asuhnya.



