Roma Siap Lepas Dovbyk, Trabzonspor Ajukan Skema Pinjaman
Baca dalam 60 detik
- Klub Turki, Trabzonspor, kembali membidik striker Ukraina Artem Dovbyk yang minim menit bermain di Roma akibat cedera dan ketidakcocokan taktik.
- Roma membutuhkan dana segar untuk mendatangkan Mason Greenwood dari Marseille, namun Trabzonspor ngotot meminjam Dovbyk dengan opsi beli, tawaran yang telah ditolak.
- Kesepakatan masih terganjal masalah formula transfer dan kekhawatiran kondisi fisik Dovbyk, dengan hasil tes medis menjadi penentu utama.

Klub raksasa Turki, Trabzonspor, kembali mengaktifkan upaya merekrut penyerang AS Roma, Artem Dovbyk, di tengah ketidakpastian masa depan sang pemain di ibu kota Italia. Laporan media setempat menyebut negosiasi memasuki babak baru, meski masih diwarnai perbedaan formula transfer dan kekhawatiran serius terkait kondisi medis pemain berusia 29 tahun tersebut.
Dovbyk, yang diboyong Roma dari Girona pada musim panas lalu dengan banderol sekitar โฌ30 juta, nyaris menjadi penghuni tetap bangku cadangan. Sepanjang musim ini, ia hanya tampil dalam 18 pertandingan kompetitif akibat serangkaian cedera. Meski demikian, kontribusinya tetap terasa: tiga gol dan dua assist di Serie A dan Liga Europa, yang turut mengantarkan Roma ke Liga Champions musim depan. Namun, pelatih Gian Piero Gasperini secara terbuka mengakui bahwa gaya bermain Dovbyk tidak cocok dengan skema taktiknya, membuat sang striker masuk dalam daftar jual musim panas ini.
Bagi Roma, penjualan Dovbyk menjadi krusial untuk mendatangkan target utama lini depan, Mason Greenwood. Winger Olympique Marseille itu dibanderol โฌ50 juta, angka yang cukup memberatkan keuangan klub Ibu Serigala. Oleh karena itu, Roma mendesak agar setiap tawaran untuk Dovbyk bersifat permanen, bukan sekadar pinjaman. Namun, Trabzonspor sejauh ini bersikukuh mengajukan skema pinjaman dengan opsi beli, proposal yang telah ditolak mentah-mentah oleh manajemen Roma.
Menurut laporan Fotomac, kendala lain yang tak kalah pelik adalah kekhawatiran Trabzonspor terhadap kondisi fisik Dovbyk. Riwayat cedera yang menghantuinya membuat klub Turki itu bersikeras melakukan tes medis menyeluruh sebelum mencapai kesepakatan. Hasil tes ini dinilai akan menjadi faktor penentu apakah negosiasi berlanjut ke tahap final atau justru batal total. Sementara itu, A Spor melaporkan bahwa Trabzonspor bersiap mengajukan proposal baru, termasuk opsi transfer permanen, untuk memecah kebuntuan.
Dari perspektif sepak bola Indonesia, saga transfer ini menarik dicermati sebagai contoh betapa pentingnya kesesuaian taktik dan kondisi fisik pemain dalam menentukan nilai jual. Klub-klub Eropa kini semakin selektif, tidak hanya melihat statistik, tetapi juga rekam medis dan adaptasi taktik. Bagi pemain Asia seperti Dovbyk, tekanan untuk membuktikan diri di liga top Eropa semakin besar. Jika transfer ini gagal, bukan tidak mungkin Dovbyk harus bertahan di Roma dengan peran yang semakin terpinggirkan, atau mencari pelabuhan baru di luar Turki.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah: apakah Trabzonspor berani mengambil risiko dengan cedera Dovbyk, atau justru Roma yang terpaksa menurunkan harga jual demi mendanai perburuan Greenwood? Jawabannya akan menentukan arah bursa transfer musim panas ini, tidak hanya bagi kedua klub, tetapi juga bagi persaingan di Liga Super Turki dan Serie A.



