Program Imbalan Baca Buku ala Singapura: Solusi atau Sekadar Pemanis?
Baca dalam 60 detik
- NLB Singapura meluncurkan ReadSG, program lima tahun dengan sistem koin virtual yang bisa ditukar uang tunai untuk mendorong kebiasaan membaca buku.
- Para ahli neuropsikologi meragukan efektivitas insentif eksternal, karena berisiko menggeser motivasi intrinsik dan hanya berdampak jangka pendek.
- Pendekatan jangka panjang yang lebih ampuh adalah menanamkan kecintaan membaca sejak dini serta menyediakan ruang waktu di tengah gaya hidup yang padat.

Singapura kembali menguji efektivitas insentif dalam membentuk kebiasaan membaca. Lewat gerakan nasional ReadSG yang digagas National Library Board (NLB), warga yang rajin membaca buku bisa mengumpulkan koin virtual dan menukarnya dengan uang tunai. Namun, di balik optimisme program ini, pertanyaan mendasar muncul: apakah hadiah benar-benar mampu menumbuhkan kecintaan terhadap buku, atau justru mereduksi kesenangan membaca menjadi sekadar transaksi?
Data survei NLB pada 2024 menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan: meski 89 persen orang dewasa mengaku membaca setidaknya sekali seminggu, hanya 28 persen yang benar-benar membaca buku. Mayoritas waktu membaca dihabiskan untuk konten pendek di media sosial atau berita kilat. Kondisi ini yang mendorong NLB meluncurkan ReadSG, sebuah program lima tahun yang mengadopsi elemen gamifikasi, di mana peserta mencatat aktivitas membaca harian pada platform digital pemerintah dan memperoleh poin yang dapat ditukar dengan uang.
Langkah ini bukan yang pertama di Singapura. Sebelumnya, pemerintah telah menerapkan sistem serupa untuk mendorong gaya hidup sehat melalui Healthpoints, atau insentif daur ulang botol minuman dengan deposit 10 sen. Namun, efektivitas jangka panjang dari skema semacam ini masih diperdebatkan. Para neuropsikolog mengingatkan bahwa hadiah eksternal justru dapat mengikis motivasi intrinsik, sebagaimana memberi anak uang untuk nilai bagus hanya membuat mereka fokus pada imbalan, bukan pada kepuasan belajar.
Vivian Teo, penulis lepas dan ibu dua anak yang juga penggiat literasi, menilai bahwa kesenangan membaca seharusnya datang dari pengalaman itu sendiri, bukan dari imbalan. Ia mencontohkan kebiasaan membacakan buku untuk anak-anaknya sejak bayi, yang membuat mereka tumbuh dengan asosiasi positif terhadap buku. Menurutnya, kunci utama adalah membangun minat alami, bukan sekadar memancing dengan hadiah. "Hadiah mungkin mengingatkan Anda untuk memegang buku, tetapi tidak bisa menciptakan rasa penasaran yang membuat Anda ingin membalik halaman," tulisnya dalam kolom di CNA.
Kritik lain datang dari sisi waktu. Di tengah kesibukan kerja dan godaan hiburan digital, banyak orang mengaku sulit meluangkan waktu membaca. Anak perempuan Teo yang duduk di bangku sekolah menengah pun mengungkapkan hal serupa: "Bukan soal hadiahnya, tapi apakah saya punya waktu." Ini menunjukkan bahwa masalah mendasar bukan hanya soal motivasi, melainkan juga struktur kehidupan modern yang semakin padat.
Bagi Indonesia, fenomena ini relevan dengan upaya meningkatkan literasi nasional. Data UNESCO menyebut minat baca masyarakat Indonesia masih rendah, dan berbagai program pemerintah kerap mengandalkan lomba atau hadiah untuk menarik minat. Namun, seperti yang terjadi di Singapura, pendekatan semacam itu mungkin hanya menyentuh permukaan. Yang lebih penting adalah membangun ekosistem yang mendukung, mulai dari ketersediaan buku yang terjangkau, perpustakaan yang nyaman, hingga budaya membaca di keluarga.
Teo menyarankan agar orang dewasa yang belum terbiasa membaca mulai mencari genre yang sesuai minat, seperti mitologi, fiksi fantasi, atau pengembangan diri. Bergabung dengan klub buku atau meminta rekomendasi teman juga bisa menjadi pintu masuk. Ia sendiri melihat banyak teman yang baru menemukan kesenangan membaca setelah mencoba genre yang tepat. "Mungkin Anda akan tersandung pada buku yang memulai perjalanan membaca Anda," katanya.
Pada akhirnya, pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah program berbasis imbalan seperti ReadSG akan berhasil mengubah kebiasaan membaca dalam jangka panjang, atau hanya menjadi gimmick sesaat. Jika Singapura serius menciptakan generasi pembaca, mungkin sudah waktunya beralih dari logika hadiah ke logika membangun budaya. Sebab, membaca bukanlah tentang berapa banyak koin yang terkumpul, melainkan seberapa dalam kita tenggelam dalam cerita dan pengetahuan.



