VAR di Piala Dunia Lebih Cepat dan Minim Kontroversi, Premier League Justru Sebaliknya
Baca dalam 60 detik
- VAR di Piala Dunia 2026 hanya melakukan 0,33 intervensi per pertandingan, lebih rendah dari Qatar 2022 (0,41) dan mendekati Premier League (0,29).
- FIFA menekankan kecepatan keputusan dan ambang pelanggaran yang lebih tinggi, sehingga VAR jarang digunakan untuk insiden marginal.
- Perbedaan persepsi publik antara Piala Dunia dan Premier League dipengaruhi oleh frekuensi tayangan ulang dan analisis media yang lebih intens di liga Inggris.

VAR di Piala Dunia 2026 justru lebih jarang campur tangan dibandingkan Premier League, namun para penggemar justru merasa sebaliknya. Empat gol telah dianulir melalui tinjauan video, tetapi jumlah intervensi per pertandingan justru menurun drastis dibanding edisi sebelumnya.
Data menunjukkan bahwa VAR di Piala Dunia saat ini hanya turun tangan 0,33 kali per laga, lebih rendah dari 0,41 di Qatar 2022 dan mendekati rekor Premier League musim lalu yang hanya 0,29. Angka ini kontras dengan persepsi publik yang menganggap VAR di Inggris lebih mengganggu. Pierluigi Collina, kepala wasit FIFA, menerapkan filosofi bahwa sepak bola adalah olahraga kontak dan tidak semua benturan adalah pelanggaran. Akibatnya, jumlah pelanggaran per pertandingan turun dari 27 (2018) menjadi 21,7, sejajar dengan Premier League (21,6).
Collina juga mengurangi jumlah kartu kuning menjadi rata-rata 2,4 per laga, jauh di bawah turnamen besar lainnya. "Jika Anda membiarkan lebih banyak tekel di lapangan, Anda harus mengurangi intervensi VAR. Kedua batas harus bergerak seirama," ujar Collina. Contoh nyata adalah penolakan penalti untuk Skotlandia saat melawan Maroko—insiden yang dianggap terlalu lunak untuk standar yang diterapkan.
Kecepatan menjadi faktor kunci. FIFA mendorong VAR untuk membuat keputusan cepat dan tegas, tanpa analisis berlebihan. Sebaliknya, Premier League sering terjebak dalam penundaan akibat pengulangan tayangan. Teknologi semi-automated offside FIFA juga membantu—asisten wasit mendapat peringatan audio saat pemain offside 10 cm atau lebih, sehingga pengibaran bendera tertunda hampir hilang. Meski belum sempurna, teknologi ini memangkas waktu review secara signifikan.
Perbedaan cara penyajian tayangan juga memengaruhi persepsi. Di Piala Dunia, penyelenggara membatasi tayangan ulang insiden kontroversial maksimal dua kali saat VAR bekerja. Penonton hanya melihat layar VAR jika wasit benar-benar menuju monitor. Sebaliknya, di Premier League, stasiun televisi seperti Sky Sports dan TNT Sports justru memutar ulang dari berbagai sudut, diperlambat, dan dianalisis oleh pandit. "Penyelenggara turnamen ingin menampilkan lebih sedikit kontroversi, sementara pemegang hak siar justru ingin menonjolkannya," tulis analis BBC.
Bagi penggemar sepak bola Indonesia yang mengikuti kedua kompetisi, temuan ini memberikan perspektif baru. Premier League sering dianggap sebagai liga dengan VAR paling buruk, padahal angka intervensinya justru paling rendah di Eropa. Sementara itu, Piala Dunia yang terasa lebih "bersih" secara VAR sebenarnya memiliki frekuensi intervensi yang hampir sama. Perbedaan utama terletak pada kecepatan dan cara penyajian—bukan pada jumlah keputusan yang diambil.
Ke depannya, Premier League mungkin perlu meniru pendekatan FIFA: mempercepat proses review dan membatasi tayangan ulang yang berlebihan. Namun, dengan 380 pertandingan per musim dan tekanan komersial dari penyiar, tantangan untuk menyamai ketenangan Piala Dunia tampaknya masih jauh. Apakah para pemangku kepentingan di Inggris bersedia mengorbankan tontonan demi konsistensi?



