Martín Demichelis: Dari Sahabat Messi ke Kursi Panas RB Leipzig
Baca dalam 60 detik
- RB Leipzig menunjuk Martín Demichelis sebagai pelatih kepala untuk musim 2026/27, menggantikan pelatih sebelumnya.
- Mantan bek Bayern Munich dan Manchester City itu membawa pengalaman juara di tiga negara serta filosofi permainan dominan ala Guardiola.
- Kedekatannya dengan Lionel Messi dan perannya dalam memperpanjang karier sang megabintang menambah daya tarik kisahnya.

RB Leipzig resmi menunjuk Martín Demichelis sebagai pelatih kepala untuk musim 2026/27, membawa pulang seorang putra Argentina yang telah lama malang melintang di Eropa. Sosok berusia 45 tahun ini bukan nama asing di Bundesliga: ia menghabiskan tujuh musim sebagai pemain Bayern Munich, meraih empat gelar liga, dan kini kembali dengan ambisi membangun era baru di klub yang dikenal agresif di bursa pelatih.
Karier Demichelis dimulai di River Plate, tempat ia melakukan debut tim utama pada 2001 sebelum pindah ke Bayern pada 2003. Meski musim perdananya terganggu cedera, ia kemudian menjadi pilar di lini belakang atau gelandang bertahan. Bersama Bayern, ia mengoleksi empat trofi Bundesliga dan empat DFB-Pokal, mencetak 15 gol dalam 252 pertandingan. Setelah hengkang pada 2010, ia melanjutkan petualangan di Málaga, Atlético Madrid, dan Manchester City, di mana ia menjuarai Premier League 2014. Di level internasional, ia mengoleksi 51 caps bersama Argentina dan menjadi bagian tim yang kalah di final Piala Dunia 2014 dari Jerman.
Setelah gantung sepatu pada 2017, Demichelis memulai karier kepelatihan sebagai asisten di Málaga, lalu menjadi duta global Bayern sebelum menangani tim U-19 dan tim cadangan klub tersebut. Pada 2022, ia mengambil alih River Plate menggantikan Marcelo Gallardo dan langsung mempersembahkan gelar liga serta dua piala domestik di musim perdananya. Pengalaman di Monterrey (Meksiko) dan Mallorca (Spanyol) melengkapi portofolionya sebelum Leipzig mengontraknya.
Demichelis dikenal sebagai pengagum Manuel Pellegrini, yang membimbingnya di River Plate, Málaga, dan Manchester City. Ia menyebut Pellegrini sebagai pelatih favoritnya. “Filosofinya selalu mirip dengan Pep Guardiola, selalu ingin kami dominan,” ujarnya kepada Sport1 pada 2020. Pengalaman di Bayern juga membentuk karakternya: dari Felix Magath ia belajar disiplin, dari Ottmar Hitzfeld ketenangan memimpin tim, dan dari Louis van Gaal pentingnya penguasaan bola. “Selama 18 bulan bersamanya, tidak pernah ada latihan tanpa bola. Saya sangat menyukai filosofi itu,” tambahnya.
Salah satu sisi menarik dari Demichelis adalah persahabatannya dengan Lionel Messi. Ia menghadiri pernikahan Messi pada 2017 dan bahkan berperan dalam memperpanjang karier sang megabintang. “Saya merekomendasikan ahli gizi Giuliano Poser kepada Messi karena ia sering muntah dan diare,” ungkap Demichelis kepada Tribuna. “Sulit menasihati seseorang dengan begitu banyak bakat untuk mengubah kebiasaan makan, tetapi kehebatan Leo juga terletak pada keterbukaannya untuk berevolusi.”
Direktur olahraga Leipzig, Marcel Schäfer, memuji Demichelis sebagai pribadi yang menggabungkan filosofi permainan jelas dengan intensitas tinggi dan keahlian profesional. “Kami yakin ia akan memberikan dorongan penting bagi tim dan berperan kunci dalam kesuksesan klub ke depan,” katanya. Gelandang Mallorca, Sergi Darder, menambahkan, “Dia punya otoritas untuk mengatakan, ‘Saya yang memimpin di sini’.”
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, penunjukan Demichelis menarik karena menunjukkan bagaimana pelatih dengan latar belakang pemain top Eropa kini merambah klub-klub ambisius seperti Leipzig. Gaya permainan yang mengedepankan penguasaan bola dan pressing tinggi bisa menjadi referensi bagi pelatih lokal yang ingin mengadopsi taktik modern. Pertanyaan besarnya: mampukah Demichelis membawa Leipzig bersaing di level tertinggi Bundesliga dan Eropa, atau ia hanya akan menjadi satu lagi nama dalam daftar panjang pelatih yang gagal memenuhi ekspektasi?



